Selasa, 27 Januari 2026

Poin-Poin Penting Akidah dalam Ibadah Puasa (Muhimmat 'Aqdiyyah fi 'Ibadatish Shiyam).

terjemahan dari teks dalam gambar yang Anda unggah. Teks tersebut merupakan bagian dari buku atau risalah keagamaan (Islam) yang membahas tentang aspek Akidah dalam Ibadah Puasa.
Berikut adalah terjemahannya:
Halaman 5
Pentingnya Akidah dalam Ibadah Puasa
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Pembicaraan saya dalam beberapa menit ini adalah tentang ibadah puasa. Namun, karena saya melihat diri saya dan saudara-saudara saya perlu diingatkan kembali, maka judul ceramah ini adalah: "Pentingnya Akidah dalam Ibadah Puasa."
Maksud saya, ini adalah pembahasan iman dan pancaran cahaya yang berkaitan dengan amalan hati, yang merupakan inti dari pembahasan akidah, bahkan yang paling tinggi. Akan tampak jelas bagimu—wahai orang yang diberi taufik—bahwa antara puasa dan akidah terdapat ikatan yang sangat kuat. Saya telah menyusun poin-poin penting akidah ini ke dalam sembilan masalah, yang akan saya sampaikan satu per satu dengan pertolongan dan taufik dari Allah 'Azza wa Jalla.
Halaman 6
Masalah Pertama: Menyaksikan Karunia Allah dalam Taufik untuk Berpuasa.
(Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah)
Wahai saudara-saudaraku yang mulia: Sesungguhnya hal yang paling bermanfaat bagi seorang hamba adalah menyadari karunia Allah Jalla wa 'Ala kepadanya dalam ibadahnya. Begitu pula hal yang paling bermanfaat baginya adalah menyadari kekurangannya dalam ibadah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala-lah yang memberikan karunia ketaatan ini dan membantu melaksanakannya. Allah Ta'ala berfirman:
"Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: 'Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.'" (QS. Al-Hujurat: 17).
Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) rahimahullah berkata: "Seorang hamba yang arif berjalan menuju Allah di antara persaksian atas karunia Allah dan penglihatan atas aib (kekurangan) diri serta amalnya." Selesai perkataan beliau rahimahullah.
Dua perkara ini telah terhimpun dalam hadits Sayyidul Istighfar melalui sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku."
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan: "Hak Allah dalam ketaatan ada enam perkara:
Ikhlas dalam beramal.
Nasihat (kesungguhan) kepada Allah di dalamnya.
Muttaba'ah (mengikuti sunnah) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Persaksian atas maqam Ihsan.
Persaksian atas karunia Allah (bahwa semua dari Allah).
[Teks terpotong, biasanya poin terakhir adalah menyadari kekurangan diri].