Minggu, 29 Maret 2026

Tiga Tingkatan Manusia dan Pembelajar Tanggung yang Menyebabkan Kerusakan

Tiga Tingkatan Manusia dan Pembelajar Tanggung yang Menyebabkan Kerusakan 

☆☆☆ 

Ketika menyebutkan tentang biografi 'Ali bin Qasim Hanasy, al-'Allamah asy-Syaukani berkata: 
 
النَّاس على طَبَقَات ثَلَاث فالطبقة الْعَالِيَة الْعلمَاء الأكابر وهم يعْرفُونَ الْحق وَالْبَاطِل وإن اخْتلفُوا لم ينشأ عَن اخْتلَافهمْ الْفِتَن لعلمهم بِمَا عِنْد بَعضهم بَعْضًا والطبقة السافلة عَامَّة على الْفطْرَة لَا ينفرون عَن الْحق وهم أَتبَاع من يقتدون بِهِ إن كَانَ محقاً كَانُوا مثله وإن كَانَ مُبْطلًا كَانُوا كَذَلِك والطبقة المتوسطة هي منشأ الشَّرّ وَاصل الْفِتَن الناشئة في الدَّين وهم الَّذين لم يمعنوا في الْعلم حَتَّى يرتقوا إلى رُتْبَة الطَّبَقَة الأولى وَلَا تَرَكُوهُ حَتَّى يَكُونُوا من أهل الطَّبَقَة السافلة فإنهم إذا رَأَوْا أحداً من أهل الطَّبَقَة الْعليا يَقُول مَالا يعرفونه مِمَّا يُخَالف عقائدهم الَّتِى أوقعهم فِيهَا الْقُصُور فوقوا اليه سِهَام الترقيع ونسبوه إلى كل قَول شنيع وغيّروا فطر أهل الطَّبَقَة السُّفْلى عَن قبُول الْحق بتمويهات بَاطِلَة فَعِنْدَ ذَلِك تقوم الْفِتَن الدِّينِيَّة على سَاق

"Di antara ucapan beliau yang indah—yang aku dengar secara langsung darinya—adalah bahwa manusia itu terbagi menjadi tiga level: 

(1) Tingkatan tertinggi: para ulama besar.

Mereka mengetahui mana yang benar dan mana yang batil. Jika mereka berbeda pendapat, perbedaan mereka tidak menimbulkan fitnah, karena mereka saling mengetahui ilmu yang dimiliki oleh satu sama lain. 

(2) Tingkatan terbawah: orang-orang awam yang berjalan di atas fitrah.

Mereka tidak lari dari kebenaran, dan mengikuti tokoh yang mereka jadikan teladan. Jika tokoh tersebut berada di atas kebenaran, maka mereka pun seperti itu. Namun jika tokoh itu berada di atas kebatilan, maka mereka pun juga demikian.

(3) Level tengah (tanggung): inilah asal keburukan dan sumber berbagai fitnah yang muncul dalam agama.

Mereka adalah orang-orang yang tidak mendalami ilmu secara sungguh-sungguh, hingga naik ke derajat level pertama, namun juga tidak membiarkan ilmu sehingga menjadi bagian dari level terbawah. Jika mereka melihat salah seorang dari level tertinggi mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui, yang bertentangan dengan keyakinan mereka—yang sebenarnya mereka terjerumus padanya karena kekurangan mereka sendiri—mereka pun melepaskan panah-panah celaan kepadanya, menisbatkan kepadanya berbagai ucapan yang buruk, serta mengubah fitrah orang-orang dari lapisan terbawah agar tidak menerima kebenaran dengan berbagai talbis dan tipu daya yang batil.

Saat itulah terjadi fitnah (chaos, kerusakan) dalam agama.” 

Asy-Syaukani selanjutnya berkomentar: 

وَقد صدق فإنّ من تَأمل ذَلِك وجده كَذَلِك

"Beliau benar. Siapa saja yang merenungkan hal tersebut, niscaya dia akan mendapati bahwa kenyataannya memang demikian." 

Ref.: al-Badr ath-Thali', vol. 1, hlm. 473. 

—adniku