Jumat, 30 Januari 2026

س /ما رأي فضيلتكم فيمن صار ديدنهم تجريح العلماء وتنفير الناس عنهم والتحذير منهم، هل هذا عمل شرعي يثاب عليه أويعاقب عليه ؟

تجريح العلماء وتنفير الناس عنهم والتحذير منهم



سئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين- رحمه الله -
س /ما رأي فضيلتكم فيمن صار ديدنهم تجريح العلماء وتنفير الناس عنهم والتحذير منهم، هل هذا عمل شرعي يثاب عليه أويعاقب عليه ؟

فأجاب فضيلته بقوله: الذي أرى أن هذا عمل محرّم، فإذا كان لا يجوز لإنسان أن يغتاب أخاه المؤمن وإن لم يكن عالماً فكيف يسوغ له أن يغتاب إخوانه العلماء من المؤمنين؟! والواجب على الإنسان المؤمن أن يكف لسانه عن الغيبة في إخوانه المؤمنين.
قال الله تعالى: "ياأيها الذين ءامنوا اجتنبوا كثيراً من الظن إن بعض الظن إثم ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتاً فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم ".
وليعلم هذا الذي ابتلي بهذه البلوى أنه إذا جرّح العالم فسيكون سبباً في رد ما يقوله هذا العالم من الحق، فيكون وبال رد الحق وإثمه على هذا الذي جرّح العالم، لأن جرح العالم في الواقع ليس جرحاً شخصياً بل هو جرح لإرث محمد صلى الله عليه وسلم ؛ فإن العلماء ورثة الأنبياء ، فإذا جرح العلماء وقدح فيهم لم يثق الناس بالعلم الذي عندهم وهو موروث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وحينئذ لا يثقون بشئ من الشريعة التي يأتي بها هذا العالم الذي جُرح.
ولست أقول إنّ كل عالم معصوم؛ بل كل إنسان معرّض للخطأ، وأنت إذا رأيت من عالم خطأ فيما تعتقده، فاتصل به وتفاهم معه، فإن تبيّن لك أن الحق معه وجب عليك اتباعه، وإن لم يتبين لك ولكن وجدتَ لقوله مساغاً وجب عليك الكف عنه، وإن لم تجد لقوله مساغاً فحذر من قوله لأن الإقرار على الخطأ لا يجوز، لكن لا تجرحه وهو عالم معروف مثلاً بحسن النية، ولو أردنا أن نجرح العلماء المعروفين بحسن النية لخطأ وقعوا فيه من مسائل الفقه، لجرحنا علماء كباراً، ولكن الواجب هو ما ذكرتُ ، وإذا رأيت من عالم خطأ فناقشه وتكلم معه، فإما أن يتبين لك أن الصواب معه فتتبعه أو يكون الصواب معك فيتبعك، أو لا يتبين الأمر ويكون الخلاف بينكما من الخلاف السائغ، وحينئذ يجب عليك الكف عنه وليقل هو ما يقول ولتقل أنت ما تقول. والحمد لله، الخلاف ليس في هذا العصر فقط، الخلاف من عهد الصحابة إلى يومنا .
وأما إذا تبين الخطأ ولكنه أصر انتصاراً لقوله وجب عليك أن تبين الخطأ وتنفر منه، لكن لا على أساس القدح في هذا الرجل وإرادة الانتقام منه؛ لأن هذا الرجل قد يقول قولاً حقاً في غير ما جادلته فيه.
فالمهم أنني أحذر إخواني من هذا البلاء وهو تجريح العلماء والتنفير منهم، وأسأل الله لي ولهم الشفاء من كل ما يعيبنا أو يضرنا في ديننا ودنيانا)
 أ.هــ


المرجع: كتاب العلم ، للشيخ محمد العثيمين- رحمه الله- ص 220 .
 dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengenai fenomena mencela ulama:
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Pertanyaan:
Apa pendapat Anda mengenai orang-orang yang kegemarannya adalah mencela para ulama, membuat orang lain lari dari mereka, serta memperingatkan (tahdzir) manusia agar menjauhi mereka? Apakah perbuatan ini termasuk amal syar'i yang akan diberi pahala, atau justru pelakunya akan disiksa?
Jawaban:
Pandangan saya, ini adalah perbuatan yang haram. Jika seseorang saja tidak diperbolehkan mengghibah (menggunjing) saudaranya sesama mukmin meskipun ia bukan seorang ulama, lalu bagaimana mungkin ia merasa legal untuk mengghibah saudara-saudaranya yang merupakan para ulama?! Kewajiban seorang mukmin adalah menahan lisannya dari menggunjing saudara-saudaranya sesama mukmin.
Allah Ta’ala berfirman:
> "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12).
Hendaknya orang yang diuji dengan penyakit ini menyadari bahwa ketika ia mencela seorang ulama, ia akan menjadi penyebab ditolaknya kebenaran yang disampaikan oleh ulama tersebut. Maka, dosa dan akibat dari penolakan terhadap kebenaran itu akan dipikul oleh orang yang mencela si ulama tadi. Sebab, mencela ulama pada hakikatnya bukan sekadar celaan pribadi, melainkan celaan terhadap warisan Muhammad ﷺ.
Para ulama adalah pewaris para Nabi. Jika ulama dicela dan dijatuhkan kehormatannya, maka orang-orang tidak akan lagi percaya pada ilmu yang ada pada mereka, padahal ilmu itu diwarisi dari Rasulullah ﷺ. Pada akhirnya, masyarakat tidak akan lagi memercayai syariat yang dibawa oleh ulama yang dicela tersebut.
Saya tidak mengatakan bahwa setiap ulama itu maksum (bebas dari dosa); justru setiap manusia pasti bisa berbuat salah. Jika Anda melihat kesalahan dari seorang ulama menurut keyakinan Anda, maka:
 * Hubungi dia dan berdiskusilah. Jika jelas bagi Anda bahwa kebenaran ada padanya, wajib bagi Anda mengikutinya.
 * Jika belum jelas, namun pendapatnya memiliki landasan yang kuat (masagh), maka Anda wajib menahan diri (tidak mencelanya).
 * Jika pendapatnya tidak memiliki landasan yang kuat, maka peringatkanlah (manusia) dari pendapatnya tersebut, karena mendiamkan kesalahan itu tidak boleh. Namun, jangan mencela pribadinya, apalagi jika ia adalah ulama yang dikenal memiliki niat baik.
Seandainya kita mencela setiap ulama yang dikenal berniat baik hanya karena kesalahan yang mereka lakukan dalam masalah-masalah fikih, niscaya kita akan mencela ulama-ulama besar. Namun, kewajiban yang benar adalah apa yang telah saya sebutkan tadi.
Jika Anda melihat kesalahan ulama, ajaklah berdiskusi. Pilihannya: dia yang benar lalu Anda mengikutinya, atau Anda yang benar lalu dia mengikuti Anda, atau masalahnya tetap tidak jelas dan perbedaan tersebut termasuk perbedaan yang diperbolehkan (khilaf sa'igh). Dalam kondisi terakhir, Anda harus menahan diri darinya; biarlah dia dengan pendapatnya dan Anda dengan pendapat Anda. Alhamdulillah, perbedaan pendapat tidak hanya terjadi di zaman ini, tapi sudah ada sejak zaman Sahabat hingga hari ini.
Adapun jika kesalahannya sudah nyata, namun ia tetap bersikeras hanya demi membela pendapatnya sendiri, maka Anda wajib menjelaskan kesalahannya dan membuat orang menjauhi kesalahan tersebut. Namun, hal itu dilakukan bukan dengan dasar menjatuhkan pribadinya atau niat balas dendam, karena bisa jadi orang tersebut mengatakan kebenaran dalam masalah lain yang tidak Anda perdebatkan.
Intinya, saya memperingatkan saudara-saudara saya dari musibah ini, yaitu mencela ulama dan membuat orang lari dari mereka. Saya memohon kepada Allah untuk saya dan mereka kesembuhan dari segala sesuatu yang mencoreng atau membahayakan agama dan dunia kita.
Sumber: Kitabul 'Ilmi, Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah, hal. 220.