Jumat, 28 Agustus 2026

Hakikat Kehidupan Dunia dan Perumpamaannya

[Hakikat Kehidupan Dunia dan Perumpamaannya]

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 «مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا»

"Ada urusan apa aku dengan dunia ini? Tidaklah aku di dunia ini melainkan hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya." [H.R. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim]

Dan dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، وَمَا لِلدُّنْيَا وَلِي، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مَثَلِي وَمَثَلُ الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ سَارَ فِي يَوْمٍ صَائِفٍ، فَاسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا»

 "Ada urusan apa aku dengan dunia, dan ada urusan apa dunia dengan diriku? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini melainkan hanyalah seperti seorang pengendara yang berjalan di hari yang sangat panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon sesaat di siang hari, kemudian ia pergi dan meninggalkannya." 

Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily hafizhahullah di kajian Masjid Nabawy menjelaskan:

​Makna «مَا لِي وَلِلدُّنْيَا» (ada urusan apa aku dengan dunia ini) adalah: aku tidak memiliki rasa cinta kepada dunia yang dapat mengikatku padanya dan menjadikanku lupa akan apa yang menantiku di hadapanku setelah kematianku. "Ada urusan apa aku dengan dunia ini"; aku tidak memiliki rasa cinta kepada dunia yang mengikatku padanya dan menjadikanku lupa akan apa yang menantiku di negeri akhirat kelak.

​Hal tersebut tidak akan benar-benar terealisasi (di dalam hati) melainkan bagi orang yang mengetahui kadar (nilai) dunia dan menimbangnya dengan timbangan yang benar. Ia yakin bahwa selama apa pun hari-harinya, dunia itu sangatlah pendek dan cepat berlalu, dan seindah apa pun ia, dunia pasti akan sirna. Segala sesuatu yang ada di dalamnya akan berlalu; manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu, dan ia tidak akan pernah menetap pada satu keadaan.

​Ia juga mengetahui dan meyakini bahwa sejak ia dilahirkan, ia terus berjalan menuju akhirat. Sebagaimana ia keluar menuju dunia dari kegelapan rahim, ia juga akan berpisah darinya menuju kegelapan kubur. Di dunia ini, ia berada di antara dua kegelapan. Dan kuburan tidak akan pernah diterangi untuknya kecuali jika ia telah mengetahui nilai dunia (yang sebenarnya) dan tidak mengutamakannya di atas akhirat.

Qultu:

Dalam realita kehidupan, ini mirip dengan orang yang sedang melakukan perjalanan jauh lintas kota (misalnya mudik), lalu ia singgah di rest area untuk beristirahat sebentar, minum, dan buang air. Tidak ada orang berakal yang akan menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli material dan membangun rumah permanen yang mewah di rest area tersebut, karena ia tahu ia akan segera pergi melanjutkankan perjalanan ke kampung halaman. Begitulah dunia, ia hanya perbekalan sementara untuk negeri akhirat.

Syaikh menjelaskan bahwa "manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu".

Na'am. Manisnya akan berlalu, pahitnya pun akan berlalu.

Semoga bermanfaat.
Uhaj