Fenomena menarik di media sosial:
ada orang yang sangat lantang menuduh “negara-negara Muslim pengecut, tidak punya harga diri karena tidak berperang.”
Namun ironisnya, banyak dari mereka sendiri bersembunyi di balik akun anonim, nama palsu, dan profil terkunci.
Ini menunjukkan satu hal penting dalam psikologi sosial:
retorika keberanian di internet sering tidak memiliki biaya apa pun.
Menyerukan perang dari balik layar tidak membutuhkan keberanian nyata.
Tidak ada risiko kehilangan nyawa, ekonomi, keluarga, atau masa depan rakyat.
Karena itu, bahasa yang muncul sering sangat ekstrem:
mudah menyebut orang lain pengecut, pengkhianat, atau tidak punya harga diri.
Padahal dalam dunia nyata, keputusan perang bukan soal slogan keberanian, tetapi kalkulasi kekuatan, teknologi, ekonomi, dan dampak terhadap jutaan manusia.
Negara yang bertanggung jawab tidak mengambil keputusan perang berdasarkan emosi massa, tetapi berdasarkan rasionalitas strategis.
Ironinya, orang yang paling keras menuduh pihak lain pengecut sering justru tidak berani menunjukkan identitasnya sendiri.
Karena itu, dalam isu geopolitik, penting membedakan antara
keberanian retoris di media sosial
dan keberanian nyata dalam menghadapi konsekuensi dunia nyata.
Ustadz noor akhmad setiawan