Membaca adalah sumber pengetahuan, sebagaimana kata orang buku adalah jendela dunia.
Lalu bagaimana mungkin seorang da'i ingin mendakwahi masayarakat ketika ia minim ilmu. Bagaimana seorang guru ingin mentransfer ilmunya dan bagaimana orang tua ingin mendidik anaknya jika ia adalah seorang yang pemalas. Dikatakan dalam pepatah:
فاقد الشيء لا يعطيه
"Orang yang tidak memiliki tidak mungkin memberi."
Sebagai seseorang yang masih pada fase menuntut ilmu hendaknya kita mengupgrade memori ilmu kita, baik itu dengan rajin membaca, mendengar maupun berbicara. Ketika kuliah jangan seperti orang-orang yang pergi pulang kerja hanya memenuhi tuntutan perusahaan. Masuk universitas hanya ingin mengambil ijasah lalu pulang kampung sebagai rakyat biasa. Tak ada visi misi tak pula punya mental terjun ke dunia dakwah.
Sekarang ranah dakwah sudah bervariasi. Jika antum bukan orang yang jago public speaking maka bisa salurkan ilmu melalui tulisan. Ada dunia karya tulis, ada blog, ada medsos, dan sebagainya. Tidak selamanya berdakwah itu harus melalui mimbar. Namun jika bisa menggabungkan antara public speaking dan tulisan maka walillahil hamd. Karena dengan terjun langsung ke masyarakat bisa membuat kita lebih memahami kondisi medan dakwah yang sebenarnya.
Manfaatkan teknologi yang ada. Karena generasi sekarang identik dengan internet maka jadikan ia sebagai sarana belajar. Ubah kebiasaan jelek scrolling dengan nulis postingan ilmu. Ubah kebiasaan melihat tontonan tak berfaedah dengan menyimak kajian minimal satu kajian sehari. Tak hanya kajian, bisa selipkan tontonan ilmu lain seperti sejarah, motivasi, dan sebagainya. Dengan begitu kita bisa beristirahat dari gejed ini dengan mengambil banyak faedah darinya.
Semoga kita menjadi orang-orang yang bermanfaat buat agama ini, bukan menjadi orang yang menyia-nyiakan kecerdasan yang telah Allah berikan lalu menjadi orang biasa tanpa punya andil apa-apa buat agama ini. Penyair al-Mutanabbi pernah berkata:
ولم أر في عيوب الناس عيبا كنقص القادرين على التمام
"Aku belum pernah menemukan pada aib manusia sesuatu yang lebih aib daripada kelemahan seseorang yang sebenarnya ia diberi kemampuan untuk menjadi sempurna."
Ust muhammad taufiq