Senin, 24 Agustus 2026

Sifat-Sifat Golongan yang Selamat (Al-Firqah An-Najiyah) dan Kelompok yang Tertolong (At-Tha'ifah Al-Manshurah)

Sifat-Sifat Golongan yang Selamat (Al-Firqah An-Najiyah) dan Kelompok yang Tertolong (At-Tha'ifah Al-Manshurah)

Halaman 377

​Dari teks-teks tersebut telah jelas: keutamaan orang yang berpegang teguh pada Sunnah, yaitu orang yang berkata: "Tuhanku adalah Allah," kemudian ia istikamah (tetap teguh dan kokoh). Namun, siapakah orang-orang asing (al-ghuraba') yang memperbaiki ketika manusia telah rusak? Mereka inilah yang berhak mendapatkan pujian yang harum dari Nabi petunjuk ﷺ, pujian yang melintasi zaman, melambungkan mereka di atas bintang Suraya, meskipun mereka adalah orang-orang yang miskin, kekurangan, dan lemah.

​Lantas, siapakah Al-Firqah An-Najiyah dan At-Tha'ifah Al-Manshurah itu?

Apa yang dimaksud dengan keunggulan dan kemenangan mereka atas manusia?

Apa jenis kemenangan dan keunggulan ini? Dan bagaimana mungkin orang yang memusuhi atau menyelisihi mereka tidak dapat memudaratkan (membahayakan) mereka?

​Sesungguhnya orang-orang yang mendapat kabar gembira dan dimaksudkan di sini adalah para pemilik akidah Salafiyyah yang sahih. Mereka adalah orang-orang yang meyakini apa yang diyakini oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, berupa tauhid yang bersih dari syirik, iman yang tidak tercampur keraguan, serta berjalan di atas Sunnah yang tidak terancam bidah. Mereka adalah orang-orang yang meyakini keesaan Allah dan keesaan-Nya dalam kesempurnaan-kesempurnaan yang tidak diserupai oleh...

[Halaman 378]

​...seorang pun, baik pada nama-nama-Nya yang terindah (Al-Asma'ul Husna) maupun sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi. Mereka menetapkannya bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya sebagaimana Dia menyifati diri-Nya sendiri dan sebagaimana disifati oleh Rasul-Nya ﷺ, seraya meyakini bahwa kesamaan dalam nama tidak memustahikan/meniscayakan kesamaan dalam hakikat sebenarnya.

​Mereka meyakini keesaan Allah dan ketunggalan-Nya dalam uluhiyyah (hak disembah). Maka, mereka mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya melalui doa, rasa takut, harapan, keinginan, kekhusyukan, rasa takut/gentar, dan selain itu. Mereka juga mengamalkan kaidah syariat dalam hal Al-Wala' (loyalitas) dan Al-Bara' (berlepas diri).

​Mereka meyakini kewajiban membenci kaum kafir penganut agama lain, serta kaum musyrikin yang menganut khurafat dari kalangan orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam tetapi berdoa kepada para penghuni kubur (ash-habul adhrihah) dan meminta pertolongan kepada mereka dalam kesulitan, seraya meyakini bahwa para penghuni kubur itu mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan duka, dan mengabulkan hajat.

​Mereka juga meyakini bahwa barang siapa yang meyakini bahwa mereka berada di atas syariat Islam bersama dengan akidah (khurafat) ini, maka ia adalah kafir seperti mereka, meskipun ia shalat, berpuasa, dan mengaku sebagai seorang muslim.

​Mereka meyakini kewajiban meneladani Nabi ﷺ, serta wajibnya ketaatan bagi setiap muslim terhadap beliau dalam apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan cegah, membenarkan apa yang beliau kabarkan, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang beliau syariatkan.

​Dan bahwasanya tidak ada kebebasan dari dosa ('ishmah) bagi seorang pun selain beliau, serta perkataan maupun hukum seseorang tidak boleh dipertentangkan dengan perkataan dan hukum beliau.

​Dan bahwasanya tidak ada jalan menuju surga kecuali melalui jalan beliau.

Dan bahwasanya Allah tidak akan menerima amalan dari seorang pun kecuali jika amalan tersebut sesuai dengan syariat-Nya.

Dan bahwasanya beliau —semoga shalawat Allah dan salam-Nya tercurah kepadanya— adalah penutup para rasul, tidak ada nabi setelahnya.

Dan bahwasanya beliau adalah pemilik Syafaat yang Agung (Al-Uzhma), Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan yang terpuji), dan Al-Haudh Al-Maurud (telaga yang didatangi) di akhirat. Beliau memiliki mukjizat-mukjizat, dan mukjizat yang paling agung adalah Al-Qur'an.

Mereka meyakini bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah, diturunkan, dan bukan makhluk.

Dan bahwasanya Allah akan dilihat di akhirat; kaum mukminin akan melihat-Nya di surga sebagaimana mereka melihat bulan pada malam purnama, mereka berbicara kepada-Nya dan Dia pun berbicara kepada mereka.

Dan bahwasanya tidak ada keekalan di dalam neraka bagi pelaku dosa besar jika ia meninggal di atas Islam dan Tauhid.

Dan bahwasanya para pelaku dosa besar berada di bawah kehendak (masyi'ah) Allah: di antara mereka ada yang diampuni oleh Allah tanpa azab, dan di antara mereka ada yang diadzab di neraka selama beberapa waktu, kemudian Allah mengeluarkan mereka darinya melalui syafaat para pemberi syafaat atau dengan rahmat dari Dzat yang Paling Penyayang, lalu memasukkan mereka ke dalam surga.

Mereka meyakini bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ semuanya adil/terpercaya (`adil), dan yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Kemudian sisa dari Sepuluh Orang yang Diberi Kabar Gembira Masuk Surga, kemudian ahli Badar, kemudian ahli Bai'atur Ridwan, kemudian orang-orang yang masuk Islam sebelum Pembebasan Makkah (Fathu Makkah) dan berhijrah, lalu orang-orang yang masuk Islam setelah Pembebasan Makkah.

Sekaligus mereka mencintai Ahlulbait (keluarga) Rasulullah ﷺ, dan mereka tidak meyakini pada seorang pun dari Ahlulbait...

[Halaman 380]

...adanya sifat kebebasan dari dosa ('ishmah). Bahkan mereka meyakini bahwa di antara Ahlulbait ada yang taat, ada yang maksiat, ada yang baik, dan ada pula yang jahat, sebagaimana keadaan orang selain mereka. Hanya saja, mereka yang taat di antara Ahlulbait memiliki hak kerabat dari Rasulullah ﷺ dan hak Islam.

Dan bahwasanya Al-Firqah An-Najiyah adalah At-Tha'ifah Al-Manshurah, dan mereka itulah Al-Ghuraba' (orang-orang asing), yaitu orang-orang yang terasing dari suku-suku/kelompok mereka. Dikatakan sebagai "orang-orang asing" karena jumlah mereka yang sedikit dan perbedaan mereka dengan keadaan penganut zaman mereka, serta keberadaan mereka di tengah kerusakan dan keburukan, namun mereka tetap mengikuti syariat di tengah kerumunan massa yang rusak.(1)

(Catatan Kaki 1):

Yang benar adalah bahwa At-Tha'ifah Al-Manshurah adalah Al-Firqah An-Najiyah, dan mereka adalah Al-Ghuraba', serta An-Nuzzā' min al-qabā'il (orang-orang terasing dari suku-suku). Ini semua adalah sebutan bagi satu kelompok yang sama; mereka adalah Ahlul Hadits dan orang-orang yang meyakini akidah mereka. Akidah ini telah dijelaskan sebagian ringkasannya secara umum, dan dijelaskan secara rinci dalam kitab-kitab khusus tentangnya. Mereka adalah para pengikut atsar (riwayat) sebagaimana ditegaskan oleh para ulama dan imam petunjuk.

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Ma'rifah 'Ulum Al-Hadits dari Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa beliau ditanya tentang makna hadits ini: "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tertolong, tidak akan memudaratkan mereka orang yang menelantarkan mereka hingga terjadi hari kiamat." Maka beliau (Ahmad) berkata: "Jika kelompok yang tertolong ini bukan Ash-habul Hadits (para ahli hadits), maka aku tidak tahu lagi siapa mereka?!"

Dan Abu Abdillah berkata: "Mengenai perkataan seperti ini: Barang siapa yang mengutamakan Sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka ia telah berbicara dengan kebenaran."

Maka alangkah indahnya penafsiran Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terhadap kabar ini, bahwa At-Tha'ifah Al-Manshurah yang menolak kehinaan hingga hari kiamat adalah Ash-habul Hadits. Mereka adalah orang-orang yang paling berhak dengan penafsiran ini dari kelompok yang menempuh jalan orang-orang saleh, mengikuti jejak Salaf dari generasi terdahulu, dan menghancurkan para pelaku bidah yang menyelisih ajaran Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya...

Sambungan Catatan Kaki 1 dari Halaman 380 ke Halaman 381]

= ...mendampingi para ulama yang membawa riwayat. Beliau menyampaikan sanadnya sampai kepada Hafsh bin Ghiyats bahwa dikatakan kepadanya: "Tidakkah engkau melihat kepada para ahli hadits dan keadaan mereka?" Beliau menjawab: "Merekalah sebaik-baik penganut dunia." Dan sampai kepada Abu Bakar bin Ghiyats bahwasanya ia berkata: "Sesungguhnya aku sungguh berharap bahwa para ahli hadits adalah sebaik-baik manusia."

Kemudian Al-Hakim berkata: "Dan sungguh keduanya telah berkata benar secara mutlak bahwa para ahli hadits adalah sebaik-baik manusia. Bagaimana mungkin mereka tidak menjadi demikian, padahal mereka telah mencampakkan dunia di belakang punggung mereka secara keseluruhan, menjadikan makanan mereka adalah menulis (hadits), racun/obat mereka adalah membandingkan riwayat, istirahat mereka adalah diskusi ilmiah, tinta adalah wewangian mereka, akal pikiran mereka dipenuhi kelezatan Sunnah, hati mereka ridha dalam segala kondisi, pembelajaran Sunnah adalah kebahagiaan mereka, dan majelis-majelis ilmu adalah kuburan (tempat menetap) mereka. Seluruh pengikut Sunnah adalah saudara mereka, sedangkan seluruh pelaku bidah adalah musuh mereka."

Aku mendengar Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Hantzhali di Baghdad berkata: Aku mendengar Abu Ismail Muhammad bin Ismail Al-Tirmidzi berkata: Aku dan Ahmad bin Al-Hasan Al-Tirmidzi berada di dekat Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, lalu Ahmad bin Al-Hasan berkata kepadanya: "Wahai Abu Abdillah, mereka menyebut-nyebut Ibn Abi Qatilah di Makkah di hadapan para ahli hadits, lalu ia berkata: 'Para ahli hadits adalah kaum yang buruk!'" Maka Abu Abdillah (Imam Ahmad) berdiri seraya mengibaskan pakaiannya dan berkata: "Zindiq, zindiq, zindiq!" Lalu ia masuk ke dalam rumah.

Kemudian beliau menyadarkan sanadnya sampai kepada Ahmad bin Sinan Al-Qatthan bahwa ia berkata: "Tidak ada seorang pun pelaku bidah di dunia ini melainkan ia membenci ahli hadits. Dan apabila seseorang melakukan bidah, dicabutlah kemanisan hadits dari hatinya."

Abu Abdillah berkata: "Berdasarkan hal ini, janji kita di perjalanan dan di tanah air kita adalah bahwa setiap orang yang menisbatkan diri kepada jenis penyimpangan (ilhad) dan bidah tidak akan memandang kepada At-Tha'ifah Al-Manshurah melainkan dengan pandangan hina, dan mereka menjulukinya sebagai Hashwiyyah (kelompok dangkal/rendah)." Selesai. Dengan perantara kitab: Ahlul Hadits Hum At-Tha'ifah Al-Manshurah karya Syaikh Rabi' Al-Madkhali (hal. 99-101).

[Teks Utama Halaman 381]

Dan sungguh telah jelas dari hal ini bahwasanya Al-Firqah An-Najiyah, At-Tha'ifah Al-Manshurah, dan Al-Ghuraba' yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak, serta orang-orang yang terasing dari suku-suku mereka, merekalah Ahlul Hadits. Merekalah para pembawa Sunnah, pengikut atsar (riwayat), pengamal Sunnah, pembela Sunnah, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmunya, menyebarkannya siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, baik lewat perkataan maupun perbuatan. Dan barang siapa yang mengikuti mereka di atas akidah mereka, menempuh jalan mereka dalam akidah dan amalan, maka ia bagian dari mereka, dan jalannya adalah jalan mereka, meskipun tingkatan/derajatnya berada di bawah mereka.

Maka jadilah bagian dari mereka wahai hamba Allah, niscaya engkau akan selamat, bahagia, dan meraih tempat duduk/kedudukan terbaik di surga:

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa." (QS. Al-Qamar: 54-55)

 Diambil dari Buku: Al-Mawrid Al-'Azb Al-Zulal fi ma Untuqida 'ala Ba'dh Al-Manahij Ad-Da'wiyyah min Al-'Aqa'id wa Al-A'mal Karya Al-'Allamah Asy-Syaikh: Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah