Syaikh Shalih Alu asy-Syaikh hafizhahullah menyatakan:
Inilah prinsip yang dipegang oleh para ulama dan imam yang bertakwa. Maka ketika engkau melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, engkau akan mendapati bahwa beliau tidak mencela para imam dalam hal apa pun, meskipun sebagian dari mereka memiliki perbedaan pendapat tertentu, seperti Abu Hanifah rahimahullah dan lainnya. Sebaliknya, beliau justru memasukkan beliau ke dalam jajaran para imam yang terkemuka, sebagaimana dalam kitabnya Raf’ul Malam ‘an al-A’immah al-A’lam.
Kemudian datanglah orang-orang belakangan (yang tidak memiliki ilmu) yang mengatakan: 'Abu Hanifah memiliki kekurangan ini dan itu,' lalu mereka mencelanya, dan seterusnya.
Padahal para Imam Dakwah (Najdiyyah), semoga Allah merahmati mereka, tidak pernah mencela para imam yang memiliki perbedaan pendapat tersebut. Mereka tidak mencela Ibnu Qudamah, tidak pula An-Nawawi, meskipun para imam tersebut menyebutkan beberapa riwayat yang terkadang dijadikan dalil oleh ahli bid'ah.
Mereka juga tidak mencela Ibnu Hajar, tidak pula para ulama lain yang mensyarah kitab-kitab hadits maupun para ahli ilmu. Sebaliknya, mereka mengambil dan menukil kebenaran dari para ulama tersebut, lalu meninggalkan pendapat lainnya tanpa perlu menyerang pribadinya.
Apabila penjelasan memang dibutuhkan pada keadaan tertentu dan terdapat nukilan yang perlu dikomentari. seperti pernyataan Imam An-Nawawi rahimahullah yang mengandung takwil, maka mereka akan mengatakan, misalnya: 'An-Nawawi dahulu menakwil sifat-sifat Allah, dan beliau mengikuti metode begini dan begitu. Dan ini adalah sebuah kekeliruan.' (Hanya sebatas itu tanpa merendahkan kedudukan mereka).
📖 Syarh al-Fatwa al-Hamawiyyah al-Kubra | hlm. 192-193.
صفوان الدين الكرمزي