Kamis, 29 Januari 2026

Perbaiki Kualitas Hidupmu

Hal 1
Perbaiki Kualitas Hidupmu

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, wa ba'du, Menjadi seorang muslim yang ideal tentu saja butuh perjuangan. Terlebih bagi mereka yang hidup di zaman penuh dengan fitnah dan ujian. Karena itu setiap muslim dituntut untuk berjuang memperbaiki dirinya setahap demi setahap, untuk hidup yang lebih berkualitas.

Berikut ini beberapa catatan yang bisa dijadikan agenda hidup bagi muslim, semoga b
isa mengantarkan dirinya menjaid pribadi yang lebib baik.

[1] Jaga keselamatan Iman

Syarat masuk surga adalah menjadi seorang mukmin yang bertauhid. Artinya dia menjaga iman dan tidak membawa dosa syirik sampai mati.

Allah berfirman,

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. al-Baqarah: 112)

Ketika perisiwa Khaibar, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan syarat untuk masuk surga. Beliau memanggil Umar bin Khatab Radhiyallahu 'anhu,

يا ابن الخطاب اذهب فناد في الناس أنه لا يدخل الجنة إلا المؤمنون

Wahai putra al-Khattab, berangkatlah dan sampaikan kepada masyarakat, sesungguhnya tidak boleh masuk surga kecuali orang yang beriman. (HR. Muslim)

Iman akan bertahan ketika sang hamba tidak memiliki dosa syirik akbar. Karena Allah tidak ridha terhadap perbuatan kesyirikan, dan mereka diharamkan masuk surga.

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ * وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya masuk surga, dan tempatnya di neraka. Tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. al-Maidah: 72)

Hal 2 
Ilustrasi Tauhid

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan tentang rukun islam, بني الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، والحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas 5 tiang: syahadat laa ilaaha illallaah dan bahwa Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa Ramadhan. (Muttafaq 'alaih)

Al-Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkan islam ibarat bangunan, dimana 5 rukun islam merupakan 5 tiang penyanggah utama. Sementara kewajiban islam lainnya, ibarat unsur bangunan lainnya, seperti tembok, dst.

Sedangkan amalan sunah dalam islam, ibarat perabotan yang menghiasi interiornya.

Ketika ada orang yang lebih memperhatikan amal sunah, namun tidak memperhatikan tauhid dan imannya, bisa jadi seperti orang yang mengisi rumahnya dengan aneka perabotan, namun dia merobohkan tiang utamanya, yaitu syahadat. Tentu bangunan itu akan ambruk. Apa manfaat perabotan ketika bangunannya ambruk?

Tauhid Selalu Menyertaiku

Ajaran tauhid harus selalu mewarnai hidup kita. Kemanapun kita bergerak, tauhid harus dijaga. Termasuk ketika kita mengkaji disiplin ilmu yang lain, ilmu tauhid harus tetap diikut sertakan. Sehingga saat kita belajar bahasa arab, atau belajar ilmu fiqh atau yang lainnya, pondasi tauhid harus menyertainya.

Hingga Sebagian ulama memberikan kaidah,

التوحيد لا ينتقل منه الى غيره بل ينتقل به الى غيره

Pelajaran tauhid tidak boleh ditinggalkan untuk beralih ke disiplin ilmu yang lain. Namun pelajaran tauhid diikut-sertakan ketika membahas disiplin ilmu yang lain.

[2] Jangan sia-siakan waktumu

Seorang mukmin ketika menjalani hidup, waktu ibarat modal, sedangkan amal ibadah ibarat keuntungan. Melewati sebuah waktu tanpa menambah amal, ibarat pengusaha yang berdagang, dia menggunakan modalnya, namun tidak mendapatkan keuntungan.

Hal 3
Ibnu Mas'ud pernah mengatakan,

مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدِمِي عَلَى يَومٍ غَرَبَت شَمسُهُ نَقص فِيهِ أَجَلِي وَلَمْ يَرْدَدْ فِيهِ عَمَلِي

"Belum pernah saya menyesal, melebihi penyesalanku terhadap hari yang berlalu dengan tenggelamnya matahari, usiaku berkurang, namun amalku tidak bertambah." (Qimatuz Zaman, hlm. 27)

Karena hakekat manusia adalah deretan waktu yang menjadi rentang umurnya. Ketika sebagian waktunya hilang, berarti ada sebagian unsur manusia yang berkurang. Hasan al-Bashri mengatakan,

يا ابن آدم إنما أنت أيام ، فَإِذَا ذَهَب يَومٌ ذَهَب بَعضُكَ

"Wahai manusia, kalian sejatinya adalah deretan waktu. Ketika sudah berlalu sehari, maka akan hilang pula sebagian dirimu."

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan akan nikmat waktu, agar dimanfaatkan sebaik mungkin, sebab tidak mungkin berulang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

نعمتان مغبون فيهما كثير من النَّاسِ الصحة والفراغ

"Ada 2 nikmat dimana banyak orang sering tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Disebut sering tertipu, karena orang tidak memanfaatkannya dengan maksimal, sehingga menimbulkan penyesalan.

Bagi para ulama, waktu lebih berharga dibandingkan kepingan emas. Mereka lebih pelit terhadap waktu dibandingkan pelitnya kita terhadap uang. Hasan al-Bashri mengatakan,

أدركت أقواماً كانوا على أوقاتهم أشد منكم حرصاً على دراهمكم ودنانيركم

"Aku menjumpai beberapa orang yang mereka lebih pelit terhadap waktu mereka, dibandingkan pelitnya kalian terhadap harta." (Syarhus Sunah, 14/255)

Karena itu, Allah bersumpah dengan menyebut demi waktu untuk menyatakan bahwa manusia itu rugi. Allah berfirman,

وَالْعَصْرِ ( ) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian..

Artinya, penyebab terbesar mengapa manusia rugi adalah karena gagal memanfaatkan waktu dengan baik.

Hal 4
[3] Jaga niat baik

Selalu menjaga niat yang baik, akan menjadikan hidup seorang mukmin lebih terarah dalam kebaikan. Bagi seorang mukmin, niat yang baik bisa memberikan pengaruh lebih kuat dibandingkan amalnya.

Terdapat sebuah hadis dhaif yang menyebutkan,

نِيَّةُ المُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

"Niat seorang mukmin, lebih baik dari amalnya." (HR. Thabrani dari Sahl bin Sa'ad dan dinilai dhaif oleh al-Albani)

Sekalipun hadis ini dhaif, namun secara makna bisa dibenarkan. Karena niat yang baik, ketika tidak jadi dilaksanakan, bisa bernilai ibadah. Sementara amal yang baik, jika dilakukan tanpa niat, tidak bernilai pahala.

Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman menjelaskan,

النية دون العمل قد تكون طاعة، قال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ هَم بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ؛ قالوا: والعمل دون النية لا يكون طاعة

"Niat tanpa amal, terkadang bisa menjadi ibadah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Siapa yang memiliki keinginan berbuat baik, namun dia tidak jadi mengamalkannya, akan dicatat untuknya satu pahala." Para ulama mengatakan, "Adapun amal tanpa niat, tidak dinilai ibadah."

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa niat yang baik, namun tidak jadi diamalkan, bisa bernilai pahala. Di antaranya, hadis dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, من أتى فراشه وهو ينوي أن يقوم يصلي من الليل، فغلبته عيناه حتَّى أصبح كُتِبَ لَهُ ما نَوى وَكَانَ

نومه صدقة عليه من ربه، عز وجل

"Siapa yang hendak tidur, dan dia berniat untuk bangun melakukan shalat malam, namun dia tertidur sampai subuh, maka dicatat untuknya sesuai apa yang dia niatkan, sementara tidurnya menjadi sedekah dari Allah untuknya." (HR. Nasai dan dishahihkan al-Albani)

Sebab ketika orang sudah memiliki niat, hanya tinggal satu langkah untuk berubah jadi amal, yaitu adanya sarana dan tidak ada penghalang dalam mengamalkannya. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan, para sahabat yang tidak ikut jihad karena sakit, mendapatkan pahala sebagaimana yang berangkat jihad.

Hal 5
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di hadapan pasukan ketika menuju Tabuk,

إنَّ بِالمَدِينَةِ لَرِجَالًا ما سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ؛ حَبْسَهُمُ المَرَضُ

"Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang, setiap kali kalian menempuh perjalanan atau melewati lembah, maka dia membersamai kalian dalam pahala. Mereka tertahan oleh sakit." (HR. Muslim)

Artinya, mereka tidak beramal bukan karena malas, bukan pula karena tidak suka beramal, namun mereka tidak jadi beramal karena ada udzur menghalangi mereka.

Di samping itu, niat juga menentukan kualitas amal seorang hamba. Sebagaimana keterangan Abdullah bin Mubarak,

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظْمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغْرُهُ النَّيَّةُ

"Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar pahalanya disebabkan kekuatan niat. Betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil pahalanya karena niat." (Jami' al-Ulum wal Hikam, hlm. 59)

Subhanallah... betapa besar pengaruh niat bagi seorang mukmin... Karena itu, Imam Ahmad berpesan kepada putranya Abdullah,

إنو الخير فإنَّك لا تَزالُ بِخَير مَا نُويت الخير

"Pasang selalu niat yang baik, karena engkau akan selalu dalam kebaikan, selama engkau memiliki niat yang baik." (al-Adab as-Syar'iyah, 1/104)

[4] Selalu merasa kerdil di hadapan ilmu

Ketika kita dilahirkan, kita dalam kondisi tidak mengetahui apa pun. Hingga Allah bukakan untuk kita ilmu dan pengetahuan setahap demi setahap. Allah berfirman,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ

تَشْكُرُونَ

"Allah mengeluarkan kalian dari rahim ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur." (QS. an-Nahl: 78)

Dengan belajar agama, kita seperti mengurangi potensi kebodohan yang ada pada diri kita. Mengingat pelajaran agama itu sangat banyak, maka dalam belajar ilmu ini perlu kita cicil setiap hari.

Hal 6
Ada banyak materi agama yang belum kita ketahui. Sehingga kata kuncinya ada pada keinginan untuk selalu menambah ilmu. Ketika seseorang masih memiliki keinginan untuk belajar, itu pertanda ada kebaikan pada dirinya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

من يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقُهْهُ فِي الدِّينِ

"Siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan pahamkan dalam masalah agama." (Muttafaq 'alaih)

Selama seseorang masih membuka diri untuk mau belajar, berarti dialah orang berilmu yang sejatinya.

Said bin Jubair rahimahullah pernah mengatakan,

لا يزالُ الرَّجلُ عَالِماً ما تَعَلَّمَ ، فإذا تَرَكَ التَّعَلَّمَ وظن أنه قد استغنى واكتفى بما عنده فهو أجهل ما يكون

"Seseorang akan senantiasa menjadi orang alim selama dia mau belajar. Ketika dia meninggalkan kegiatan belajar, dan menyangka bahwa dirinya telah mencukupi dengan ilmu yang dia ketahui, berarti dia adalah orang yang paling bodoh." (al-Majmu' Syarh Muhadzab, 1/56)

Bagi para ulama, menutup diri untuk belajar, baik karena malas, karena malu, ataupun karena sombong, hanya akan menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan (penyimpangan). Karena itu, pilihannya hanya ada 3:

[1] Menjadi orang alim yang menjadi sumber ilmu bagi masyarakatnya,

[2] Menjadi muta'allim - pembelajar yang serius untuk mengkaji agama,

[3] Menjadi pendengar ilmu, sekalipun di bawah tingkatan pembelajar.

Abu Darda pernah mengatakan,

كن عالماً أو مُتعلّماً أو مُسْتَمِعاً ولا تَكُن الرابع فَتَهْلَك

"Jadilah orang yang berilmu, atau penuntut ilmu (muta'allim), atau pendengar setia (mustami'), dan jangan menjadi orang keempat, maka kamu akan tersesat." (Takhrij Ihya' Ulumiddin, hlm. 63)

[5] Berusaha bermanfaat bagi umat

Prestasi manusia tidak diukur dari seberapa banyak potensi yang dia miliki. Baik kekayaan, jabatan, kecerdasan, maupun potensi lainnya. Prestasi manusia diukur dari seberapa banyak dia bisa memberikan manfaat bagi umat.

Ada sebuah hadis yang menyatakan,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

Hal 7
"Manusia yang paling dicintai Allah, adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (at-Thabrani dalam as-Shaghir, 862)

Dulu, waktu kita diaqiqahi, orang tua kita menuliskan harapan untuk anaknya di secarik kertas,

'Semoga menjadi anak yang saleh - salehah, berguna bagi orang tua, agama dan masyarakat.'

Semenjak bayi, orang tua menitipkan sebuah amanah yang luar biasa. Orang tua berharap kita menjadi manusia yang serbaguna. Bahkan, terkadang ditambah berguna bagi nusa dan bangsa. Jika kita simak, rasanya mustahil untuk bisa terwujud pada setiap anak muslim yang terlahir di muka bumi ini. Tapi, itulah harapan orang tua kita.. Yang jelas, orang tua kita menghendaki agar kita menjadi pribadi yang bermanfaat.

Menjadi pribadi yang bermanfaat, bagaimana caranya?

Islam menghargai semua kelebihan manusia, sebab potensi kita berbeda-beda. Namun, kelebihan itu baru ternilai, ketika pemiliknya paham syariat dan ilmu agama. Karena hanya dengan modal paham aturan agama, manusia bisa mengendalikan segala kelebihannya dengan benar, sehingga manfaatnya lebih luas.

Standar inilah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الإِسْلامِ، إِذَا فَقُهُوا

"Manusia adalah barang tambang. Manusia terbaik di zaman jahiliyah, dia juga yang terbaik setelah masuk Islam, apabila dia paham agama." (HR. Bukhari 3383 dan Muslim 2526)

Barang tambang beraneka ragam tingkatannya. Di sana ada emas, ada perak, nikel, besi, bahkan ada kerikil dan pasir. Masing-masing memiliki nilai yang jauh berbeda sesuai kelebihannya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memisalkan manusia sebagaimana layaknya barang tambang. Masing-masing memiliki nilai yang berbeda sesuai tingkat kelebihannya dan beragam potensinya.

Hal 8
Lalu, beliau menegaskan,

"Manusia terbaik di zaman jahiliyah, dia juga yang terbaik setelah masuk Islam, apabila dia paham agama."

Artinya, manusia terbaik adalah mereka yang memiliki banyak potensi yang dibutuhkan masyarakat. Hanya saja semua itu baru memiliki arti, ketika dihiasi dengan semangat agama.

Mulai dari yang sederhana

Memberi manfaat kepada orang lain tidak harus dengan skala besar, bisa juga dilakukan dari hal yang sederhana. Apalagi di era media sosial (medsos), setiap muslim memiliki ruang yang sangat longgar untuk bisa berbagi kebaikan kepada orang lain. Anda bisa lakukan dengan:

[1] Membagikan materi kajian yang bermanfaat dalam bentuk apa pun kepada orang lain, baik video, audio, artikel atau lainnya..

Bayangkan, bisa jadi dari video yang Anda share, ada satu atau sekian orang mendapat hidayah dari Allah. Tentu itu keuntungan yang sangat berharga. Ingat, hidayah dari Allah, kita hanya sebab, yang hanya bisa membagikan.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

فوالله لأن يهدي الله بك رجلًا واحدًا خير لك من أن يكونَ لكَ حُمْرُ النَّعَمِ

"Demi Allah, ketika Allah memberikan hidayah satu orang melalui usahamu, itu lebih baik dibandingkan kamu memiliki unta merah (kendaraan mewah)."

(HR. Bukhari)

[2] Anda bisa kasih dukungan untuk video atau materi kajian sunah, dengan me-like, komen yang positif, dst.

Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, bahwa beliau mengatakan,

لا تَقْتُلُوا الصَّفَادِع فَإِنَّ نَقِيقَهَا تَسبيح وَلَا تَقْتُلُوا الخُفَاسُ فَإِنَّه لَمَّا خَرَبَ بَيتَ الْمَقْدِسِ قَالَ يَا رَبِّ سلطنِي عَلَى البَحْرِ حَتَّى أُغْرِقَهُمْ

"Janganlah kalian membunuh katak, karena suaranya adalah tasbih.

Janganlah membunuh kelelawar, karena ketika baitulmaqdis dirobohkan, dia berdoa, 'Ya Allah, berikanlah aku kekuasaan untuk mengatur lautan, sehingga aku bisa menenggelamkan mereka (orang yang merobohkan

baitulmaqdis)." (HR. al-Baihaqi, beliau mengatakan, 'Riwayat ini mauquf, dan sanadnya sahih')


Ibnul Qoyim menjelaskan,

فتضمنت هذه الآية أمورا :

أحدها أن الحياة النافعة إنما تحصل بالاستجابة الله ورسوله وأكمل الناس حياة أكملهم

استجابة الدعوة الرسول

فمن لم تحصل له هذه الاستجابة فلا حياة له وإن كانت له حياة بهيمية مشتركة بينه وبين أرذل الحيوانات

فإن الله سُبْحَانَهُ بين العبد وبين قلبه فيعلم هل استجاب له قلبه وهل أضمر ذلك أو أضمر خلافه وعلى القول الأول فوجه المناسبة أنكم إن تناقلتم عن الاستجابة وأبطأتم عنها فلا تأمنوا أن الله يحول بينكم وبين قلوبكم فلا يمكنكم بعد ذلك من الاستجابة عقوبة لكم

ففي الآية تحذير عن تك الاستجابة بالقلب وان استحات بالجوارح

Ayat ini mencakup beberapa hal:

Salah satu keyakinan tersebut adalah bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya dapat dicapai dengan menanggapi Allah dan Rasul-Nya, dan kehidupan manusia yang paling sempurna adalah kehidupan orang yang paling sempurna.

Menanggapi seruan Sang Utusan

Siapa pun yang tidak menerima respons ini tidak memiliki kehidupan, bahkan jika ia menjalani kehidupan kebinatangan yang sama dengan hewan terendah sekalipun.

Karena Allah, Maha Suci Dia, berada di antara hamba dan hatinya, dan Dia mengetahui apakah hatinya telah menanggapi-Nya, dan apakah ia telah menyimpan tanggapan itu atau sebaliknya. Menurut penafsiran pertama, titik hubungannya adalah jika Anda menunda menanggapi dan lambat menanggapi, jangan merasa aman bahwa Allah tidak akan berada di antara Anda dan hati Anda, mencegah Anda untuk menanggapi kemudian sebagai hukuman bagi Anda.

Ayat tersebut berisi peringatan agar tidak hanya menanggapi dalam hati, meskipun dilakukan dengan anggota tubuh.

وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَنًا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانَا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَا تُوا وَهُمْ كَافِرُونَ أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامِ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ وَإِذَا مَا

Biarlah mereka menemukan kekerasan dalam dirimu. Dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang saleh. Dan ketika suatu surah diturunkan, sebagian dari mereka berkata, "Siapakah di antara kalian yang imannya bertambah karena surah ini?" Adapun orang-orang yang beriman, iman mereka bertambah dan mereka bergembira. Tetapi bagi orang-orang yang hatinya sakit, kezaliman mereka hanya bertambah dan bertambah, dan mereka tidak mati dalam keadaan kafir. Tidakkah mereka melihat bahwa mereka diuji setiap tahun? Sekali atau dua kali, kemudian mereka tidak bertaubat dan tidak mengingat. Dan ketika mereka

فتضمنت هذه الآية أمورا :

أحدها أن الحياة النافعة إنما تحصل بالاستجابة لله ورسوله وأكمل الناس حياة أكملهم استجابة الدعوة الرسول )

فمن لم تحصل له هذه الاستجابة فلا حياة له وإن كانت له حياة بهيمية مشتركة بينه وبين أردل الحيوانات

فإن الله سبحانه بين العبد وبين قلبه فيعلم هل استجاب له قلبه وهل أضمر ذلك أو أضمر خلافه وعلى القول الأول فوجه المناسبة أنكم إن تثاقلتم عن الاستجابة وأبطأتم عنها فلا تأمنوا أن الله يحول بينكم وبين قلوبكم فلا يمكنكم بعد ذلك من الاستجابة عقوبة لكم

ففي الآية تحذير عن ترك الاستجابة بالقلب وان استجاب بالجوارح

وفي الآية سر آخر وهو أنه جمع لهم بين الشرع والأمر به وهو الاستجابة وبين القدر والإيمان به فهي كقوله لِمَنْ شاءَ مِنكُمْ أن يستقيم وما تشاؤن إِلَّا أَنْ يَشَاءَ الله رب العالمين

Ayat ini mencakup beberapa hal:

Salah satu keyakinan tersebut adalah bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya dapat dicapai dengan menanggapi seruan Allah dan Rasul-Nya, dan kehidupan manusia yang paling sempurna adalah kehidupan orang yang paling sepenuhnya menanggapi seruan Rasulullah.

Siapa pun yang tidak menerima respons ini tidak memiliki kehidupan, bahkan jika ia menjalani kehidupan kebinatangan yang sama dengan hewan terendah sekalipun.

Karena Allah Yang Mahakuasa berada di antara hamba dan hatinya, dan Dia mengetahui apakah hatinya telah menanggapi-Nya, dan apakah ia telah menyimpan tanggapan itu atau sebaliknya. Menurut penafsiran pertama, titik hubungannya adalah jika Anda enggan dan lambat untuk menanggapi, jangan merasa aman bahwa Allah tidak akan berada di antara Anda dan hati Anda, mencegah Anda untuk menanggapi setelahnya sebagai hukuman bagi Anda.

Ayat tersebut berisi peringatan agar tidak mengabaikan untuk menanggapi dengan hati, meskipun seseorang menanggapi dengan anggota tubuh.

Dan dalam ayat itu terdapat rahasia lain, yaitu bahwa ayat itu menggabungkan bagi mereka hukum ilahi dan perintah untuk menaatinya, serta ketetapan ilahi dan keyakinan akan hal itu. Ini seperti firman-Nya, “Barangsiapa di antara kalian ingin menempuh jalan yang lurus, dan kalian tidak mau, maka Allah, Tuhan semesta alam, akan menghendakinya.”

Perbaiki Kualitas Hidupmu

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, wa ba'du, Menjadi seorang muslim yang ideal tentu saja butuh perjuangan. Terlebih bagi mereka yang hidup di zaman penuh dengan fitnah dan ujian. Karena itu setiap muslim dituntut untuk berjuang memperbaiki dirinya setahap demi setahap, untuk hidup yang lebih berkualitas.

Berikut ini beberapa catatan yang bisa dijadikan agenda hidup bagi muslim, semoga bisa mengantarkan dirinya menjaid pribadi yang lebib baik.

[1] Jaga keselamatan Iman

Syarat masuk surga adalah menjadi seorang mukmin yang bertauhid. Artinya dia menjaga iman dan tidak membawa dosa syirik sampai mati.
Ya, siapa pun yang menyerahkan diri kepada Allah dan berbuat baik akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, dan mereka tidak akan diliputi rasa takut maupun kesedihan.

(Tidak) tetapi barangsiapa yang tunduk kepada Allah sambil berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut serta kesedihan bagi mereka. (QS. al-Baqarah: 112)
Perbaiki Kualitas Hidupmu

Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, wa ba'du, Menjadi seorang muslim yang ideal tentu saja butuh perjuangan. Terlebih bagi mereka yang hidup di zaman penuh dengan fitnah dan ujian. Karena itu setiap muslim dituntut untuk berjuang memperbaiki dirinya setahap demi setahap, untuk hidup yang lebih berkualitas.

Berikut ini beberapa catatan yang bisa dijadikan agenda hidup bagi muslim, semoga bisa mengantarkan dirinya menjaid pribadi yang lebib baik.

[1] Jaga keselamatan Iman

Syarat masuk surga adalah menjadi seorang mukmin yang bertauhid. Artinya dia menjaga iman dan tidak membawa dosa syirik sampai mati.

Tuhan berkata,

Ya, siapa pun yang menyerahkan diri kepada Allah dan berbuat baik akan mendapat pahala di sisi Tuhannya, dan mereka tidak akan diliputi rasa takut maupun kesedihan.

(Tidak) tetapi barangsiapa yang tunduk kepada Allah sambil berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut serta kesedihan bagi mereka. (QS. al-Baqarah: 112)

Ketika peristiwa Khaibar terjadi, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan syarat-syarat untuk masuk surga. Beliau memanggil Umar bin Khattab (semoga Allah meridainya),

Wahai putra Al-Khattab, pergilah dan sampaikan kepada manusia bahwa hanya orang-orang berimanlah yang akan masuk surga.

Wahai putra al-Khattab, berangkatlah dan sampaikan kepada masyarakat, sesungguhnya tidak boleh masuk surga kecuali orang yang beriman. (HR. Muslim)

Iman akan bertahan ketika sang hamba tidak memiliki dosa syirik akbar. Karena Allah tidak ridha terhadap perbuatan kesyirikan, dan mereka diharamkan masuk surga.

Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan orang-orang yang berbuat zalim tidak akan mempunyai penolong.

Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya dan tempat tinggalnya di neraka. Dan orang-orang yang berbuat zalim tidak akan mempunyai penolong. (Surah al-Maidah: 72)


1. Haram masuk Sunga - kekal & neraka

(QS. al-Maidah :72) v

2. Amalnya hangus (@s. az-Zumar. 65)✓

3. Tak akan diampurni (QS an-Nisa: 48/116)

4. Ruh nya tak boleh naik ke langit 

Lalu dicampakan  (QS. al-Hajj : 32)


حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ، وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانِ سَحِيقٍ ذَلِكَ وَمَن يُعَظِمْ شَعَبَرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى ذُو تَحِلُهَا إِلَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهُ وَاحِدٌ فَلَهُ

Orang-orang beriman sejati adalah mereka yang teguh imannya kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan barangsiapa menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka seolah-olah ia jatuh dari langit dan diterbangkan oleh burung-burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. Begitulah adanya. Dan barangsiapa menghormati ritual-ritual suci Allah, sesungguhnya itu adalah dari ketakwaan hati. Di dalamnya terdapat manfaat bagi kalian untuk jangka waktu tertentu. Kalian dapat menghalalkannya bagi Baitullah. Dan bagi setiap umat Kami telah menetapkan ritual-ritual agar mereka menyebut nama Allah atas apa yang telah Dia berikan kepada mereka. Di antara hewan ternak, Tuhanmu adalah satu Tuhan, maka milik-Nya-lah

Amalan di kuburan 
#Mendoakan mayit 
#Ingat mati

Zakat ada 2 pendapat kafir dan masih muslim 
Orang yg tidak Puasa masih muslim dosa besar


جاء ملَكُ الموتِ إلى موسى لِيقبِضَ رُوحَه فقال له : أجِبْ ربَّك فلطَم موسى عيْنَ ملَكِ الموتِ ففقَأ عيْنَه فرجَع ملَكُ الموتِ إلى ربِّه فقال : يا ربِّ أرسَلْتَني إلى عبدٍ لا يُريدُ الموتَ وقد فقَأ عيني فردَّ اللهُ عليه عيْنَه فقال له : ارجِعْ إليه فقُلْ له : الحياةَ تُريدُ فإنْ كُنْتَ تُريدُ الحياةَ فضَعْ يدَك على متنِ ثَورٍ فإنَّك تعيشُ بكلِّ شَعرةٍ وارَتْ يدُك سنةً قال : ثمَّ مَهْ ؟ قال : الموتُ قال : فالآنَ مِن قريبٍ ثمَّ قال : ربِّ أَدْنِني مِن الأرضِ المُقدَّسةِ رَمْيةً بحجرٍ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ( لو أنِّي عندَه لَأرَيْتُكم قبرَه إلى جَنْبِ الطَّريقِ عندَ الكثيبِ الأحمرِ

خلاصة حكم المحدث : صحيح
الراوي : أبو هريرة | المحدث : شعيب الأرناؤوط | المصدر : تخريج صحيح ابن حبان | الصفحة أو الرقم : 6224

Malaikat maut datang kepada Musa 'alaihissalam untuk mencabut nyawanya dan berkata: 'Penuhilah panggilan Tuhanmu.' Maka Musa memukul mata Malaikat maut hingga matanya pecah (menonjol keluar).
Malaikat maut pun kembali kepada Tuhannya dan mengadu: 'Wahai Tuhanku, Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian, dan dia telah memukul mataku.' Lalu Allah mengembalikan mata malaikat tersebut dan berfirman: 'Kembalilah kepadanya dan katakan: Apakah engkau menginginkan kehidupan? Jika engkau menginginkan kehidupan, maka letakkanlah tanganmu di atas punggung seekor sapi jantan, maka engkau akan hidup satu tahun untuk setiap helai rambut yang tertutup oleh tanganmu.'
Musa bertanya: 'Lalu setelah itu apa?'
Malaikat menjawab: 'Kematian.'
Musa berkata: 'Maka (biarlah) sekarang saja (kematian itu datang) dalam waktu dekat.'
Kemudian Musa berdoa: 'Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku ke Tanah Suci sejauh lemparan batu.'
Rasulullah ﷺ bersabda: 'Seandainya aku berada di sana, niscaya akan aku perlihatkan kepada kalian kuburannya di pinggir jalan, di bawah tumpukan pasir merah (al-Katsib al-Ahmar).'"
Catatan Tambahan:
Status Hadis: Hadis ini Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dan dalam konteks teks yang Anda berikan, ditakhrij oleh Syuaib al-Arna'uth dalam Takhrij Shahih Ibnu Hibban. Kisah ini juga terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

طولُ العُمرِ مع حُسْنِ العَملِ مِن أسبابِ الفلاحِ والتَّفاضُلِ بين النَّاسِ، والله سُبحانَه وتعالى يُعْطي المُجتهِدَ على قَدْرِ اجتهادِه.
وفي هذا الحديثِ يُخْبِرُ طَلحةُ بنُ عُبيدِ اللهِ رضِيَ اللهُ عنه: "أنَّ رجُلينِ مِن بَلِيٍّ" وهم فَرعٌ مِن بني عُذْرةَ، وبنو عُذرةَ هم قَبيلةٌ كانتْ تَسكُنُ في وادي القُرى قُربَ المدينةِ، وكانُوا يَدينُونَ باليَهودِيَّةِ قَبلَ الإسلامِ، "قدِمَا على رسولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وكان إسلامُهما جميعًا"، أي: وَفَدا على النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُشهِرَينِ لإسلامِهما في وقتٍ واحدٍ، "فكان أحدُهما أشدَّ اجتهادًا مِن الآخرِ"، أي: في العِبادةِ وأعمالِ البِرِّ، "فغَزا المُجتهِدُ منهما"، أي: خرَجَ في الغَزوِ والجهادِ، "فاسْتُشْهِدَ، ثمَّ مكَثَ الآخَرُ بَعدَه سَنةً، ثمَّ تُوُفِّيَ"، أي: مات المُجتهِدُ شهيدًا، ومات صاحبُه بعده بسَنةٍ، قال طَلحةُ رضِيَ اللهُ عنه: "فرأيْتُ في المنامِ بينا أنا عِندَ بابِ الجنَّةِ"، أي: بجوارِ بابِها من الخارجِ، "إذا أنا بهما"، أي: بالرَّجُلينِ واقفَينِ عند بابِ الجنَّةِ، "فخرَجَ خارِجٌ من الجنَّةِ"، أي: ملَكٌ مِن الملائكةِ، "فأذِنَ للَّذي تُوُفِّيَ الآخِرَ منهما"، أي: سمَحَ بالدُّخولِ للَّذي مات أخيرًا قبلَ الَّذي مات شَهيدًا، "ثمَّ خرَجَ فأذِنَ للَّذي اسْتُشْهِدَ"، أي: أدخَلَه بعد صاحِبِه، "ثمَّ رجَعَ إليَّ"، أي: رجَعَ المَلَكُ إلى طَلحةَ مُخاطِبًا إيَّاه، "فقال: ارجِعْ؛ فإنَّك لم يَأْنِ لك بعدُ"، أي: وأنت فلم يحضُرْك أجَلُك لتدخُلَها، "فأصبَحَ طَلحةُ"، أي: مِن لَيلتِه الَّتي رأى بها تلك الرُّؤيا، "يُحَدِّثُ به النَّاسَ"، أي: يُخبِرُهم بها، "فعَجِبوا لذلك"، أي: تعجَّبُوا لدُخولِ الآخِرِ قبلَ الأوَّلِ وقد مات شهيدًا، "فبلَغَ ذلك رسولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وحَدَّثوه الحديثَ"، أي: علِمَ بها النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وتعجَّبَ النَّاسُ لحالِهما، فقال النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: "مِن أيِّ ذلك تعجَبونَ؟"، أي: ما سبَبَ تعجُّبِكم لحالِ الرَّجُلينِ، فقالوا: "يا رسولَ اللهِ، هذا كان أشدَّ الرَّجُلينِ اجتهادًا، ثمَّ اسْتُشْهِدَ، ودخَلَ هذا الآخِرُ الجنَّةَ قبلَه!" فقال رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: "أليس قد مكَثَ"، أي: عاشَ وقضَى في الحياةِ، "هذا بَعدَه سَنةً"؟ فعُمِّرَ وعاش بعدَ صاحبِه عامًا، قالوا: "بلى"، فقال النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: "وأدرَكَ رمضانَ فصامَ؟"، أي: حصَلَ له أجْرُ الصِّيامِ والقيامِ فيه وليلةِ القدْرِ، "وصَلَّى كذا وكذا من سَجدةٍ في السَّنةِ؟"، أي: صَلَّى ألفًا وثَمانَ مِئةِ صَلاةٍ من ذلك العامِ الصَّلاةَ المفروضةَ، وما شمِلَها مِن تَطوُّعٍ ونَافلةٍ، قالوا: "بلى"، قال رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: "فما بينهما أبعدُ ممَّا بين السَّماءِ والأرضِ"، وفي روايةِ أحمدَ: قال النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لطَلحةَ: "وما أنكَرْتَ مِن ذلك؟! ليس أحدٌ أفضلَ عند اللهِ مِن مُؤمنٍ يُعَمَّرُ في الإسلامِ؛ لتَسبيحِه وتَكبيرِه وتَهليلِه"، أي: إنَّ ذلك فضْلُ طولِ العُمرِ وزِيادةِ العَملِ مع إحسانِه؛ لأنَّه لا يَزالُ يأتي بالحَسَنِ من الأعمالِ، وتُدَّخَرُ له، وهذا مُوافِقٌ لِمَا أخرَجَه الترمذيُّ أنَّه صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قال: "خيرُ النَّاسِ مَن طال عُمرُه وحسُنَ عمَلُه".
وفي الحديثِ: بَيانُ فَضْلِ العمَلِ الصَّالحِ المصحوبِ بالنِّيَّة الصَّالحةِ، وأنَّه يَرفَعُ صَاحِبَه في الدَّرجاتِ.
وفيه: بَيانُ فَضْلِ طُولِ العُمُرِ مَع حُسْنِ العَملِ.
https://dorar.net/hadith/sharh/42275#:~:text=%7C%D8%A3%D8%B5%D9%88%D9%84%20%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB,%D9%8A%D9%8F%D8%B9%D9%92%D8%B7%D9%8A%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%8F%D8%AC%D8%AA%D9%87%D9%90%D8%AF%D9%8E%20%D8%B9%D9%84%D9%89%20%D9%82%D9%8E%D8%AF%D9%92%D8%B1%D9%90%20%D8%A7%D8%AC%D8%AA%D9%87%D8%A7%D8%AF%D9%90%D9%87.&text=%D9%81%D8%B9%D9%8F%D9%85%D9%90%D9%91%D8%B1%D9%8E%20%D9%88%D8%B9%D8%A7%D8%B4%20%D8%A8%D8%B9%D8%AF%D9%8E%20%D8%B5%D8%A7%D8%AD%D8%A8%D9%90%D9%87%20%D8%B9%D8%A7%D9%85%D9%8B%D8%A7,%D8%B7%D9%8F%D9%88%D9%84%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%8F%D9%85%D9%8F%D8%B1%D9%90%20%D9%85%D9%8E%D8%B9%20%D8%AD%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%86%D9%90%20%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%84%D9%90.

Thalhah (bin Ubaidillah) berkata:

"Aku bermimpi sedang berada di depan pintu surga, dan tiba-tiba aku melihat keduanya. Lalu ada seseorang yang keluar dari surga dan memberi izin kepada orang yang meninggal terakhir (yang tidak syahid) untuk masuk terlebih dahulu. Kemudian ia keluar lagi dan memberi izin kepada orang yang mati syahid untuk masuk. Setelah itu, ia kembali kepadaku dan berkata: 'Pulanglah, karena belum saatnya bagimu (untuk masuk).'

​Keesokan harinya, Thalhah menceritakan mimpi tersebut kepada orang-orang, dan mereka pun merasa heran. Kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, dan mereka menceritakan kejadian tersebut kepada beliau.

​Rasulullah ﷺ bertanya: 'Bagian mana yang membuat kalian heran?'

​Mereka menjawab: 'Wahai Rasulullah, orang ini dulunya lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah kemudian ia mati syahid, namun mengapa orang yang satunya lagi masuk surga lebih dulu?'

​Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bukankah orang ini masih hidup satu tahun setelahnya?'

Mereka menjawab: 'Benar.'

​Beliau bersabda: 'Dan ia mendapati bulan Ramadan, ia berpuasa, serta ia telah mengerjakan sekian banyak sujud (salat) dalam setahun itu?'

Mereka menjawab: 'Benar.'

​Rasulullah ﷺ bersabda: 'Maka perbedaan antara keduanya (derajat di surga) lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.'"

niat baik:

@jaga ikhlas
@ Jaga keinginan dan rencana anda 
https://dorar.net/hadith/sharh/1913

fuad agar sehat : 

@Selalu dilatih belajar 
Memperbaiki kualitas hidup 3
biar tampungan kuat di paksa untuk belajar
Hindari sampah batin : sakit hati iring dengki 
Memikirkan
1, masalah hidup =minimaliser tawakal
2.Memikirkan materi pelajaran 
fuad gara gara lemah karena gesekan

وكان ابنُ عمرَ يُصلِّي عليها ، ثم ينصرفُ ، فلما بلغَه حديثَ أبي هريرةَ قال : [ أكثرَ علينا أبو هريرةَ ، ( وفي روايةٍ : فتعاظمَه ) ] ، [ فأرسلَ خبَّابًا إلى عائشةَ يسألُها عن قولِ أبي هريرةَ ثم يرجعُ إليه فيُخبرُه ما قالتْ ، وأخذ ابنُ عمرَ قبضة من حصى المسجدِ يُقلبُها في يدِه حتى رجع إليه الرسولُ ، فقال : قالتْ عائشةُ : صدق أبو هريرةَ ، فضرب ابنُ عمرَ بالحصى الذي كان في يدِه الأرضَ ثم قال : ] لقد فرْطنا في قراريطَ كثيرةٍ ، [ فبلغ ذلك أبا هريرةَ فقال : إنه لم يكن يُشغلُني عن رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ صفقةَ السوقِ ، ولا غرْس الودي ، إنما كنتُ أُلْزِم النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لكلمةٍ يُعلمنيها ، وللقمةٍ يُطعمُنيها ] ، [ فقال له ابنُ عمرَ : أنت يا أبا هريرةَ كنتَ ألزمَنا لرسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وأعلمنا بحديثِه ] .
خلاصة حكم المحدث : هذه الزيادات كلها لمسلم، إلا الأخيرة، إسنادها صحيح، والتي قبلها سندها صحيح على شرط مسلم، والزيادة الثانية للشيخين
الراوي : أبو هريرة | المحدث : الألباني | المصدر : أحكام الجنائز | الصفحة أو الرقم : 89
| التخريج : أخرجه أحمد (4453) باختلاف يسير، وأخرجه البخاري (1323، 1324، 1325) مفرقاً بمعناه، ومسلم (945) بنحوه
https://dorar.net/hadith/sharh/69666#:~:text=*%20%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%86%D9%86%20%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%A8%D8%B1%D9%89%20%D9%84%D9%84%D8%A8%D9%8A%D9%87%D9%82%D9%8A%20*%20%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%B1%D8%A7%D8%A1%D8%A9%20%D8%AE%D9%84%D9%81,%D9%86%D8%A7%D8%B3%D8%AE%20%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB%20%D9%88%D9%85%D9%86%D8%B3%D9%88%D8%AE%D9%87%20*%20%D9%86%D8%A7%D8%B3%D8%AE%20%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB%20%D9%88%D9%85%D9%86%D8%B3%D9%88%D8%AE%D9%87
siapa yg jadi manusia untuk bermanfaat untuk orang lain 
Tercela jika yg foto di atas di banggakan