Selasa, 28 April 2026

Perdebatan Ibnu Taimiyah dengan Yahudi Khaibar

Perdebatan Ibnu Taimiyah dengan Yahudi Khaibar

​Pada bulan yang sama, diadakan sebuah majelis untuk kaum Yahudi Khaibar. Mereka diwajibkan membayar jizyah (upeti) sebagaimana kaum dzimmi lainnya. Namun, mereka membawa sebuah dokumen yang mereka klaim sebagai surat dari Rasulullah ﷺ yang berisi pembebasan kewajiban jizyah bagi mereka.

​Ketika para fuqaha (ahli fiqh) memeriksa dokumen tersebut, mereka menyadari bahwa surat itu palsu dan penuh kebohongan. Hal ini terlihat dari bahasanya yang rancu, tata bahasa yang berantakan, serta penanggalan yang tidak akurat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengonfrontasi mereka secara langsung, membongkar kesalahan serta kebohongan mereka, dan membuktikan bahwa dokumen tersebut adalah rekayasa semata. Akhirnya, mereka pun tunduk membayar jizyah dan merasa khawatir jika jizyah tahun-tahun sebelumnya akan ditagih kembali.

​Catatan Ibnu Katsir
​Ibnu Katsir berkata: "Aku telah melihat sendiri dokumen tersebut. Di dalamnya tertera kesaksian Sa'ad bin Mu'adz pada tahun penaklukan Khaibar, padahal Sa'ad sudah wafat sekitar tiga tahun sebelum peristiwa tersebut. Tertera pula kesaksian Mu'awiyah bin Abi Sufyan, padahal saat itu ia belum memeluk Islam; ia baru masuk Islam sekitar dua tahun setelah peristiwa Khaibar."

​Disebutkan pula dalam dokumen itu: "Ditulis oleh Ali bin Abi Thalib." Namun, terdapat kesalahan tata bahasa (lahn) yang sangat fatal dalam teksnya, yang mustahil dilakukan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Sebab, ilmu Nahwu (tata bahasa Arab) bersumber darinya melalui jalur Abu al-Aswad ad-Du'ali.

​Kejadian ini telah aku himpun dalam satu risalah khusus. Hal ini juga telah disebutkan oleh Al-Qadhi Al-Mawardi, para ulama besar di masa itu seperti dalam kitab Al-Hawi, serta penulis kitab Asy-Syamil yaitu Imamul Haramain Al-Juwaini dalam kitabnya, dan ulama lainnya. Mereka semua telah menjelaskan kesalahan dokumen tersebut. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.

📚 Akhbar Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah wa Siratuhu min Kitab al-Bidayah wan Nihayah, hal. 22-23

______selesai kutipan______

Dulu, di hadapan ketajaman lisan Syaikhul Islam, mereka tertunduk hina sebagai pemohon jizyah (upeti) yang tertangkap basah memalsukan sejarah. Mereka gemetar hanya karena urusan jizyah yang ditagih.

Hari ini? Mereka tampil sebagai penentu nasib, sementara umat Islam yang katanya berjumlah miliaran hanya bisa menjadi penonton saat saudara-saudaranya diinjak-nginjak. Kenapa? Jawabannya satu: Wahn.

​Kita telah terjangkit penyakit "cinta dunia dan takut mati". Kita terlalu sayang pada harta, terlalu nyaman dengan jabatan, dan terlalu takut kehilangan kemewahan, hingga lupa bahwa dahulu, di hadapan seorang Muslim yang tidak bisa dibeli, mereka pernah sekecil itu.

​Hari ini, ironinya adalah kita telah menukar kemuliaan iman dengan ketakutan pada urusan perut sendiri. Kita lebih takut kehilangan kenyamanan hidup daripada kehilangan Izzah (harga diri).

​Wal’iyadzu billah... Semoga sejarah ini bisa menjadi tamparan bagi nurani yang sudah lama terlelap

Ibn Nashrullah