Selasa, 10 Maret 2026

Banyak orang merasa uang itu “nyata” karena bisa dipegang. Ada kertasnya, ada logamnya.Padahal kalau dipikir lebih dalam, yang bernilai bukan kertasnya, tetapi makna di baliknya.

Banyak orang merasa uang itu “nyata” karena bisa dipegang. Ada kertasnya, ada logamnya.
Padahal kalau dipikir lebih dalam, yang bernilai bukan kertasnya, tetapi makna di baliknya.
Kertas Rp100.000 sebenarnya hanyalah kertas biasa. Nilainya muncul karena masyarakat sepakat bahwa kertas itu bisa ditukar dengan barang atau jasa tertentu. Jika suatu hari kepercayaan itu hilang, kertas yang sama akan menjadi sekadar kertas tanpa nilai.
Dalam ilmu ekonomi modern, ini disebut fiat money — uang yang nilainya berasal dari kepercayaan dan kesepakatan sosial, bukan dari bahan fisiknya.
Hal ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama.
Awalnya manusia menukar barang secara langsung (barter).
Lalu muncul benda yang dipercaya bersama sebagai penyimpan nilai, seperti emas dan perak. Benda ini dipilih karena langka, tahan lama, dan mudah dibagi.
Namun bahkan emas pun tidak sepenuhnya bernilai karena logamnya saja. Nilainya juga muncul karena manusia sepakat menghargainya.
Seiring waktu, manusia merasa lebih praktis menggunakan kertas yang mewakili emas. Maka lahirlah uang kertas. Lama-kelamaan hubungan dengan emas dilepas, dan uang kertas tetap digunakan karena masyarakat percaya pada sistemnya.
Menariknya, hari ini sebagian besar uang bahkan tidak lagi berbentuk kertas. Saldo di bank hanyalah angka di komputer. Kita tetap menerimanya sebagai uang karena sistem dan kepercayaan masih berjalan.
Jadi sebenarnya sejak dulu sampai sekarang, hakikat uang bukanlah kertas, logam, atau angka digital.
Uang pada dasarnya adalah simbol nilai yang dipercaya bersama.
Karena itu bentuknya bisa berubah dari zaman ke zaman, tetapi prinsipnya tetap sama:
selama ada kepercayaan dan penerimaan masyarakat, sesuatu bisa berfungsi sebagai uang.
Inilah mengapa sejarah uang selalu berubah — dari emas, ke uang kertas, ke uang digital — namun yang paling penting selalu satu hal: kepercayaan manusia terhadap nilainya..
Ustadz noor akhmad setiawan