Senin, 24 Agustus 2026

Kisah Al-Ashma‘i dan Si Penjual Kelontong

Kisah Al-Ashma‘i dan Si Penjual Kelontong

Al-Ashma‘i berkata,
“Dahulu aku berada di Bashrah untuk menuntut ilmu, sementara aku hidup dalam keadaan miskin.
Di depan gang tempat tinggalku ada seorang penjual kelontong. Setiap kali aku keluar pagi-pagi, ia bertanya kepadaku,
"Mau ke mana?"
Aku menjawab, ""Ke tempat si Fulan, seorang ahli hadis."
Ketika aku pulang pada sore hari, ia kembali bertanya:
""Dari mana?"
Aku menjawab, ‘Dari tempat si Fulan, seorang ahli sejarah atau ahli bahasa.’

Maka si penjual itu berkata kepadaku,
" Wahai anak muda, dengarkan nasihatku! Engkau masih muda. Jangan sia-siakan dirimu dalam kesia-siaan seperti ini. Carilah pekerjaan yang menghasilkan manfaat bagimu. Berikan kepadaku semua buku yang engkau miliki, biar kubakar semuanya. Demi Allah, seandainya engkau meminta kepadaku satu wortel sebagai imbalan atas semua bukumu itu, niscaya aku pun tidak akan memberikannya!’

Karena aku sudah merasa sesak dengan perkataannya yang terus-menerus itu, akhirnya aku mulai keluar dari rumah pada malam hari dan pulang juga pada malam hari, agar tidak bertemu dengannya.

Sementara itu, keadaan ekonomiku semakin sulit, sampai-sampai aku terpaksa menjual sebagian pakaianku. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mendapatkan biaya untuk makan sehari-hari.
Rambutku memanjang, pakaianku menjadi lusuh, dan tubuhku pun kotor. Dalam keadaan seperti itu, ketika aku kebingungan memikirkan nasibku, tiba-tiba datang seorang pelayan milik Amir Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi.
Ia berkata,
"Penuhi panggilan Amir!’
Aku menjawab:
‘Apa yang mungkin dilakukan Amir terhadap seseorang yang kemiskinannya telah membawanya kepada keadaan seperti yang kalian lihat ini?’
Ketika pelayan itu melihat buruknya keadaanku dan betapa buruk penampilanku, ia kembali dan menceritakan keadaanku kepada Muhammad bin Sulaiman.
Kemudian ia kembali kepadaku dengan membawa beberapa peti pakaian, sebuah wadah berisi wewangian/bukhur, dan sebuah kantong berisi seribu dinar.
Ia berkata:
‘Amir memerintahkanku untuk membawamu ke pemandian, memandikanmu, mengenakan pakaian-pakaian ini kepadamu, dan meninggalkan sisanya untukmu. Aku juga diperintahkan memberimu makanan dan mengharumimu dengan wewangian agar semangatmu kembali. Setelah itu aku harus membawamu menghadap Amir.’

Aku sangat gembira dan mendoakan kebaikan untuknya. Aku pun melakukan semua yang diperintahkannya.
Setelah itu aku pergi bersamanya hingga menghadap Muhammad bin Sulaiman.
Ketika aku mengucapkan salam kepadanya, ia mendekatiku, mengangkat kedudukanku, lalu berkata," Wahai Abdul Malik, aku telah mendengar tentangmu. Aku memilihmu untuk mendidik putra Amirul Mukminin. Bersiaplah untuk berangkat ke Baghdad."
Aku berterima kasih kepadanya dan mendoakan kebaikan untuknya.
Aku berkata," Saya siap menaati perintah. Saya akan mengambil beberapa buku yang saya perlukan, lalu besok saya berangkat."

Aku pun kembali ke rumah, mengambil buku-buku yang kubutuhkan, sedangkan buku-buku lainnya kusimpan di sebuah kamar yang kemudian kukunci. Aku juga meminta seorang wanita tua dari keluargaku untuk tinggal di rumah dan menjaganya.
Ketika aku sampai di Baghdad, aku menghadap Amirul Mukminin, Harun ar-Rasyid.
Ia berkata kepadaku," Engkau Abdul Malik al-Ashma‘i?"
Aku menjawab,
‘Ya, saya Abdul Malik al-Ashma‘i, wahai Amirul Mukminin.’
Ia berkata," Ketahuilah, seorang anak adalah buah hati ayahnya. Dan sekarang aku menyerahkan putraku kepadamu sebagai amanah dari Allah. Jangan ajarkan kepadanya sesuatu yang dapat merusak agamanya. Barangkali kelak ia menjadi seorang imam bagi kaum Muslimin.’
Aku menjawab:
‘Saya dengar dan saya taat.’

Kemudian putranya diserahkan kepadaku. Aku ditempatkan bersamanya di sebuah rumah yang telah disiapkan khusus untuk mendidiknya. Setiap bulan aku diberi gaji sepuluh ribu dirham.
Aku tinggal bersamanya sampai ia mampu membaca Al-Qur'an, memahami fikih dan agama, meriwayatkan syair dan menguasai bahasa Arab, serta mengetahui sejarah dan berbagai kisah bangsa-bangsa terdahulu. Kemudian Harun ar-Rasyid mengujinya. Ia sangat kagum dengan kemampuan anak tersebut. Ia berkata,
‘Aku ingin dia menjadi imam shalat Jumat dan memimpin orang-orang dalam shalat.’
Maka ia memintaku memilihkan sebuah khutbah untuknya dan menghafalkannya. Aku pun mengajarinya sepuluh khutbah.

Pada hari Jumat, ia keluar dan memimpin shalat Jumat sementara aku mendampinginya. Harun ar-Rasyid semakin kagum kepadanya.

Setelah itu, berbagai hadiah dan pemberian datang kepadaku dari segala penjuru.
Aku berhasil mengumpulkan kekayaan yang sangat besar. Dengan harta itu aku membeli rumah-rumah, tanah pertanian, dan berbagai properti. Aku juga membangun sebuah rumah untuk diriku sendiri di Bashrah.
Setelah rumahku selesai dibangun dan tanah serta hartaku semakin banyak, aku meminta izin kepada Harun ar-Rasyid untuk kembali ke Bashrah. Ia pun mengizinkanku.
Ketika aku tiba di Bashrah, penduduknya berdatangan kepadaku untuk memberikan penghormatan. Berita tentang kekayaan dan keberuntunganku telah tersebar di antara mereka.

Aku memperhatikan orang-orang yang datang. Ternyata di antara mereka ada si penjual kelontong itu!
Ia masih mengenakan sorban yang kotor dan jubah yang pendek.
Ketika melihatku, ia berteriak:
‘Abdul Malik!’
Aku tertawa melihat kebodohannya dan caranya memanggilku dengan nama biasa, padahal dahulu Harun ar-Rasyid memanggilku dengan penuh penghormatan.
Kemudian aku berkata kepadanya:
‘Wahai orang ini, demi Allah, ternyata buku-buku yang dahulu engkau anggap tidak berharga itu telah mendatangkan kepadaku sesuatu yang jauh lebih baik daripada sebuah wortel!’ 😂
 
#Copas

Noted:
Jika saat ini kita melihat kondisi sosial ekonomi para para Ustadz itu lbh baik drpd kehidupan kebanyakan dr kita ya wajarlah. Gak usah iri/hasad apalagi suudzon, blh jadi mereka dulu pernah mengalami hal² yg menyedihkan spt kisah diatas.
Al akh andik susilo hadi