KENAPA KUBURAN SUNAN BONANG TIDAK DISEMEN DAN DIBERI KUBAH?
Penulis sejarah dan kebudayaan Jawa, Asti Musman menyebutkan, kenapa Kubur Sunan Bonang tidak di beri cungkup atau tanda lainnya?'. Seorang juru kunci makam, Abdul Wahid menjelaskan. Selain untuk menyimpan rahasia kubur sebenarnya, juga atas wasiat Sunan Bonang sendiri yang ingin mengikuti jejak ayahnya (Sunan Ampel). Agar kuburannya tidak di kultuskan.(lihat buku "Sunan Bonang Wali keramat" halaman : 242, Araska publisher)
Perlu di ketahui, dalam ajaran Islam sebenarnya. Bahwa kuburan tidak boleh di bangun atau di berikan cungkup, ini adalah perintah Nabi shalallahu alayhi wasallam kepada Shahabat Jabir, ia berkata,
عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970).
Bahkan dalam Madzhab Syafi'i, sebagaimana Madzhab yang di anut Sunan Bonang, di katakan dalam sebuah Matan yang cukup terkenal di kalangan Syafi’iyah yaitu matan Abi Syuja’ (matan Taqrib) disebutkan di dalamnya,
ويسطح القبر ولا يبني عليه ولا يجصص
“Kubur itu mesti diratakan, kubur tidak boleh dibangun bangunan di atasnya dan tidak boleh kubur tersebut diberi kapur (semen).” (Mukhtashor Abi Syuja’, hal. 83 dan At Tadzhib, hal. 94).
Lalu bagaimana dengan kuburan kuburan wali yang di bangun, bukan sekedar di semen tapi juga di cungkup ?
Bahkan kalau kita lihat Kubur wali walian, bukan sekedar di batu saja, tapi di kasihkan toping persis kue ulang tahun. Perlu diketahui, tradisi pembangunan kuburan adalah apresiasi pemerintahan Daulah Turki, terutama di akhir akhir kekuasaannya. Kerajaan Turki adalah kerajaan Sufiyah terbesar yang menganut berbagai macam thareqah Tasawuf.
Penulis sejarah, Dr. Ali Muhammad Shalabi. Dalam buku "Daulah Utsmaniyah" menyebut kan, orang orang turki sangat begitu cintanya kepada orang orang Dervish dan penganut Tasawuf, bahkan berlebihan sampai menganggap bahwa orang-orang Sufi sebagai Wali Allah.(883)
Kembali kepada berlebih lebihan-nya Khalifah Khalifah Turki, terhadap kuburan, sebagaimana di sebutkan dalam buku di atas, pada masa masa akhir kekhalifahan turki memberikan apresiasi terhadap pembangunan kuburan kuburan para waliyullah, di bangun cungkup dan tempat tempat ziarah. Kerajaan Turki memberikan akses kesemua Dunia Islam untuk membangun kuburan dan altar ziarah.
Pemerintah Turki sangat berlebihan di masa masa terakhir kekuasaan-nya, mencintai pembangunan terhadap segala yang di agungkan orang orang ketika itu, baik itu berupa kuburan kuburan atau peninggalan peninggalan para Nabi dan selainnya. (878)
Para sultan Utsmaniyyah memiliki hubungan dekat dengan dua kelompok sufi, Tarekat Mevlevi dan Tarekat Bektaşi. Tarekat Mevlevi, menisbatkan ajaran mereka kepada Jalaluddin Rumi, anggotanya adalah para intelektual Utsmaniyah; penyair, musisi, dan kaligrafer.
Tarekat Bektaşi. Tarekat yang di anut janeseri yaitu tentara turki dari berbagai elemen ras.
Maka Saat itu Islam yang berkembang terpengaruh dengan kerajaan Turki, dengan jalan Tasawuf terutama di abad ke 17 an Masehi. Islam yang tersebar di berbagai negeri penuh corak Thareqat bahkan sampai ke Indonesia pun di warnai dengan Islam Tasawuf.
Maka tidak heran, bila peninggalan peninggalan Islam tempo dulu, terutama makam makam bercorak Persia dan turki, karena peranan tasawuf sangat kental ketika itu.
Maka sebaik baiknya pengajaran dan petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalallahu alayhi wasallam, dan sejelek jeleknya Bid'ah adalah yang di ada adakan menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu alayhi wasallam.
Barokallahu fikum.
Sumber dicantumkan di kolom komentar.