Fenomena Minta Berkat (Tabarruk) dan Pengagungan Kuburan (Makam) dalam Kritik Buya Hamka
☆☆☆
Buya Hamka, seorang ulama besar Muhammadiyah dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama, pernah menyampaikan kritiknya mengenai fenomena minta berkat (tabarruk) dan pengagungan makam (kuburan), dengan pernyataannya berikut:
"Maka amat cepatlah manusia berpaling kepada yang lain, dan meninggalkan jalan Tuhan. Dibesarkannya sesama manusia sampai menyamai derajat Allah. Ada sesamanya manusia yang dikatakannya keramat, Wali Allah, lalu mereka meminta berkat atau meminta pertolongan kepada Keramat dan Wali—katanya—itu. Bilamana keramat atau walinya itu meninggal dunia, diperbuatkannya makam dan kubah di kuburnya, mula dihormati seperti biasa kemudian dipandang sebagai suatu tempat suci, cuma menamainya berhala yang tidak, namun hakikatnya sudah berhala, diantarkan ke sana bunga dan dibakarkan kemenyan, diambil menjadi berniat dan bernazar.
Lebih menyakitkan hati lagi bilamana bukan kubur saja yang di-Tuhan-kan, bahkan orang yang masih hidup."
[Ref.: Islam: Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial, hlm. 28, Prof. Dr. Hamka, editor: H. Rusjdi, PT Pustaka Panjimas, Jakarta, cet. pertama, Maret 1984.]
Anda ingin mendapatkan PDF buku di atas? Berikut link-nya: https://t.me/samha_library/57
adniku 260126
#Hamka #muhammadiyah #kuburan #makam #makamkeramat #makamwali