Tanggapan Ulama Al-Azhar Terhadap Syaikh Al-Albani
Pada bulan Juni kemarin saya melihat postingan mengenai pujian guru besar kami (Dr. Ma'bad Abdul Karim) dalam bidang hadits yang sampai sekarang masih mengajar di Masjid Al-Azhar.
Pujian beliau pada Syaikh Al-Albani kurang lebih kalau diterjemahkan seperti ini:
"Telah menyebutkan Al-Allamah Doktor Ahmad Ma'bad Abdil Karim -semoga Allah meridhoinya- dan beliau adalah Syaikhnya para ahli hadits di Al-Azhar Asy-Syarif: Bahwasanya Syaikh Al-Albani -semoga Allah meridhoinya- dahulu sudah menshahihkan dan mendha'ifkan (hadits) 50 tahun sebelum ilmu sanad dan ilmu 'ilal masuk ke Al-Azhar Asy-Syarif. Dan ilmu ini baru masuk ke Al-Azhar melalui tangan Syaikh Ahmad Ath-Thayyib sejak 10 tahun saja. Adapun Al-Albani -semoga Allah meridhoinya- maka beliau adalah Imam dunia di zaman ini dalam ilmu As-Sunnah, dan semoga Allah mengabadikan penyebutannya di kalangan orang-orang shalih. Dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi orang-orang yang ikhlas, karena sebutan yang baik itu tidak Allah jadikan kecuali untuk orang-orang yang ikhlas... Dan akan terus ada sampai hari kiamat di seluruh penjuru timur dan barat bumi (ucapan): "Dishahihkan oleh Al-Albani, Didha'ifkan oleh Al-Albani, Dihasankan oleh Al-Albani" Semoga Allah meridhoi Syaikh Al-Albani."
Kemudian saya pribadi sebagai orang yang banyak membaca fatwa-fatwa Syaikh Al-Albani dan banyak tidak setuju dengan fatwa-fatwanya, sedikit kaget karena pujian itu muncul dari guru kami dalam bidang hadits. Akhirnya saya bertanya langsung kepada dosen saya dalam bidang hadits juga, karena mungkin kedekatan beliau dengan Dr. Ma'bad akan lebih erat daripada penulis status.
Saya bertanya ( via chat) untuk mengkonfirmasi apakah pujian itu betul dinisbatkan kepada Dr. Ma'bad? Dosen kami menjawab singkat: ya (betul).
Namun hal yang menarik yang selalu diucapkan oleh dosen kami dalam bidang ushul dan bidang kalam ketika kami mengkaji kitab Minhaj (Ushul Fiqih), beliau menyindir Syaikh Al-Albani dengan pandangan rasional menurut saya, dan pandangan ini saya sudah pernah postingkan sebelumnya. Beliau berkata:
Hadits-hadits yang disahihkan oleh Syaikh Albani tidak keluar dari empat kemungkinan berikut:
1. Beliau mensahihkan dan ulama terdahulu juga mensahihkan. Maka ini tidak memberikan faedah baru, karena termasuk tahshilul hasil.
2.Beliau mendaifkan dan ulama terdahulu juga mendaifkan. Ini pun sama, termasuk tahshilul hasil.
3. Beliau mendaifkan sementara ulama terdahulu mensahihkan. Maka dalam hal ini perlu dilakukan pemilihan (tarjih) siapa yang lebih kuat, dan secara rasional ulama terdahulu lebih diunggulkan.
4. Ulama terdahulu mendaifkan, sedangkan beliau mensahihkan. Ini bisa saja diterima, karena mungkin hadis yang sebelumnya dinilai daif naik menjadi hasan dengan adanya metode atau penguat dari hadis lain.
Jadi berdasarkan yang saya perhatikan, guru-guru kami di Al-Azhar dalam bidang hadits memang memuji beliau. Tapi dalam bidang lain maka saya belum pernah mendengar pujian terhadap Syaikh Al-Albani.
Hal yang mudah saya cerna tanggapan mereka bahwa: "Syaikh Al-Albani memang sah menjadi imam dalam bidang hadits pada masanya, tapi dalam bidang lain beliau harus jadi makmum, tidak boleh memaksakan terhadap bidang lain."
Dan ungkapan seperti itu sering dilontarkan oleh ulama-ulama dulu dalam bab kritik, misalkan para ulama sering mengatakan: shaikh fulan memang pemimpin dalam bidang hadits tapi himar dalam bidang kalam.
Dan ucapan ini juga dikatakan oleh Imam Dzahabi terhadap ulama besar, dia berkata:
> فكم من إمام في فن مقصر عن غيره، كسيبويه مثلا إمام في النحو ولا يدري ما الحديث ووكيع إمام في الحديث ولا يعرف العربية، وكأبي نواس رأس في الشعر عري من غيره، وعبد الرحمن بن مهدي إمام في الحديث لا يدري ما الطب، وكمحمد بن الحسن رأس في الفقه ولا يدري ما القراءات، وكحفص إمام في القراءة تالف في الحديث، وللحروب رجال يعرفون بها
"Betapa banyak seorang imam dalam satu bidang tapi kurang dalam bidang lainnya. Seperti Sibawaih misalnya, imam dalam Nahwu tapi tidak tahu apa itu hadits. Dan Waki' imam dalam hadits tapi tidak mengerti bahasa Arab. Dan seperti Abu Nawas, dia pemimpin dalam syair tapi kosong dari selainnya. Dan Abdurrahman bin Mahdi imam dalam hadits tapi tidak tahu ilmu kedokteran. Dan seperti Muhammad bin Al-Hasan, pemimpin dalam Fiqih tapi tidak tahu ilmu Qiraat. Dan seperti Hafsh, imam dalam Qiraah tapi lemah dalam hadits. Dan untuk peperangan ada orang-orang yang ahli di dalamnya."
Waulahualam
Labib nahwa um
https://www.facebook.com/share/18B6mpE6YP/