Lebaran 2026: Serempak atau Beda Lagi? Ini Faktanya...!
Belakangan beredar kabar kalau Lebaran 2026 bakal serempak. Kedengarannya adem ya… tapi kalau kita cek data hisab, realitanya nggak sesimpel itu.
📍 Ambil sampel paling “menguntungkan”:
Sabang — titik paling barat Indonesia (biasanya peluang lihat hilal paling besar) Hasilnya:
🌙 Ketinggian hilal: ±3°
📏 Elongasi: ±5,2°
Sekilas keliatan “udah aman”, tapi… Masalahnya ada di standar Kriteria MABIMS. Standar terbaru MABIMS sebagai berikut:
Minimal tinggi: 3° ✅
Minimal elongasi: 6,4° ❌
Nah di sini mulai keliatan:
👉 Tinggi hilal pas banget di batas
👉 Tapi elongasi belum lolos
💡 Artinya apa?
Secara hisab: hilal sudah wujud, tapi secara kriteria visibilitas: belum layak terlihat (secara teori masih sulit banget dirukyat).
⚖️ Implikasi ke penentuan Lebaran
Kalau pakai metode pemerintah (imkan rukyat + MABIMS):
➡️ Hilal kemungkinan tidak dianggap memenuhi syarat
➡️ Bulan digenapkan (istikmal 30 hari)
➡️ Lebaran berpotensi jatuh: Sabtu, 21 Maret 2026
Kenapa bisa beda dengan kabar “serempak”. Karena tiap ormas punya pendekatan beda:
- Ada yang pakai wujudul hilal → asal hilal sudah di atas ufuk = masuk bulan baru
- Ada yang pakai imkan rukyat (MABIMS) → harus mungkin terlihat. Selama standar ini beda, ya…
Potensi beda tetap ada, meski harapan serempak selalu diinginkan.
Kesimpulan jujur aja: Lebaran 2026 berpotensi tidak serempak, dan versi pemerintah lebih condong tanggal 21 Maret 2026. Tapi finalnya tetap nunggu sidang isbat. Karena dalam praktiknya, rukyat di lapangan tetap jadi penentu terakhir.