Jumat, 30 Januari 2026

Manhaj itu apa sih?

Manhaj itu apa sih?

Sebagian orang merasa paling kokoh manhajnya, dan selalu menjadikan kata "manhaj" menjadi senjata pamungkus dan paling ampuh untuk menjatuhkan orang lain?

Pernahkah anda bertanya : manhaj tuh apa sih?

Di mana bukunya? atau apa perinciannya?

Manhaj itu secara bahasa artinya adalah jalan, cara alias metodologi.

Jadi manhaj salaf artinya jalan atau metodologi kaum terdahulu. 

Dalam urusan apa? 
Ya dalam beragama secara kafah/menyeluruh; Memahami dalil dalil agama, mengamalkannya, mendakwahkan, menyikapi kawan dan juga lawan.

Anehnya, banyak orang yang sok merasa kokoh manhajnya, namun faktanya, merasa bahwa manhaj itu tidak ada kaitannya dengan  fiqih, atau fiqih bukan bagian dari manhaj, akidah berbeda dengan manhaj, tafsir tidak termasuk manhaj, maka ini namanya kebodohan. 

La kalau kaedah kaedah keilmuan, termasuk ilmu ushul fiqih, kaedah fiqih, ushul tafsir, musthalah hadits, dan  lainnya saja belum sempat belajar, namun mengaku paham manhaj, maka itu jelas jelas kesesatan.

Memang tidak diragukan bahwa unsur manhaj terbesar ialah manhaj alais metodologi dalam beriman kepada Allah, Rasul dan rukun iman lainnya, alias aqidah.

Demikian pula dengan manhaj mengamalkan rukun rukun iman dalam kehidupan sehari hari, serta dalam mendakwahkannya dan meyikapi orang lain yang menerima atau menolaknya.
 
Demikian secara global, dan bila dirinci maka dalam setiap urusan ada cara/manhaj yang telah diajarkan dan dicontohkan kaum salaf.
Diantaranya dengan menerapkan konsep keadilan, alias memposisikan segala urusan secara proporsional. Setiap orang muslim dicintai sesuai kadar imannya, dan dibenci sesuai kadar dosa dan penyimpangannya.

Dan salah satu perincian manhaj dalam beramal yang dicontohkan oleh para ulama; sedari dahulu ialah beramal secara proporsional, karena itu para ulama membagi amalan menjadi rukun, wajib, sunnah, syarat, pembatal dan lainnya. Dengan demikian, kita dapat beribadah secara benar. Tatkala ada orang sholeh yang tidak bersedekap atau menggerak gerakkan jari ketika tasyahhud, atau ketika khutbah tidak membaca khutbatul hajah, semua itu disikapi dengan woles saja, karena semua itu sunnah bukan wajib atau rukun.

Satu kesesatan nyata bila rukun shalat disikapi sama dengan sunnah sunnah shalat, akibatnya orang yang sengaja meninggalkan sunnah dianggap shalatnya bid'ah, atau sebaliknya meninggalkan rukun shalat dengan sengaja dianggap bagaikan meninggalkan sunnah shalat.

Dengan demikian, bisa jadi anda salah dalam satu permasalahan, bisa salah memahami, dalah mengamalkan, mengajarkan, salah menyikapi kawan atau lawan, termasuk salah dalam memprioritaskan sebagian hal, baik pada level pemahaman, praktek, dakwah, atau sikap.

Karenanya, bila ada yang mengatakan manhajnya benar atau salah, perlu ditanya lebih lanjut? Manhaj dalam urusan apa?

Khowarij misalnya sesat manhajnya karena salah metode dalam memahami dan mengaplikasikan dalil dalil yang bersifat ancaman (wa’iid), sedangkan murjiah sesat manhajnya dalam memahami dalil dalil yang membawa kabar gembira (wa’du).

Sekte Qadariyah dan Jabriyah sesat dalam memahami dan mengaplikasikan tentang qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla.
Sayang saat ini, kata manhaj sering diucapkan secara global alias “hantam kromo”, akibatnya terjadi kekacauan, bisa berupa penyempitan arti kata manhaj, atau pengaburan artinya.

Orang yang belum paham syarat, rukun, wajib, dan sunnah berbagai amalan, kok bisa bisanya ngaku paham manhaj!

Metode pendalilan dan mengkompromikan dalil saja masih rabun siang, kok merasa paling kokoh dalam hal manhaj!

Saat ini kata manhaj seakan hanya sebatas urusan menyikapi pihak yang berbeda atau bersebrangan, atau dalam urusan akidah saja, adapun urusan beramal/muamalah, ibadah personal, akhlaq kepada sesama, tazkiyatunnufus, dan lainnya tidak termasuk dari tema manhaj.

Jadi yang ngajinya dengan tema ushul fiqih, atau kaedah berdalil, kaedah fiqih, maka tidak diakui sebagai kajian tentang manhaj, yang diakui sebagai kajian tentang manhaj hanyalah kajian yang isinya bantah membantah, kritik mengkritik semata.

Sewaktu saya awal pulang dari Saudi, saya gencar mengadakan kajian fiqih mu'amalah. 

Eeeeh, ada seorang figur pendakwah senior yang berkata: dakwah itu harus mendahulukan akidah? dakwah kok tentang fiqih?

Saya cuma bisa tersenyum, kok bisa bisanya memisahkan akidah dari fiqih, padahal salah satu prinsip fiqih itu ya aqidah itu sendiri, meyakini riba itu haram, zina itu haram dan seterusnya adalah akidah, sehingga orang yang meyakini riba halal, mencuri halal, zina halal, menurut akidah salafy dianggap kafir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فهو المسلم له ذمة الله ورسوله

“Siapa yang sholat seperti sholat kita, menghadap kiblat kita, dan memakan binatang sembelihan kita, maka ia adalah orang muslim, ia memilik jaminan perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya.” (Al Bukhari dari hadits Anas bin Malik)

Makanya kalau anda ketemu dengan orang yang dikit dikit manhaj manhaj, manhaj, tanyakan saja, apa itu manhaj? dalilya apa? 

Nah, kalau anda tertarik belajar manhaj berdalil, termasuk manhaj berdakwah, segera bergabung di sini: https://stdiis.ac.id/headline/brosur-pmb-stdiis-t-a-2026-2027/