HUKUM MENUTUP JALAN UNTUK ACARA HAJATAN
PERTANYAAN :
bagaimana hukumnya orang yang mengadakan hajatan atau acara apa saja, yang mana acara tersebut sampai menghambat atau menutup jalan umum.. Seperti pernikahan, tabligh akbar dan haul ?
JAWABAN :
boleh menutup jalan untuk hajatan pribadi atau umum dengan syarat ada jaminan keselamatan dan sudah mendapat izin dari pihak-pihak yang berwenang. Silahkan baca hasil Bahtsul Masaail berikut :
Deskripsi Masalah :
Banyak sekali dijumpai di warga kita bahwa dalam penyelenggaraan hajat-hajat tertentu seperti walimatul arsy dan lain sebagainya shohibul hajat menutup jalan raya secara mutlak (penuh) karena sempitnya halaman rumah yang dimiliki. Hal itu dilakukan tentunya setelah shohibul hajat terlebih dahulu izin kepada Dinas Pekerja Umum atau instansi terkait.
Pertanyaan :
Adakah pendapat ulama yang membolehkan menutup jalan sementara secara penuh untuk kepentingan umum atau hajat pribadi ? Bila tidak ada bagaiman solusinya ? (As’ilah dari MWC Jombang).
Jawaban :
Ada dengan syarat : Ada jaminan keselamatan dan Izin yang berwenang.
Referensi;
الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (6/ 4677)
وَلَهُ إِيْقَافُ الدَّوَابِ أَوْ السَّيَّارَاتِ أَوْ إِنْشَاءِ مَرْكَزٍ لِلْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ. وَلَا يُتَقَيَّدُ إِلَّا بِشَرْطَيْنِ (1):اَلْأَوَّلُ: السَّلَامَةُ، وَعَدَمُ الْإِضْرَارِ بِالْآخَرِيْنَ، إِذْ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ (2).الثَّانِيْ: اَلْإِذْنُ فِيْهِ مِنَ الْحَاكِمِ.
Terjemah :”Boleh seseorang memarkir kendaraan atau membuat stan di jalan dengan dua syarat:
1. Ada jaminan keselamatan
2. Mendapatkan ijin dari hakim (instansi yang berwenang).”
b. Pertanyaan gugur
Hasil Bahtsul Masail Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Jomabng
Di MWC NU Perak Jombang, Ahad, 19 Mei 2013 M / 09 Rajab 1434 H.
JAWABAN;
Diperbolehkan menutup Jalan umum utk hajatan sperti pernikahan, namun harus memenuhi 2 persyaratan/prosedur:
1. Memastikan ada sisa jalan/jalur alternatif bagi pengguna jalan lain.
2. Izin pada pihak berwenang seperti RT/RW, kelurahan/desa/kepolisian.
وَلَهُ إِيْقَافُ الدَّوَابِ أَوْ السَّيَّارَاتِ أَوْ إِنْشَاءِ مَرْكَزٍ لِلْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ. وَلَا يُتَقَيَّدُ إِلَّا بِشَرْطَيْنِ (١):اَلْأَوَّلُ: السَّلَامَةُ، وَعَدَمُ الْإِضْرَارِ بِالْآخَرِيْنَ، إِذْ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ (٢).الثَّانِيْ: اَلْإِذْنُ فِيْهِ مِنَ الْحَاكِمِ.
الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي (٤٦٧٧/٦)
1). HARAM Menurut Ahli Fikih
جاء في كتاب موسوعة الفقهية الكويتية :
ذَهَبَ الْفُقَهَاءُ إِلَى حُرْمَةِ التَّصَرُّفِ فِي الطَّرِيقِ النَّافِذَةِ وَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِالشَّارِعِ بِمَا يَضُرُّ الْمَارَّةَ فِي مُرُورِهِمْ، لِأَنَّ الْحَقَّ لِعَامَّةِ الْمُسْلِمِينَ، فَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يُضَارَّهُمْ فِي حَقِّهِمْ
Para ahli fikih berpendapat HARAM untuk berkegiatan di jalan terusan (yang disebut syari’ atau jalan raya) dengan kegiatan yang merugikan orang-orang yang melintas dalam perjalanan mereka, karena jalan itu hak umat Islam secara umum, maka seseorang tidak boleh mengambil hak mereka.
2). BOLEH Menurut Madzhab Imam Abu Hanifah Dan Imam Syafi'iy Walaupun Tanpa Izin Penguasa Setempat
Namun menurut hukum negara tetap harus ada perizinan.
وجاء في كتاب موسوعة الفقهية الكويتية :
وَيَجُوزُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ الْجُلُوسُ فِي الطَّرِيقِ النَّافِذَةِ لِلْمُعَامَلَةِ كَالْبَيْعِ وَالصِّنَاعَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ، وَإِنْ طَال عَهْدُهُ وَلَمْ يَأْذَنِ الإِمَامُ، كَمَا لاَ يَحْتَاجُ فِي الإِحْيَاءِ إِلَى إِذْنِهِ، لاِتِّفَاقِ النَّاسِ عَلَيْهِ فِي جَمِيعِ الْأَعْصَارِ
Boleh menurut mazhab Hanafi dan Syafii duduk di jalan umum untuk muamalah, seperti jual beli, membuat sesuatu, dan semacamnya meskipun berlangsung lama dan tidak diizinkan oleh penguasa, sebagaimana dalam menghidupkan tanah mati yang tidak butuh izin penguasa, karena orang-orang menyepakatinya di seluruh masa.
Sedangkan mazhab Maliki dan Hanbali membolehkan kegiatan muamalah dengan syarat tidak dilakukan dalam waktu yang lama. Jika kegiatan berlangsung lama, maka harus dihentikan atau pindah ke tempat lain.
Dalam kitab Hasyiyah Jamal ‘Ala Syarhi Minhaj disebutkan sebagai berikut:
نعم يغتفر ضرر يحتمل عادة كعجن طين إذا بقي مقدار المرور للناس وإلقاء الحجارة فيه للعمارة إذا تركت بقدر مدة نقلها وربط الدواب فيه بقدر حاجة النزول والركوب
Namun, DIMAAFKAN beberapa kemudharatan yang dianggap lumrah oleh masyarakat, seperti penggalian tanah yang berdekatan dengan jalan umum atau meletakkan batu pembangunan, selama masih menyisakan sebagian jalan untuk dilalui orang lain. Begitu juga dengan memarkir kendaraan di pinggir jalan untuk sekedar menaikan dan menurunkan penumpang.
Wollohu a'lam