Guru dalam belenggu murid.
Kata nenek moyang dulu, guru itu maknanya adalah: digugu dan ditiru....alias dipercayai dan diikuti.
Kok demikian?
Ya, karena normalnya, guru itu lebih berilmu dan lebih dewasa, sehingga pendapat dan pertimbangannya lebih matang.
Namun demikian, betapa sering sebagian murid berusaha mempengaruhi gurunya....bila gurunya berkata atau bersikap yang kurang bisa mereka pahami, maka mereka segera komplain, memberikan tekanan psikologi agar gurunya mengikuti kemauan murid muridnya tersebut.
Dalam kondisi seperti inilah guru dituntut memiliki keberanian dan keteguhan prinsip.
Dikisahkan, suatu hari ada seorang lelaki datang menemui sahabat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma untuk bertanya: "Apakah taubat orang yang dengan sengaja membunuh orang beriman dapat diterima ??"
Ibnu Abbas menjawab: "Tidak, ia hanya ada satu pilihan yaitu masuk neraka."
Lelaki itu segera pergi, dan sepergi lelaki itu, para murid Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu mengutarakan keheranannya, dan berkata kepada sang guru yaitu Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma : "Selama ini, tidak demikian yang engkau ajarkan kepada kami?
Selama ini engkau mengajarkaan kepada kami bahwa taubat pembunuh orang beriman dapat diterima, mengapa hari ini jawabanmu berbeda ?"
Ibnu Abbas menjawab keheranan murid muridnya : "Aku memperkirakan orang tadi adalah orang yang sedang marah dan hendak membunuh orang beriman "
Penasaran dengan prediksi sang guru, para murid beliaupun segera mencari tahu perihal penanya tersebut dan ternyata sesuai dengan prediksi guru mereka Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu. (Ibnu Abi Syaibah)
Bahkan sekelas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak luput dari ulah audients atau sebut murid yang tidak tahu diri seperti di atas. Suatu hari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam mebagi bagikan harta rampasan perang. Tiba tiba ada seorang lelaki yang tanpa tahu diri, bersuara keras:
اعدل يا محمد فأنك لم تعدل
Wahai Muhammad, berbuatlah yang adil karena tindakanmu membagi rampasan perang ini tidak adil. (Ahmad, Ibnu Majah dll)
Bila kejadian ini terjadi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bagaimana dengan para guru, ustadz kiyai di zaman sekarang.
Karena itu, guru harus memiliki nyali untuk memposisikan dirinya sebagai panutan, sehingga siap dan teguh berpegang pada prinsip tidak goyah dengan tekanan psikologi atau ekonomi yang dilakukan oleh murid-muridnya.
Lo, apa ada murid yang durhaka dengan mengendalikan gurunya?
Simak status selanjutnya….sambil nunggu, silahkan persiapkan diri anda untuk mendaftarkan diri esok pagi di sini: https://stdiis.ac.id/headline/brosur-pmb-stdiis-t-a-2026-2027/