Rabu, 11 Maret 2026

Perbandingan Bacaan Qur'an Secara Cepat Dan Banyak Tanpa Pemahaman Dengan Bacaan Pelan Dan Sedikit Namun Disertai Pemahaman

Perbandingan Bacaan Qur'an Secara Cepat Dan Banyak Tanpa Pemahaman Dengan Bacaan Pelan Dan Sedikit Namun Disertai Pemahaman

Oleh: Muhammad Ode Wahyu

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah -rahimahullah- berkata:

اختلف الناس في الأفضل من الترتيل وقلة القراءة ، أو السرعة مع كثرة القراءة : أيهما أفضل ؟ على قولين :

"Manusia berbeda pendapat terkait mana yang lebih utama dalam bacaan al-Qur'an, apakah bacaan secara tartil  (bacaan secara tenang disertai upaya memahami makna ayat) tapi sedikit atau bacaan cepat disertai banyaknya bacaan tanpa tartil. Mana dari keduanya yang lebih utama? Ada dua pendapat:

فذهب ابن مسعود وابن عباس رضي الله عنهما وغيرهما إلى أن الترتيل والتدبر مع قلة القراءة أفضل من سرعة القراءة مع كثرتها .

Pendapat pertama yaitu pendapat Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dan selain mereka berdua yaitu bahwa membaca al-Qur'an secara tartil walaupun sedikit itu lebih utama daripada bacaan cepat dan banyak. 

واحتج أرباب هذا القول بأن المقصود من القراءة فهمه ، وتدبره ، والفقه فيه ، والعمل به ، وتلاوته وحفظه وسيلة إلى معانيه ، كما قال بعض السلف : نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذوا تلاوته عملا ، ولهذا كان أهل القرآن هم العالمون به ، والعاملون بما فيه ، وإن لم يحفظوه عن ظهر قلب ، وأما من حفظه ولم يفهمه ولم يعمل بما فيه فليس من أهله ، وإن أقام حروفه إقامة السهم .

Hujjah ulama yang menguatkan pendapat ini yaitu bahwa maksud dari membaca al-Qur'an adalah memahaminya, mentadabburinya, memahami fiqh di dalamnya dan mengamalkannya. Sementara tilawah (membacanya) dan menghafalnya merupakan wasilah untuk memahami makna-maknanya. Sebagaimana perkataan para salaf, 'Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan'. Maka mereka menjadikan tilawah mereka sebagai pengamalan. 

Oleh karena itulah para Ahlul Qur'an adalah mereka yang memahaminya dan mengamalkannya walaupun mereka tidak menghafalnya dalam hati mereka. Adapun yang menghafalkannya namun tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya maka ia bukanlah Ahlul Qur'an. Meskipun ia dapat melafazkan huruf-hurufnya secara fasih laksana lurusnya anak panah. 

قالوا : ولأن الإيمان أفضل الأعمال ، وفهم القرآن وتدبره هو الذي يثمر الإيمان ، وأما مجرد التلاوة من غير فهم ولا تدبر فيفعلها البر والفاجر والمؤمن والمنافق ، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( ومثل المنافق الذي يقرأ القران كمثل الريحانة : ريحها طيب ، وطعمها مر ).

Mereka berkata, '(Bacaan dengan tartil walau sedikit itu lebih baik) karena iman itu lebih afdhal dari amalan-amalan. Dan, memahami al-Qur'an serta mentadabburinya, itulah yang membuahkan iman. Adapun sekedar membacanya tanpa memahami dan tidak pula mentadabburinya, maka bacaan seperti itu dapat dilakukan oleh orang baik dan orang buruk, dilakukan oleh mukmin juga dilakukan oleh orang munafik. Sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-: 'Permisalan seorang munafik yang membaca al-Qur'an sepertu raihanah. Aromanya wangi tapi rasanya pahit.'

والناس في هذا أربع طبقات : أهل القرآن والإيمان ، وهم أفضل الناس . والثانية : من عدم القرآن والإيمان . الثالثة : من أوتي قرآنا ولم يؤت إيمانا . الرابعة : من أوتي إيمانا ولم يؤت قرآنا .

Pada perkara ini, manusia terbagi dalam empat tingkatan: Ahli Qur'an dan iman, mereka adalah manusia paling mulia. Kedua, manusia yang tidak memiliki al-Qur'an dan iman. Ketiga, orang yang diberi al-Qur'an tapi tidak diberi iman. Keempat, orang yang diberi iman tapi tidak diberi al-Qur'an. 

قالوا : فكما أن من أوتي إيمانا بلا قرآن أفضل ممن أوتي قرآنا بلا إيمان ، فكذلك من أوتي تدبرا وفهما في التلاوة أفضل ممن أوتي كثرة قراءة وسرعتها بلا تدبر .

Mereka juga berkata, sebagaimana orang yang diberi iman tanpa al-Qur'an itu lebih baik daripada orang yang diberi al-Qur'an tanpa iman. Seperti itulah orang yang diberi kesempatan untuk mentadabburinya dan memahaminya dalam membaca. Ia lebih utama daripada orang yang diberikan kemampuan banyak membaca secara cepat tapi tidak mentadabburinya. 

قالوا : وهذا هدي النبي صلى الله عليه وسلم ، فإنه كان يرتل السورة حتى تكون أطول من أطول منها ، وقام بآية حتى الصباح .

Mereka berkata, inilah petunjuk nabi -Shallallahu alaihi wasallam- dalam membaca al-Qur'an. Beliau membaca al-Qur'an secara tartil hingga panjangnya lebih panjang dari surat itu sendiri. Bahkan beliau pernah sholat lail dalam satu malam hanya dengan membaca satu ayat saja. 

وقال أصحاب الشافعي رحمه الله : كثرة القراءة أفضل ، واحتجوا بحديث ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة ، والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول الم حرف ، ولكن ألف حرف ، ولام حرف ، وميم حرف ) رواه الترمذي وصححه .

Sementara (pendapat kedua) yaitu pendapat ulama pengikut madzhab Syafi'i, dimana mereka mengatakan bahwa yang lebih utama adalah memperbanyak bacaan. Mereka berhujah dengan hadits Ibnu Mas'ud bahwa Rasullullah -Shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda: 'Siapa yang membaca Satu huruf dari al-Qur'an maka ia mendapatkan satu kebaikan dengannya. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Tapi alif Satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan beliau mensahihkannya. 

قالوا : ولأن عثمان بن عفان قرأ القرآن في ركعة ، وذكروا آثارا عن كثير من السلف في كثرة القراءة .

Mereka juga berkata bahwa Utsman pernah membaca Qur'an dengan mengkhatamkannya dalam satu raka'at. Mereka juga menyebutkan atsar para salaf terkait banyaknya bacaan mereka dalam membaca al-Qur'an. 

والصواب في المسألة أن يقال :
إن ثواب قراءة الترتيل والتدبر أجل وأرفع قدرا ، وثواب كثرة القراءة أكثر عددا :
فالأول : كمن تصدق بجوهرة عظيمة ، أو أعتق عبدا قيمته نفيسة جدا .
والثاني : كمن تصدق بعدد كثير من الدراهم ، أو أعتق عددا من العبيد قيمتهم رخيصة .

Yang benar pada masalah ini adalah, sesungguhnya pahala membaca secara tartil dan tadabbur lebih agung dan lebih terangkat (tinggi) nilainya. Sementara bacaan yang banyak itu hanya lebih banyak secara jumlah. Perumpamaannya, untuk yang pertama seperti orang yang bersedekah dengan satu permata yang sangat mahal atau ia membebaskan budak yang nilainya sangat tinggi. Adapun yang kedua, seperti orang yang bersedekah dengan beberapa dirham atau ia membebaskan beberapa budak namun nilainya sangatlah murah. 

وفي " صحيح البخاري " عن قتادة قال : سألت أنسا عن قراءة النبي صلى الله عليه وسلم فقال : ( كان يمد مدا ) .

Dalam Sahih Bukhari, dari Qatadah ia berkata, aku pernah bertanya pada Anas, bagaimana bacaan Nabi? Beliau berkata: beliau memanjangkan bacaannya. 

وقال شعبة : حدثنا أبو جمرة ، قال : قلت لابن عباس : إني رجل سريع القراءة ، وربما قرأت القرآن في ليلة مرة أو مرتين ، فقال ابن عباس : لأن أقرأ سورة واحدة أعجب إلي من أن أفعل ذلك الذي تفعل ، فإن كنت فاعلا ولا بد فاقرأ قراءة تسمع أذنيك ، ويعيها قلبك .
Syu'bah berkata, Abu Hamzah telah menceritakan kami bahwa ia berkata, aku pernah berkata pada Abdullah bin Abbas, 'aku adalah laki-laki yang cepat membaca. Aku dapat mengkhatamkan al-Qur'an dalam satu malam satu atau dua kali'. Maka Abdullah bin Abbas berkata: 'Saya membaca satu surah lebih akun sukai dari pada melakukan apa yang kamu lakukan itu. Jikapun engkau hendak melakukannya, maka bacalah dengan bacaan yang dapat didengar oleh telingamu dan dipahami oleh hatimu. "

وقال إبراهيم : قرأ علقمة على ابن مسعود - وكان حسن الصوت – فقال : رتل فداك أبي وأمي ، فإنه زين القرآن .

Ibrahim berkata, ' Alamat membaca dihadapan Ibnu Mas'ud, dan ia memiliki suara yang indah. Maka Ibnu Mas'ud berkata, 'Bacalah secara tartil karena bacaan seperti itu adalah hiasan bagi al-Qur'an. 

وقال ابن مسعود : لا تهذُّوا القرآن هذَّ الشعر ، ولا تنثروه نثر الدقل ، وقفوا عند عجائبه ، وحركوا به القلوب ، ولا يكن هم أحدكم آخر السورة

Ibnu Mas'ud berkata: Janganlah kalian membaca al-Qur'an laksana membaca syair. Jangan pula kalian cerai berikan laksanakan menyebar kurma busuk. Berhentilah sejenak menghayati keajaiban-keajaiban ayat-ayatnya dan getarkan hatimu dengannya. Janganlah ambisi kalian dalam membaca al-Qur'an hanya pada akhir surah saja. 

Diterjemah dari kitab Zaad al-Ma'ad Karya imam Ibnu Qayyim: 1/402-406) 

Kami berkata: Benarlah perkataan Imam Ibnu Qayyim -rahimahullah- di atas. Bacaan secara pelan dan disertai tadabbur itu dapat membuahkan iman dibandingkan bacaan secara cepat hanya untuk ambisi pada akhir surah dan mengkhatamkannya. 

Bacaan secara cepat tanpa tadabbur bisa dilakukan oleh orang munafik juga, makanya tidak ada iman dalam hati mereka. Beda dengan orang yang ingin mendapat hidayah dari al-Qur'an. Tujuan mereka adalah hidayah dan iman dan itu adalah keutamaan yang besar. 

Ketahuilah, bacaan para salaf yang banyak itu, tidak juga lepas dari tadabbur. Makanya, kita biasa membaca kalimat-kalimat mutiara, faidah-faidah yang indah dari ayat al-Qur'an dari lisan-lisan mereka. Semua itu karena bacaan mereka yang disertai tadabbur, sekalipun cepat. 

Adapun engkau? Hanya membaca dengan ambisi akhir surah? Bukan seperti itu petunjuk nabi dalam membaca al-Qur'an. 

Maka, jika engkau tidak paham bahasa Arab, bacalah terjemahannya juga. Jangan sampai hingga saat ini masih ada keyakinanmu yang salah sementara penjelasannya ternyata telah kamu ulang-ulangi baca di dalam al-Qur'an, namun kamu melewatinya karena ambisi hanya ingin memperbanyak bacaan. 

Jangan sampai karena itu nanti Allah bertanya kepadamu pada hari kiamat "Mengapa engkau tidak membaca terjemahannya?".

Bacalah, lalu tadabburilah. Itulah yang Allah perintahkan. 

Semoga Allah berikan kita semua kelapangan hati untuk memilih yang lebih utama dan mendapatkan hidayah dan iman. Aamiin.