Kesambar kereta, eh syubhat.
Kok bisa ya banyak yang merasa kesambar kereta, eh syubhat?
Uniknya, sering tersambar syubhat namun merasanya tersambar syubhat adalah simbol kekokohan.
La emangnya bagaimana dong? Masak syubhat harus disruput?
Imam Ibnul Qayyim (As Shawa'iq Al Mursalah 2/411) ) menjelaskan bahwa manusia itu terbagi menjadi 3 kasta atau level:
Level tertinggi: Ulama' yang kokoh bin luas ilmunya...... level ini pantang tersambar syubhat, bahkan syubhat auto ambyar bila sampai di hadapan mereka, dengan keluasan ilmu, ketajaman analisanya mereka mampu meluluh lantahkan setiap syubhat.
Level terendah: orang orang awam, yang tidak peduli dengan syubhat, karena mereka sadar diri akan kapasitas dirinya yang minim ilmu, sehingga mereka tidak kepo dengan hal hal yang bersifat teori atau konsep atau kaedah atau abstrak. Mereka hanya peduli dengan hal hal yang perlu mereka amalkan. Segala tema yang tidak mereka butuhkan dalam amaliyah praktis mereka, nisacaya mereka abaikan..... level ini adalah mayoritas masyarakat alias orang orang awam.
Level Kedua : level canggung, setengah berilmu dan setengah awam. Level ini sering kali enggan merendah mengakui keawamannya, dan lebih senang untuk loncat level merasa luas ilmunya dan super tajam analisanya..... akibatnya, segala hal yang gagal mereka pahami, bahkan semua hal hal batu yang belum pernah mereka pelajari dianggap syubhat.
Level ini enggan merunduk, hobi menengadah ke atas, sering bersikap arogan; menghujat bahkan menghakimi ulama' yang jauh lebih luas ilmunya dan tajam analisanya, gengsi untuk mendengar dari orang yang lebih rendah ilmunya, dan malu untuk bermusyawarah dengan yang selevel dengan dirinya.
Nah, monggo bercermin, semoga wajah anda nampak semakin tampan dan cantik jelita. Lebih seru bila kita berlajar bersama agar pandai bercermin melihat wajah sendiri: https://pmb.stdiis.ac.id/