Minggu, 29 Maret 2026

Di Yaman, ada seorang santri safari dakwah di sebuah kampung. Pas Jumat dia diminta jadi khotib. Pas khutbah dia nggak baca sholawat secara khusus, tapi dia baca setiap kali menyebut nama Rasulullah.

Di Yaman, ada seorang santri safari dakwah di sebuah kampung. Pas Jumat dia diminta jadi khotib. Pas khutbah dia nggak baca sholawat secara khusus, tapi dia baca setiap kali menyebut nama Rasulullah. 

Ketika dia mengimami, dia juga men-sirrkan bacaan basmalah.

Habis sholat, dia didatangi orang yang sudah tua. Diinterogasi:

+ Kenapa ente tak baca sholawat pas khutbah?!
- Bahkan setiap nyebut nama Nabi ane sholawat.

+ Kenapa ente gak baca basmalah pas alfatehah?
- Ammu, Ane baca basmalah, cuma di-sirr kan aja..

+ Halah ente, di sini gak kayak gitu ya.

Sebagian orang ikut nimbrung. Sebagian membela si tholib, sebagian mencelanya kenapa gak ikut kebiasaan masyarakat. Terjadilah keributan antar mereka. Si tholib mlipir, lalu keluar masjid. Keributan antar jemaah tetap jalan...😅

Di luar ada kakek-kakek yang kelihatan wise gitu. Dia menemui si thalib lalu bicara 4 mata. 

"Ya bunayy, kenapa ente gak ikut kebiasaan masyarakat sini.. kalau ente ikut kebiasaan mereka kan ente kagak diprotes.."

Si tholib menjawab, "Ammu, ana cuma mengerjakan apa yang ana anggap lebih kuat. Wallahu a'lam. Dan Rasulullah juga mengatakan, 

من التمس رِضا اللهِ بسخَطِ الناسِ ؛ رضِيَ اللهُ عنه ، وأرْضى عنه الناسَ ، ومن التَمس رضا الناسِ بسخَطِ اللهِ ، سخِط اللهُ عليه ، وأسخَط عليه الناسَ

Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun dengan membuat manusia tidak senang, maka Allah akan meridai dirinya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya.

Si kakek termenung, dia nggak menduga kalau bakal dapat jawaban begitu. Lalu dia pun mendoakan kebaikan bagi si tholib.

Setelah shalat ashar, rumah yang ditumpangi si tholib dikunjungi oleh para pwmuka kampung. Kepala qobilah waktu itu meletakkan senapan AK nya di depan tholib yg jadi khatib.

Orang² udah kawatir aja nih, bakal ditembak gara² bikin keributan.

Ternyata, kepala qobilahnya minta maaf sama si tholib karena ada warganya yg sudah bersikap tidak santun. Mereka malu, ada dai yg sedang safari dakwah, tapi malah diinterogasi kayak tadi. Itu senapan silakan dipakai untuk ngasih hukuman apa kepada qobilah karena mereka malu sudah memperlakukan tamu dgn kurang baik.

Akhirnya si tholib bilang, "Gak apa², gak ada yang perlu dihukum. Cuma berikan kesempatan bagi kami untuk dakwah di sini. Ngajarin anak² di sini ngaji dan hafalan Quran..."

Akhirnya mereka pun diberi akses untuk dakwah seluas-luasnya di kampung itu.. 

Demikian yg dituturkan oleh Syaikhuna Fahd Al Adeni di sela-sela pelajaran Syarh Thohawiyah, 15 tahun yang lalu.