Sabtu, 31 Januari 2026

Perkataan Ahmad bin Hanbal dalam Bantahan terhadap Jahmiyyah tentang Al-Qur'an

Perkataan Ahmad bin Hanbal dalam Bantahan terhadap Jahmiyyah tentang 
Al-Qur'an
Ahmad berkata dalam tulisannya: "Kemudian orang Jahmi mengklaim hal lain, 
dia berkata: 'Aku menemukan ayat dalam Kitab Allah yang menunjukkan 
bahwa Al-Qur'an itu makhluk.'
Kami berkata: 'Ayat mana?' Dia berkata: 'Firman Allah Azza wa Jalla:
"Sesungguhnya Al-Masih Isa bin Maryam itu adalah utusan Allah dan
KalimatNya yang disampaikan kepada Maryam", dan Isa itu makhluk.'
Kami berkata: 'Sesungguhnya Allah mencegahmu dari memahami Al-Qur'an.
Sesungguhnya pada Isa berlaku ungkapan-ungkapan yang tidak berlaku pada
Al-Qur'an, karena dia disebut yang dilahirkan, bayi yang menyusu, anak kecil,
dan remaja. Dia makan dan minum, dia diajak bicara dengan perintah dan
larangan, padanya berlaku janji dan ancaman, kemudian dia dari keturunan
Nuh dan dari keturunan Ibrahim. Maka tidak halal bagi kami untuk
mengatakan tentang Al-Qur'an apa yang kami katakan tentang Isa. Apakah
kalian mendengar Allah berkata tentang Al-Qur'an apa yang Dia katakan
tentang Isa?
Tetapi makna dari firman Allah Jalla Tsana-uh: "Sesungguhnya Al-Masih Isa
bin Maryam itu adalah utusan Allah dan KalimatNya yang disampaikan kepada
Maryam", maka kalimat yang disampaikan kepada Maryam adalah ketika Dia
berkata kepadanya: "Kun (Jadilah)" maka jadilah Isa shallallahu alaihi
wasallam dengan "kun". Maka Isa bukanlah "kun" itu, tetapi dengan "kun" dia
menjadi ada. "Kun" dari Allah adalah perkataan, dan "kun" bukanlah makhluk.
Orang Nasrani dan Jahmiyyah telah berdusta atas Allah dalam masalah Isa.
Jahmiyyah berkata: "Isa adalah ruh Allah dan KalimatNya, kecuali bahwa
KalimatNya itu makhluk." Orang Nasrani berkata: "Isa adalah ruh Allah dari
dzat Allah, dan Kalimat Allah dari dzat Allah, sebagaimana dikatakan: kain ini
dari kain itu."
Kami berkata: "Sesungguhnya Isa ada dengan Kalimat dan Isa bukanlah
Kalimat itu." Adapun firman Allah Ta'ala: "ruh dariNya", artinya: dari
perintahNya ada ruh di dalamnya, seperti firmanNya: "Dan Dia menundukkan
untuk kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya dariNya",
artinya: dari perintahNya. Dan tafsir "ruh Allah" maknanya adalah ruh yang
dimiliki Allah, yang diciptakan Allah, sebagaimana dikatakan: hamba Allah,
langit Allah, dan bumi Allah."
Imam Ahmad menjelaskan bahwa Jahmiyyah yang mu'attilah (peniadaan
sifat) dan Nasrani yang hululi (paham hulul), sesat dalam masalah ini.
Jahmiyyah yang nafi (peniadaan) menyerupakan Khaliq Ta'ala dengan
makhluk dalam sifat-sifat kekurangan, sebagaimana Allah Ta'ala ceritakan

tentang Yahudi bahwa mereka mensifati Dia dengan kekurangan-kekurangan.
Demikian juga Jahmiyyah yang nafi ketika mereka berkata: "Dia pada
DziratNya tidak berbicara dan tidak mencintai," dan semacam itu dari
peniadaan mereka.
Hululiyyah menyerupakan makhluk dengan Khaliq, maka mereka mensifatinya
dengan sifat-sifat kesempurnaan yang tidak layak kecuali untuk Allah,
sebagaimana dilakukan Nasrani terhadap Al-Masih.
Dan orang yang menggabungkan antara peniadaan dan hulul, seperti hululi
Jahmiyyah: seperti pemilik Al-Fusus dan lainnya, mereka berkata: "Tidakkah
engkau melihat Al-Haq tampak dengan sifat-sifat yang baru, dan Dia
mengabarkan tentang diriNya dengan itu, dan dengan sifat-sifat kekurangan
dan celaan? Tidakkah engkau melihat makhluk tampak dengan sifat-sifat Al-
Haq, maka semuanya adalah sifat-sifatNya, sebagaimana sifat-sifat makhluk
adalah hak Allah."
Maka mereka mensifati makhluk dengan segala yang disifatkan pada Khaliq,
dan mensifati Khaliq dengan segala yang disifatkan pada makhluk, karena
kesatuan, persatuan, dan hulul umum menghendaki hal itu.
Lafaz "kalam" seperti lafaz: rahmat, perintah, qudrat, dan semacam itu dari
lafaz-lafaz sifat yang mereka sebut dalam istilah nahwu sebagai masdar. Dari
bahasa Arab bahwa lafaz masdar sering diekspresikan dengan maf'ul,
sebagaimana mereka berkata: dirham darb al-amir (dirham buatan amir).
Darinya firman Ta'ala: "Ini adalah ciptaan Allah", artinya: makhlukNya.
Maka "amr" (perintah) dimaksudkan dengannya nama masdar itu sendiri,
seperti firmanNya: "Maka apakah engkau durhaka terhadap perintahKu", "Maka
hendaklah berhati-hati orang-orang yang menyalahi perintahNya", "Itulah
perintah Allah yang diturunkanNya kepada kalian".
Dan dimaksudkan dengannya yang diperintahkan, seperti firman Ta'ala: "Dan
perintah Allah adalah takdir yang sudah ditetapkan", "Telah datang perintah
Allah maka janganlah kalian meminta dipercepat". Yang pertama adalah kalam
Allah dan sifat-sifatNya, dan yang kedua adalah maf'ul dari itu dan
implikasinya serta tuntutannya.

Demikian juga lafaz "rahmat" dimaksudkan dengannya sifat Allah yang
ditunjukkan oleh namaNya: Ar-Rahman, Ar-Rahim, seperti firman Ta'ala:
"Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmuMu meliputi segala sesuatu", dan
dimaksudkan dengannya apa yang Dia rahmati kepada hamba-hambaNya dari
makhluk-makhluk, seperti sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
"Sesungguhnya Allah menciptakan rahmat pada hari Dia menciptakannya
seratus rahmat."
Dan sabdanya tentang Allah Ta'ala: "Dia berkata kepada surga: 'Engkau adalah
rahmatKu, Aku merahmati dengan engkau siapa yang Aku kehendaki dari
hamba-hambaKu,' dan Dia berkata kepada neraka: 'Engkau adalah azabKu,
Aku menyiksa dengan engkau siapa yang Aku kehendaki dari hamba-
hambaKu.'"
Demikian juga kalam dimaksudkan dengannya kalam yang merupakan sifat,
seperti firman Ta'ala: "Dan sempurnalah Kalimat Rabbmu dengan benar dan
adil", dan firmanNya: "Mereka ingin mengubah Kalam Allah".
Dan dimaksudkan dengannya apa yang dilakukan dengan kalimat, seperti Al-
Masih yang dikatakan kepadanya "kun" maka dia menjadi ada. Maka dia
diciptakan tanpa ayah dengan cara yang tidak biasa dan tidak dikenal pada
manusia. Maka dia menjadi makhluk dengan hanya kalimat, berbeda dengan
kebanyakan manusia, sebagaimana Adam dan Hawa juga diciptakan dengan
cara yang tidak biasa. Maka Isa alaihissalam menjadi makhluk dengan hanya
kalimat, berbeda dengan manusia lainnya.
Dalam bab ini, bab yang dinisbahkan kepada Allah Ta'ala, sesat dua golongan:
Golongan yang menjadikan semua yang dinisbahkan kepada Allah sebagai
nisbah ciptaan dan kepemilikan, seperti nisbah rumah dan unta kepadaNya.
Ini adalah pendapat penafi sifat dari Jahmiyyah dan Mu'tazilah dan yang
menyetujui mereka, hingga Ibn Aqil dan Ibn Al-Jauzi dan yang serupa dengan
mereka, ketika mereka condong kepada pendapat Mu'tazilah mereka
menempuh jalan ini, dan berkata: "Ini adalah ayat-ayat nisbah, bukan ayat-ayat
sifat," sebagaimana disebutkan Ibn Aqil dalam kitabnya yang bernama "Nafi
At-Tasyabbuh wa Itsbat At-Tanzih", dan disebutkan Abu Al-Faraj Ibn Al-Jauzi
dalam "Minhaj Al-Wusul" dan lainnya. Ini adalah pendapat Ibn Hazm dan yang
serupa dengannya dari orang yang menyetujui Jahmiyyah dalam meniadakan
sifat meskipun mereka menisbahkan diri kepada hadits dan sunnah.
Dan golongan yang berseberangan dengan mereka menjadikan semua yang
dinisbahkan kepadaNya sebagai nisbah sifat, dan mereka mengatakan
dengan qadimnya ruh. Di antara mereka ada yang mengatakan dengan
qadimnya ruh hamba, karena firmanNya
Cuplikan dari kitab: 
Dar'u Ta'arudh al-'Aql wa an-Naql (درء تعارض العقل والنقل) adalah kitab monumental karya Ibnu Taimiyah