"PADAHAL SUDAH NGAJI"
Pada sesi tanya jawab suatu kajian seorang ustadz mendapat pertanyaan dari seorang jamaah. Pertanyaannya dari seorang istri yang mengadukan akhlak suaminya yang menurutnya kasar "padahal sudah ngaji". Sang ustadz memberi jawaban agar ia bersabar karena itu pahala yang besar dan agar ia terus mendoakan suaminya.
Saya tidak membahas jawaban ustadz tersebut, cuma saya tertarik dengan frase "padahal sudah ngaji". Betapa sering saya menemukan kata-kata tersebut ketika seseorang mengadukan kekurangan bahkan aib manusia lainnya. Frase "padahal sudah ngaji" menunjukkan harapan akan kesempurnaan seseorang. Karena sudah belajar agama dan tahu dalil, dianggap setelah ngaji tidak akan pernah salah.
Kita semua manusia, bukan malaikat kawan. Kitalah orangnya, mau ustadz sekalipun, yang masih suka kalah dengan hawa nafsu. Yang sudah berusaha sungguh-sungguh menghindar dari perkara haram tapi terkadang masih gagal. Yang suka memberi nasihat tapi kita sendiri menyelisihinya. Yang memproklamirkan membenci setan terang-terangan, tapi justru berkawan ketika sendirian. Kitalah itu orangnya kawan.
Maka kata "padahal sudah ngaji" tujukanlah pada diri sendiri bukan kepada orang lain. Jadikanlah kata tersebut penasehat diri:
- Jika lisanmu ingin mengobral aib orang, tahanlah dan katakan "padahal aku sudah ngaji".
- Jika matamu tergoda melihat yang haram, lawanlah dan katakan "padahal aku sudah ngaji".
- Jika jiwamu enggan menunaikan hak pasangan, jangan begitu dan katakan "padahal aku sudah ngaji".
- Jika engkau ingin membongkar rahasia tetangga, urungkanlah dan katakan "padahal aku sudah ngaji".
- Jika engkau ingin berlaku curang dalam muamalah, urungkanlah dan katakan "padahal aku sudah ngaji".
- Jika syahwatmu mengajak kepada kebatilan, perangilah dan katakan "padahal aku sudah ngaji".
Ingatlah kawan, "sudah ngaji" bukan stempel orang suci yang tidak pernah salah, tapi tanda bahwa ia ingin menjadi orang yang lebih baik.
Uam