Selasa, 27 Januari 2026

Bagaimana Cara Mendapatkan Faedah dalam Pelajaran

::Faedah::

Bagaimana Cara Mendapatkan Faedah dalam Pelajaran 

Syaikh Dr. Abdullah Minkabu
Dosen Universitas Ummul Qura kota Mekkah Al-Mukarramah (Beliau memiliki keturunan Minangkabau Indonesia) 

Secercah faedah dari video berikut:

1). Salah satu sarana terpenting dalam memperoleh ilmu adalah mengambil ilmu dari para ulama baik secara langsung maupun pembelajaran jarak jauh melalui platform-platform pendidikan atau semisalnya.

2). Metode mengambil ilmu secara langsung kepada para ulama adalah metode permulaan yang seharusnya ditempuh seseorang dan merupakan salah satu cara mendapatkan yang paling bermanfaat, khususnya bagi penuntut ilmu pemula. 

3). Para penuntut ilmu sangat membutuhkan metode belajar langsung (talaqqi) kepada para ulama, daripada hanya sekadar membaca buku sendiri.

4). “Hendaklah berhati-hati dari mengandalkan buku pada awal belajar. Dalam setiap bidang harus bergantung kepada ahlinya dengan tetap memperhatikan sisi agamanya, keshalehannya, dan akhlaknya kepada murid.”

5). Siapa tidak pernah belajar langsung kepada seorang alim tentang pokok-pokok atau dasar-dasar ilmu (Ushul Ilmu), maka keyakinannya terhadap perkara-perkara yang sulit dan sukar hanyalah dugaan semata.

6). Urusan-urusan yang penting bagi penuntut ilmu adalah menentukan rencana belajar yang tepat, memilih pelajaran dan buku yang sesuai, memilih guru yang mumpuni, serta memiliki visi belajar yang jelas.

7). Bahwa usaha menuntut ilmu tidak berhenti hanya pada saat pelajaran atau mendengarkan ceramah.

Jika kita membaginya berdasarkan persentase usaha:

10% usaha sebelum pelajaran (persiapan)

30% usaha saat pelajaran (menghadiri & menyimak)

60% usaha setelah pelajaran (muroja’ah dan tindak lanjut)

8). Orang mengira cukup hanya dengan membuka YouTube, mendengar satu ceramah atau hanya menghadiri satu majelis ilmu kemudian dia menganggap itu sudah cukup untuk membangun kerangka keilman dan membentuk kemampuan ilmiah tentu itu anggapan yang keliru. 

(Fenomena ini banyak terjadi, ada orang-orang yang mencukupkan diri, mendengarkan kajian di youtube, merasa cukup, sehingga tidak lagi datang ke majelis ilmu. Ini salah besar. Majelis ilmu memiliki banyak keutamaan, berbeda dengan dengar pengajian di YouTube. Walaupun, tetap mendapatkan faedah dan kita tidak menafikan ini, terlebih di zaman sekarang kita bisa mendapatkan ilmu dengan mudah. Tetapi majelis ilmu, tetap tidak akan tergantikan. Maka, datanglah berbondong-bondong ke majelis ilmu, bawa keluarga). 

9). Sebelum menghadiri pelajaran kita harus punya tekad yang kuat terhadap pelajaran dan kitab yang sedang dipelajari. Keyakinan ini lahir dari rasa kebutuhan terhadap pelajaran tersebut, juga kepercayaan kepada guru dan manfaat materi tersebut bagi diri kita.

10). Penerimaan ilmu muncul dari rasa pengagungan terhadap ilmu itu sendiri.

11). Termasuk hal penting sebelum pelajaran adalah kejelasan tujuan dari belajar.

Berdasarkan tujuan itulah Anda menentukan cara persiapan:
1. Apa yang perlu dicatat
2. Cara muraja’ah

Tujuan belajar seseorang berbeda-beda. Materi pelajaran juga berbeda-beda.

Contoh:
Jika pelajaran bersifat tarbiyah dan keimanan, maka tujuan utamanya adalah pengaruh spiritual yang mendorong untuk melakukan amal.

Pelajaran seperti ini tidak perlu banyak catatan, tidak perlu banyak persiapan sebelum atau muroja’ah setelah.

Yang penting:
1. Hati yang hadir
2. Pikiran yang fokus
3. Renungkan setiap kata

Namun jika pelajaran bersifat ilmiah dan dasar keilmuan, seperti kitab dasar dalam nahwu, fikih atau akidah yang tujuan utamanya adalah membangun pondasi keilmuan. 

Karena itu perlu:
1. Persiapan sebelum pelajaran. 
2. Fokus tinggi saat pelajaran. 
3. Banyak muroja’ah setelah selesai pelajaran. 

Mengetahui tujuan dari pelajaran akan menjadi kunci dalam mengetahui:
1. Apakah perlu persiapan atau tidak
2. Apakah perlu catatan banyak atau tidak
3. Apakah perlu muroja’ah mendalam atau tidak

Contoh lain:
Jika Anda telah mempelajari satu kitab ushul fikih (misalnya Kitab Ushul min ‘Ilm al-Ushul karya Ibnu Utsaimin), lalu kemudian menghadiri pelajaran Nadzm al-Waraqat yang materinya mirip, maka pelajaran kedua ini sifatnya pengayaan, bukan pondasi awal.

Maka:
1. Catatan lebih sedikit. 
2. Fokus mengambil tambahan faedah yang belum pernah diketahui. 

Kesimpulannya:
Mengetahui apa tujuan Anda dari pelajaran tersebut akan menentukan metode persiapan, pencatatan, dan muroja’ah.

12). Kebanyakan pelajaran ilmiah dasar membutuhkan pembentukan gambaran ilmiah yang tepat. Maka tidak sepantasnya seorang siswa menghadiri pelajaran dalam keadaan kosong pikiran yaitu tidak tahu topiknya apa, tidak tahu pembahasan apa dan tidak tahu apa yang akan dijelaskan. Itu semua dapat mengurangi manfaat.

13. Metode terbaik mempersiapkan pelajaran: Mulai dengan membaca matan (teks inti) tanpa melihat penjelasan apa pun.

Bacalah dengan perhatian, meneliti lafaz dan mencoba memahami maksud penyusun. 

Munculkan pertanyaan dalam diri:
1. Apa maksud kalimat ini?
2. Mengapa menggunakan istilah itu?
3. Apa pembahasan bab ini?

Jika Anda mempelajari hadis, misalnya Kitab Arba’in Nawawiyah:
1. Baca teks hadis dulu
2. Fahami 
3. Perhatikan bab yang diberikan oleh penyusun dan hubungannya dengan hadis

📌 Ini adalah langkah pertama persiapan yang sangat penting.

Setelah itu:
Baca syarah (penjelasan) yang singkat dan jelas. Bukan syarah panjang. 

Tujuannya:
1. Memverifikasi pemahaman pertama Anda
2. Meluruskan kesalahpahaman. 
3. Menambah sisi yang belum Anda pahami atau menguatkan pemahaman. 

Hal ini membantu ilmu tertanam dengan kuat karena melalui proses berpikir dan koreksi.

Setelah dua langkah ini, Anda akan pergi ke kelas:
1. Sudah mengenal materi
2  Sudah punya pertanyaan
3. Sudah punya gambaran

Sehingga pelajaran, menemui hati yang siap menerima ilmu.

14). Salah satu manfaat terbesar dari persiapan adalah anda akan tahu apa yang perlu dicatat dan apa yang tidak perlu dicatat.

Ketika membaca syarah sebelum pelajaran:
1. Definisi sudah Anda ketahui
2. Dalil sudah tertera
3. Poin utama sudah tertata

Maka saat guru menyampaikan, Anda hanya menuliskan:
1. Penjelasan tambahan
2. Faedah yang belum Anda dapati
3. Jawaban atas pertanyaan Anda sebelumnya

Dengan begitu, catatan Anda akan lebih ringkas, terukur dan tepat sasaran.

Ibnu Badran rahimahullah berkata:

“Kami memulai dengan memahami matan terlebih dahulu tanpa melihat syarah, lalu membaca syarah untuk menguji pemahaman kami…”

Beliau menegaskan bahwa metode ini membuat seseorang mudah memahami seluruh kitab dalam satu disiplin ilmu, dan beliau berhasil menyelesaikan pembacaan dasar-dasar seluruh ilmu hanya dalam enam tahun.

15). Termasuk persiapan sebelum pelajaran adalah persiapan mental, dengan:
1. Menjauhkan gangguan,
2. Menjaga kejernihan pikiran,
3. Memilih waktu yang tepat,
4. Menyiapkan alat tulis.

Subhanallah, sudah kah kita memperhatikan cara terstruktur seperti ini sebelum belajar? 

Baik itu di perkuliahan, pondok pesantren maupun di majelis ilmu di masjid-masjid

16). Yang terpenting adalah menghadirkan niat ikhlas karena Allah karena menuntut ilmu adalah ibadah. 

17). Saat pelajaran berlangsung, fokus utama ada dua:
1. Memahami pelajaran dengan benar,
2. Mencatat dan mengikat faedah ilmu.

18). Tiga wasiat untuk memahami pelajaran dengan baik:
1. Mengumpulkan fokus dan berusaha memahami pelajaran. 
2. Memperhatikan. 
3. Bertanya kalau tidak mengerti. 

Para ulama berkata:
“Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah pengikatnya.”

Karena itu jangan remehkan satu faedah pun, jangan bergantung pada ingatan serta catatlah ilmu, karena ingatan bisa lupa.

19). Mencatat (ilmu) dilakukan ketika pelajaran berlangsung, bahkan dalam seluruh keadaan. 

Oleh karena itu para ulama berkata: “Seorang penuntut ilmu harus memiliki kertas catatan (kunnasy), tempat dua menulis ilmu ketika dia berjalan.”

Kunnasy adalah buku catatan kecil tempat seseorang menulis ilmu yang dia dengar. Seorang penuntut ilmu tidak boleh lepas darinya.

Jika kita sudah sepakat tentang pentingnya menulis, maka muncul pertanyaan penting: apa yang ditulis dan apa yang tidak perlu ditulis?

Tidak semua yang diucapkan dalam pelajaran harus ditulis. Menulis semua yang disampaikan guru (menerimanya mentah-mentah) justru akan menyibukkan pikiran dan mengganggu pemahaman. Yang perlu ditulis adalah inti pelajaran, kaidah, poin penting, pembagian masalah, faedah tambahan, dan penjelasan yang tidak terdapat dalam kitab atau syarah yang kita miliki.

Adapun definisi yang sudah tertulis di kitab, dalil yang telah tercantum dalam buku, atau penjelasan yang telah jelas di syarah, maka tidak perlu ditulis ulang, kecuali jika guru memberikan penekanan khusus, tambahan faedah, atau sudut pandang baru.

Di antara bentuk catatan terbaik adalah mencatat dengan kata-kata sendiri, bukan menyalin persis ucapan guru. Sebab ketika seseorang mampu menuliskan makna dengan bahasanya sendiri, itu menunjukkan bahwa ia telah memahami apa yang disampaikan.

20). Jangan remehkan menulis faedah kecil. Sebab bisa jadi satu faedah yang tampak sederhana hari ini, kelak menjadi kunci pemahaman besar di masa depan.

21). Sebagian penuntut ilmu berkata: “Saya akan mengingatnya.” Padahal ingatan sangat lemah dan mudah hilang. 

22). Termasuk kesalahan besar adalah seseorang menangkap buruan, lalu melepaskannya begitu saja di tengah manusia. Artinya, mendengar ilmu tetapi tidak menuliskannya.

Namun perlu diingat, menulis tidak boleh sampai mengganggu pemahaman. Jika seseorang sibuk menulis hingga tidak memahami apa yang dikatakan guru, maka dia telah kehilangan tujuan utama.

Maka keseimbangan sangat diperpenting
1. Mendengar dengan baik, 
2. Memahami dengan fokus, 
3. Lalu mencatat poin-poin penting.

Murajaah

Sebagaimana telah disebutkan di awal, bahwa usaha ilmiah terbagi menjadi tiga bagian:
10% sebelum pelajaran,
30% saat pelajaran,
dan 60% setelah pelajaran.

Maka, siapa yang menyia-nyiakan tahap setelah pelajaran, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan bagian terbesar dari proses menuntut ilmu.

Kesalahan umum sebagian penuntut ilmu adalah merasa cukup dengan hadir di majelis ilmu atau mendengarkan pelajaran, lalu berpindah ke pelajaran lain tanpa pernah kembali mengulang apa yang telah dipelajari.

Padahal ilmu itu tidak akan menetap di hati kecuali dengan pengulangan dan penguatan secara bertahap. 

Di antara keterampilan terpenting setelah pelajaran adalah murajaah, yaitu mengulang kembali pelajaran. Murajaah ini tidak harus panjang, tetapi harus teratur dan konsisten.

Minimal, setelah pelajaran selesai, penuntut ilmu membuka kembali catatannya pada hari yang sama, memeriksa apa yang ditulis, memperbaiki kesalahan, dan melengkapi bagian yang kurang.

Mengulang pelajaran pada hari yang sama memiliki pengaruh besar dalam تثبيت (menetapkan) ilmu di dalam ingatan. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa mengulang di hari yang sama setara dengan mengulang beberapa kali di hari berikutnya.

Merapikan Catatan

Termasuk bagian dari murajaah adalah menyusun ulang catatan. Catatan yang dibuat saat pelajaran biasanya cepat, singkat, dan terkadang tidak rapi. Maka setelah pelajaran, perlu disusun kembali dengan tulisan yang lebih jelas dan sistematis.

Dalam proses ini, penuntut ilmu akan menemukan bahwa sebagian poin sudah dia pahami dengan baik dan sebagian lainnya masih kabur. Di sinilah dia mengetahui titik kelemahan pemahamannya.

Jika ada bagian yang belum jelas, maka dia bisa merujuk ke kitab, syarah, atau bertanya kepada guru di pertemuan berikutnya.

Mengikat Ilmu dengan Pemahaman

Di antara cara paling kuat untuk mengikat ilmu adalah menjelaskannya kembali, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Jika engkau mampu menjelaskan pelajaran dengan bahasamu sendiri secara runtut, maka ketahuilah bahwa engkau telah memahaminya dengan baik.

Sebagian ulama berkata: “Ilmu yang tidak engkau ulangi, akan pergi. Dan ilmu yang tidak engkau ajarkan, akan melemah.”

Mengamalkan Ilmu

Puncak dari manfaat ilmu adalah mengamalkannya. Ilmu yang diamalkan akan menetap, sedangkan ilmu yang tidak diamalkan akan cepat hilang.

Ilmu syar‘i secara khusus tidak hanya dituntut untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan dan dijadikan sarana mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Barang siapa bersungguh-sungguh mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum dia ketahui.

Di akhir pembahasan ini, saya menasihati diri saya sendiri dan saudara-saudara sekalian untuk selalu bersabar dalam menuntut ilmu. Jalan ilmu adalah jalan yang panjang dan membutuhkan ketekunan.

Jangan tergesa-gesa ingin cepat selesai, dan jangan pula berpindah-pindah sebelum menuntaskan apa yang telah dimulai.

Bersyukurlah kepada Allah atas kemudahan akses ilmu di zaman ini, dan manfaatkanlah nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya.

Semoga Allah Azza Wa Jalla menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai ilmu yang bermanfaat, mengangkat derajat kita, dan menjadikannya hujjah bagi kita, bukan hujjah atas kita.
__
Semoga Allah memberikan taufik, keberkahan, dan pertolongan kepada kita semua.

27 Januari 2026
Tanjungpinang, Kepulauan Riau

Ditulis oleh:
Andre Satya Winatra

📡 Jangan lupa Ikuti dan Follow Platform Media Sosial kami: 

Youtube:
https://bit.ly/UstadzAndreSatyaWinatraOfficial

Telegram:
https://t.me/catatanAndreSatyaWinatra

Saluran Whatsapp:
https://whatsapp.com/channel/0029VawEBXA5K3zVFQBwds0i