Alhamdulillah telah selesai dari membaca buku Kawakib Ad-Durriyyah li Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah karya Muhammad bin Abdul Azis bin Maani'.
Kitab ini memiliki ketebalan 452 halaman beserta dengan daftar isi.
Asal kitab ini adalah ringkasan dari kitab Lawami' Al-Anwar Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah karya Imam as-Safariniy al-Hanbali.
Jadi Matan kitab yaitu Ad-Durrah Al-Mudhiyyah yang berisi kumpulan bait-bait syair bertajuk akidah ditulis oleh Syaikh Muhammad as-Safariniy Al-Hanbaliy lalu disyarah oleh beliau sendiri dan menjadi sebuah kitab yang judulnya Lawami' Al-Anwar Al-Bahiyyah wa Sawathi' Al-Asrar Al-Atsariyyah li Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah.
Kemudian datanglah Syaikh Ibnu Maani' untuk meringkasnya sebagaimana penjelasan beliau,
وقد كنت قرأت في تراجم بعض الأفاضل من الحنابلة ، كالشيخ العلامة حسن الشطي، والشيخ الإمام محمد بن علي بن سلوم وغيرهما ، أنهم قد اختصروا شرح ناظمها؛ ذلك الشرح الجليل الذي سلك فيه مسلك الإطناب والتطويل
“aku telah membaca dalam biografi beberapa ulama Hanbali terkemuka, seperti Syekh Hassan al-Shatti, dan Syekh Muhammad ibn Ali ibn Salloum dan selain mereka berdua bahwa mereka telah meringkas kitab syarah penulisnya (yaitu Lawami' Al-Anwar) yang mengikuti metode terlalu panjang dan bertele-tele dalam menjelaskan.”
وحيث أني لم أظفر بشيء من تلك المختصرات - ولم يكن فيما علمت مَشْهُورًا - أَقْدَمْتُ مُقتديا بأولئك الأئمة على : اختصار شرح ناظمها وأضفت إلى ذلك فوائد كثيرة ، مما وجدته في كتب المحققين ، مما يهم طالب العلم درايته .
“karena aku tidak menemukan ringkasan tersebut dan sepengetahuanku, bahwa ringkasan mereka tidak begitu terkenal maka aku ingin melanjutkan dan mengikuti contoh para imam tersebut yaitu untuk meringkasnya.
Dan aku menambahkan banyak catatan ilmu, yang aku temukan dalam buku-buku para ulama, yang in sya Allah sangat penting untuk diketahui oleh para penuntut ilmu.”
وسميت هذا المختصر : الكواكب الدرية لشرح الدرة المضية في عقد أهل الفرقة المرضية.
“Lalu aku beri nama kitab ringkasan ini dengan nama Al-Kawakib Ad-Durriyyah li Syarh Ad-Durrah Al-Mudhiyyah fi Aqdi Al-Firqah Al-Mardhiyyah”
Dalam buku ini syaikh Ibnu Maani' mencoba untuk benar-benar tidak terlalu lebar dalam menjelaskan sehingga kesannya tidak ada yg bertele-tele langsung to the point dalam setiap menjelaskan. Misalkan saja,
Syaikh Imam as-Safariniy berkata:
حي عليم قادر موجود # قامت به الأشياء و الوجود
Penjelasan Syaikh Ibnu Maani':
قوله: (الحي) أي لم يزل موجودا و بالحياة موصوفا. و «الحياة» صفة ذاتية حقيقية قائمة بذات الله.
(عليم) بالسرائر و الخفيات التي لا يدركها علم خلقه.
(قادر) أي ذو القدرة التامة....
Contoh lainnya:
دلت على وجوده الحوادث # سبحانه فهو الحكيم الوارث
قوله: (دلت) أي دلالة عقلية قطعية
(على وجوده) سبحانه و تعالى
(الحوادث) جمع الحادث، وهو خلاف القديم.
(سبحانه) اسم بمعنى التسبيح الذي هو التنزيه.
(فهو) تعالى (الحكيم) أي: المتقن لخلق الأشياء بحسن التدبير و بديع التقدير.
(الوارث) أي الباقي بعد فناء خلقه....
Jadi kalau kita lihat dari syarah beliau saat menjelaskan bait-bait syair Imam as-Safariniy, beliau langsung ke tujuan makna dan maksud syair saja.
Kitab seperti ini sangat cocok untuk dipegang oleh pemula dan kelas pertengahan ditambah lagi kitab ini memiliki kelebihan nilai yang kuat untuk diterima oleh setiap kalangan karena syairnya ditulis oleh Imam as-Safariniy al-Hanbali dan syarahnya diringkas dari kitab Lawami' Al-Anwar syarah penulis bait-bait syair tersebut sendiri.
Ditambah lagi kitab ini sudah lumayan komplit membahas seluruh persoalan akidah secara mendasar.
Di dalam kitab ini juga beliau menegaskan bahwa akidah salaf bukanlah tafwidh, sebagaimana kata Syaikh Ibnu Maani':
فمذهب السلف إنما هو الإثبات لا التفويض الذي هو أول درجات التعطيل. وقد قال الناظم فيما سبق:
فعقدنا الإثبات يا خليلي # من غير تعطيل و لا تمثيل
“Mazhab salaf adalah itsbat dan bukanlah tafwidh yang dapat menjadi derajat pertama dari metode ta'thil (meniadakan atau menihilkan sifat-sifat Allah). Penulis syair (syaikh as-Safariniy) berkata:
"Akidah kami adalah itsbat wahai saudaraku" # "Tanpa ta'thil ataupun tamtsil".”
Hal ini sejalan dengan jawaban imam Malik saat ditanya tentang istiwa, bahwa istiwa' ma'lum (diketahui maknanya).
Jikalau seandainya mazhab salaf tafwidh maka harusnya imam malik mengatakan Al-Istiwa majhul!! Tapi kenapa imam Malik justru mengatakan ma'lum!?
Dalam kitab ini terdapat catatan ilmu yang bagus di beberapa pembahasan di antaranya saat membahas Amar makruf nahi mungkar.
Beliau memberikan rincian bagus dalam masalah ini dan ditambah dengan nukilan dari beberapa ulama salaf.
Kemudian beliau sedikit menyindir para penguasa di zaman ini, sebagaimana kata beliau:
( وَ ) يعتني بـ ( نَصْرِ مَظْلُوم ) من ظالمه ( وَقَمْع ) أهل ( كُفْر ) أي قهرهم وذلهم ؛ لأن ذلك من أجل المقاصد الشرعية ؛ عكس ما عليه أمراء المسلمين في هذا الزمان من إعزاز الكفار وإذلال المسلمين ، حتى أن منهم من حارب أهل الإسلام مع الكفار ، لنيل الشهوات الحيوانية ، والمطالب الدنيوية الفانية ، ولم يمعِنُوا النظر بما جنوا على الإسلام والمسلمين !!
“Dia (seorang ulil amri tugasnya) mengurus (atau menolong orang-orang yang terdzalimi) dari pelaku kedzaliman (dan penindasan) terhadap orang-orang (kafir), yaitu menundukkan dan mempermalukan mereka; karena itu adalah salah satu tujuan yang islam; kebalikan dari apa yang dilakukan para penguasa Muslim saat ini, yaitu menghormati orang-orang kafir dan mempermalukan kaum Muslimin, sampai-sampai sebagian dari mereka memerangi orang-orang Islam dengan orang-orang kafir, untuk mendapatkan keinginan hewani dan tuntutan duniawi yang sementara, dan mereka tidak mempertimbangkan apa yang telah mereka lakukan terhadap Islam dan kaum Muslimin!!”
Beliau syaikh Ibnu Maani' juga termasuk ulama yang mengingkari akan datangnya Imam Mahdi. Hal ini sebagaimana ucapan beliau:
وقد ورد في هذا الباب أحاديث كثيرة لم يثبت منها حديث واحد.
والمصنف إنما ذكر ( المهدي ) ؛ لبيان أنه قد جاءت بذكره أحاديث تنبئ بمجيئه ، لا أنه مما يجب اعتقاده ، فلا نعتقد بمجيء هذا ( المهدي ، ولا ندين الله به ، إذ مبنى الاعتقاد اليقين
“Terdapat banyak hadits yang diriwayatkan tentang topik ini (Kedatangan Al-Mahdi), tetapi tidak satu pun yang sahih.
Penulis (as-Safariniy) hanya menyebutkan Al-Mahdi untuk menunjukkan bahwa ada hadits yang menyebutkan akan kedatangannya, bukan bahwa itu adalah sesuatu yang harus diyakini.
Oleh karena itu, kami tidak percaya terhadap kedatangan Al-Mahdi ini, dan kami juga tidak beribadah kepada Allah dengan cara ini, karena dasar keyakinan adalah kepastian.”
Masih banyak persoalan lainnya yang mungkin menjadi hal baru bagi beberapa ikhwah seperti rincian beliau tentang hukum taqlid.
Wallahu a'lam.