قال الإمام شيخ الإسلام التقي السبكي رحمه الله تعالى ورضي عنه:
'والعَارِفُ بهذِهِ العُلُومِ لا يَحتاجُ إِلى أُصُولِ الفِقْهِ في شَيءٍ من ذلِكَ، وغَيْرُ العَارِفِ بها لا تُغْنِيهِ أُصُولِ الفِقْهِ في الإِحاطَةِ بها، فَلَمْ يَبْقَ من أُصولِ الفِقْهِ إلّا الكَلامُ في الإِجماعِ، والقِياسِ، والتَّعارُضِ، والإِجتِهادِ، وبعضُ الكلامِ في الإجماعِ من أُصولِ الدِّينِ أيضًا، وبعضُ الكلامِ في القياسِ والَّتعارُضِ ممَّا يَستَقِلُّ به الفَقِيهُ، فصارَتْ فائدَةُ أُصولِ الفقهِ بالذّاتِ قليلةً جِدًّا، بحيثُ لو جُرِّدَ الذي يَنفرِدُ به ما كانَ إلّا شيئًا يَسيرًا؟
قلْتُ: ليسَ كذلكَ، فإنَّ الأُصوليِّينَ دَقَّقوا في فَهمِ أشياءَ من كلامِ العَرَبِ لم يصِلْ إليها النُّحاةُ ولا اللُّغويُّونَ، فإنَّ كلامَ العَرَبِ مُتَّسِعٌ جدًّا، والنَّظَرُ فيهِ مُتَشَعِّبٌ، فكُتُبُ اللُّغةِ تَضبِطُ الأَلفاظَ ومعانيَها الظّاهرةَ، دُونَ المعاني الدَّقيقةِ التي تحتاجُ إلى نَظَرِ الأُصوليِّ، واستِقراءٍ زائدٍ على استِقراءِ اللُّغويِّ.
مثالُهُ: دَلالةُ صِيغةِ «افْعَلْ» على الوجُوبِ، و«لا تفْعَلْ» على التَّحريمِ، وكونُ: «كُلّ» وأخَواتِها للعمُومِ، وما أشْبَهَ ذلكَ ممَّا ذَكَرَ السّائِلُ أنَّهُ من اللُّغةِ، لو فَتَّشْتَ كُتُبَ اللُّغةِ لم تَجِدْ فيها شِفاءً في ذلكَ، ولا تعَرُّضًا لِما ذَكَرَهُ الأُصوليُّونَ.
وكذلكَ كُتُبُ النَّحوِ لو طلَبْتَ معنَى الاستِثناءِ، وأنَّ الإخراجَ هل هو قبلَ الحُكمِ أو بعدَ الحُكمِ؟ ونحوُ ذلكَ من الدَّقائِقِ التي تعَرَّضَ لها الأُصوليُّونَ، وأخَذوها باسْتِقراءٍ خاصٍّ من كلامِ العَرَبِ، وأدِلّةٍ خاصّةٍ لا تَقتَضيها صِناعةُ النَّحوِ، فهذا ونحوُهُ ممَّا تكَفَّلَ بهِ أصولُ الفِقهِ، ولا نُنْكِرُ أنَّ لهُ استِمدادًا من تلكَ العُلومِ، ولكنّ تلكَ الأشياءَ التي استَمَدَّها منها لم تُذْكَرْ فيهِ بالذّاتِ بل بالعَرَضِ، والمذكورُ فيهِ بالذّاتِ ما أشرْنا إليهِ ممّا لا يُوجَدُ إلّا فيهِ، ولا يَصِلُ إلى فَهمِها إلّا مَنْ تكَفَّلَ بهِ.'
Terjemahan:
Imam Syaikhul Islam At-Taqi As-Subki rahimahullah wa radhiyallahu 'anhu berkata:
(Seseorang bertanya/berpendapat):
"Orang yang menguasai ilmu-ilmu tersebut (ilmu bahasa) tidak membutuhkan Ushul Fiqih sedikit pun dalam hal tersebut. Sebaliknya, orang yang tidak menguasainya tidak akan terbantu oleh Ushul Fiqih untuk bisa memahaminya secara menyeluruh. Dengan demikian, tidak ada yang tersisa dari Ushul Fiqih selain pembahasan tentang Ijma' (kesepakatan), Qiyas (analogi), Ta'arudh (pertentangan dalil), dan Ijtihad. Padahal, sebagian pembahasan Ijma' juga termasuk dalam Ushuluddin (akidah), sedangkan sebagian pembahasan Qiyas dan Ta'arudh merupakan hal yang dikuasai secara mandiri oleh seorang ahli fikih (Fuqaha). Maka, manfaat Ushul Fiqih secara mandiri (biz-dzat) menjadi sangat sedikit, sehingga jika materi khusus milik Ushul Fiqih itu ditanggalkan/dipisahkan, jumlahnya hanya tinggal sedikit saja?"
(Imam As-Subki menjawab):
"Aku katakan: Tidaklah demikian. Sebab para ahli ushul (Ushuliyyun) telah meneliti secara mendalam pemahaman terhadap berbagai hal dari bahasa Arab yang tidak terjangkau oleh para ahli nahwu maupun ahli bahasa (Lughawiyyun). Bahasa Arab itu sangat luas dan cakupan penelitiannya bercabang-cabang. Kitab-kitab bahasa hanya membakukan kata-kata dan makna lahiriahnya saja, bukan makna-makna mendalam (daqiq) yang membutuhkan sudut pandang ahli ushul serta penalaran (istiqra') tambahan di luar penalaran ahli bahasa.
Contohnya: Penunjukan (dalalah) bentuk kata kerja perintah (fi'il amar: "Kerjakanlah!") kepada hukum wajib, bentuk larangan ("Jangan kerjakan!") kepada hukum haram, serta kata "setiap/semua" (kull) dan saudaranya yang menunjukkan cakupan umum (umum), serta hal-hal serupa yang disebutkan penanya sebagai bagian dari ilmu bahasa—jika engkau memeriksa kitab-kitab bahasa, engkau tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan mengenai hal tersebut, tidak pula pembahasan sebagaimana yang dibahas oleh para ahli ushul.
Demikian pula dalam kitab-kitab nahwu, jika engkau mencari makna Istitsna' (pengecualian), dan apakah pengeluaran (al-ikhraj) itu terjadi sebelum penetapan hukum atau setelahnya? Serta rincian mendalam lainnya yang dibahas oleh para ahli ushul, di mana mereka mengambilnya melalui penalaran khusus dari bahasa Arab dan dalil-dalil khusus yang tidak dituntut dalam disiplin ilmu nahwu. Hal inilah dan yang sejenisnya yang ditanggung pembahasannya oleh ilmu Ushul Fiqih.
Kami tidak menampik bahwa Ushul Fiqih mengambil faedah/sumber (istimdad) dari ilmu-ilmu tersebut. Namun, hal-hal yang diambilnya itu tidak disebutkan di dalam Ushul Fiqih sebagai inti pembahasan (biz-dzat), melainkan sebagai pelengkap (bil-'aradh). Sedangkan apa yang disebutkan di dalamnya sebagai inti pembahasan adalah hal-hal yang telah kami isyaratkan tadi—yang tidak ditemukan kecuali di dalam ilmu Ushul Fiqih, dan tidak akan sampai pada pemahamannya kecuali orang yang mempelajari ilmu tersebut."
https://www.facebook.com/share/p/1CHafZhsFK/