Minggu, 26 April 2026

Hal yang harus antum ketahui ketika berhadapan dengan syubhat ahlul bida' (Part 2)

📚Hal yang harus antum ketahui ketika berhadapan dengan syubhat ahlul bida' (Part 2) 

📝Perhatikan baik-baik. Senjata paling ampuh sekaligus paling mudah dalam membantah syubhat ahlul bida' adalah konteks dalil (dalalah siyaq) yang mereka bawakan. Mereka ini ketika mentakwil nash selalu aja ada bantahannya dari nash itu sendiri, atau dari nash lain yang semisal. 

🔎Kita ambil satu sampel nash aqidah: 

ينزل ربنا تبارك وتعالى في كل ليلة إلى السماء الدنيا، حين يبقى ثلث الليل الآخر، فيقول: من يدعوني فأستجيب له، من يسألني فأعطيه، من يستغفرني فأغفر له

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam, yaitu ketika tinggal sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, ‘Barangsiapa berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan! Barangsiapa meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan! dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni”. [H.R. Bukhari & Muslim]

📔Di sini ahlul kalam mentakwil sifat nuzul bahwa yang turun bukan Allah, melaikan rahmat Allah, atau perintah Nya, atau malaikat Nya. 

📖Bantahan: Jika antum baca dari awal hingga akhir nash maka akan antum temukan kontradiksi jika menafsirkan turunnya Allah dengan turunnya rahmat atau perintah Allah. Bagaimana mungkin
rahmat mengatakan: "Barangsiapa berdoa kepadaku maka akan aku kabulkan." Ini sama saja memisahkan sifat dari pemilik sifat aslinya. 

Dan yang lebih parahnya adalah jika yang mengatakan kalimat di atas adalah malaikat!! Bagaimana mungkin malaikat yang notabenenya adalah makhluk ciptaan Allah bisa mengabulkan do'a dan mengampuni dosa. Jelas ini merupakan kesyirikan jika mentakwil nuzul dengan turunnya malaikat. 

Ga ada hubungannya nash ini dengan takwilan bathil mereka. Sudah jelas bahwa yang turun adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan kaifiyah yang layak untukNya. Namun begitu lah ahlul bathil, selalu ingin menyelewengkan nash syar'i agar sejalan dengan ajaran ilmu kalam yang ia yakini. 

🗞Sebenarnya banyak lagi contoh lain. Mungkin ini salah satu yang masyhurnya. Selebihnya bisa antum rujuk kepada kitab-kitab ulama Ahlussunnah mengenai asma' wa shifat.
Ustadz muhammad taufiq