تجريح العلماء وتتبع عثراتهم
الشيخ/ عبد الكريم الخضير
يقول: صار همّ بعض الشباب الكلام في العلماء والتجريح وتتبع عثراتهم حتى أنهم يطلقون على البعض أنه كذا أو كذا؟
المقصود أن على المسلم أن يحرص على عمله، وأهم ما على الإنسان نفسه، وما يخلصها وينجيها، ويترك الكلام في الآخرين؛ فأعراض المسلمين حفرة من حفر النار، وهذا ملاحظ بعض الناس إذا اختلفت معه في وجهة نظر انقلبت جميع الحسنات سيئات، ولا يقبل منك صرفاً ولا عدلاً.
يا أخي هذه وجهة نظر، يمكن هو المصيب وأنت المخطئ، ويبقى أن الإسلام -ولله الحمد- فيه شيء من السعة، وفيه مجال للاجتهاد إلا ما وردت فيه النصوص، والإنسان مأجور على اجتهاده ولو أخطأ -ولله الحمد-، وهذا من سعة رحمة الله -عز وجل-.
فالمسلم عليه أن يحرص على المحافظة على أعماله الصالحة التي سعى في جمعها، ولا يكون مفلساً، فالمفلس من يأتي بأعمال في روايةٍ: ((كالجبال)) صلاة وصيام وصدقة وبر وأمر بمعروف ونهي عن المنكر، ثم يوزعها يعطي فلان وفلان وفلان وعلان ((فيأخذ هذا من حسناته وهذا من حسناته، فإذا انتهت الحسنات يضاف إليه من سيئاتهم)) -نسأل الله السلامة- الحديث الصحيح، والله المستعان.
على كل حال أعراض المسلمين -كما قرر أهل العلم- حفرة من حفر النار، فليتقِ الله -سبحانه وتعالى- طالب العلم على وجه الخصوص، ولا يجعل نفسه حكماً على العباد.
والجرح والتعديل بالنسبة للرواة على خلاف الأصل؛ لأن الأصل المنع، لكن العلماء أجازوه -بل أوجبوه- للضرورة الداعية إليه، فلولا الجرح والتعديل لم يعرف الصحيح من الضعيف، لكن ما الداعي إلى أن يقال: فلان وفلان وفلان؟
لا مانع أن ينبه الإنسان على الخطأ، وأن يقال: فعل كذا خطأ، منهج شيخ الإسلام -رحمه الله- التشديد على البدع وأهلها، والرد على المبتدعة بقوة، وتفنيد أقوالهم، لكن إذا جاء للأشخاص وهم متلبسون بهذه البدع التمس لكثير منهم الأعذار.
فرق بين أن تتكلم عن الفكرة وأنها مخالفة للشرع بدليل كذا وكذا هذا إذا كان في أدلة أما إذا كانت وجهات نظر فتبيّن رأيك ولا تفرضه على أحد، والله المستعان.
هذا النص للشيخ عبد الكريم الخضير يتناول قضية حساسة وهي "تجريح العلماء وتتبع عثراتهم". إليك الترجمة إلى اللغة الإندونيسية:
بسم الله الرحمن الرحيم
Mencela Ulama dan Mencari-cari Kesalahan Mereka
Syaikh/ Abdul Karim Al-Khudhair
Pertanyaan:
Beliau ditanya: Sebagian pemuda menjadikan kesibukan utama mereka adalah membicarakan (aib) para ulama, mencela, dan mencari-cari kesalahan mereka, bahkan sampai menjuluki sebagian ulama dengan sebutan ini dan itu?
Jawaban:
Maksudnya adalah bahwa seorang Muslim harus fokus pada amalnya sendiri. Hal terpenting bagi seseorang adalah dirinya sendiri, serta apa yang bisa menyelamatkan dan membebaskannya (dari azab), dan hendaknya ia meninggalkan pembicaraan tentang orang lain. Sesungguhnya kehormatan kaum Muslimin adalah salah satu lubang dari lubang-lubang api neraka. Hal ini sering teramati pada sebagian orang; jika engkau berbeda pendapat dengannya dalam suatu sudut pandang, maka seketika semua kebaikan berubah menjadi keburukan di matanya, dan ia tidak lagi menerima alasan maupun tebusan darimu.
Wahai saudaraku, ini hanyalah sebuah sudut pandang. Bisa jadi dia yang benar dan engkau yang salah. Bagaimanapun, Islam—segala puji bagi Allah—memiliki keluasan dan ruang untuk berijtihad, kecuali dalam hal-hal yang telah ada nas (dalil tegas) di dalamnya. Seseorang tetap mendapatkan pahala atas ijtihadnya meskipun ia salah—segala puji bagi Allah—dan ini merupakan bagian dari luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla.
Maka seorang Muslim harus bersungguh-sungguh menjaga amal-amal saleh yang telah ia kumpulkan, agar ia tidak menjadi orang yang bangkrut (muflis). Orang yang bangkrut adalah orang yang datang dengan membawa amal—dalam sebuah riwayat disebutkan: "seperti gunung"—berupa shalat, puasa, sedekah, bakti sosial, serta amar ma'ruf nahi munkar, namun kemudian ia membagi-bagikannya kepada si fulan dan si fulan. "Maka orang ini mengambil pahala kebaikannya, dan orang itu mengambil pahala kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis, maka dosa-dosa mereka (orang yang dizalimi) ditimpakan kepadanya." —Kami memohon keselamatan kepada Allah— (Hadits Shahih), Wallahul Musta'an.
Bagaimanapun, kehormatan kaum Muslimin—sebagaimana ditetapkan oleh para ulama—adalah lubang dari lubang-lubang api neraka. Maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, khususnya bagi penuntut ilmu, dan janganlah menjadikan dirinya sebagai hakim atas hamba-hamba Allah.
Adapun masalah Jarh wa Ta'dil (penilaian cacat atau adilnya perawi) bagi para periwayat hadits, itu adalah pengecualian dari hukum asal. Hukum asalnya adalah terlarang (membicarakan aib), namun para ulama membolehkannya—bahkan mewajibkannya—karena keadaan darurat yang menuntut hal tersebut. Jika bukan karena Jarh wa Ta'dil, niscaya tidak akan diketahui mana hadits yang shahih dan mana yang dhaif (lemah). Namun, apa urgensinya sekarang untuk mengatakan: si fulan begini, si fulan begitu?
Tidak ada larangan bagi seseorang untuk memperingatkan sebuah kesalahan, dengan mengatakan: "Perbuatan ini salah." Manhaj Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah)—rahimahullah—adalah bersikap tegas terhadap bid'ah dan pelakunya, membantah ahli bid'ah dengan kuat, dan mematahkan argumen mereka. Namun, ketika berbicara tentang person (tokoh) yang terjerumus dalam bid'ah tersebut, beliau banyak memberikan uzur (pemakluman) bagi mereka.
Ada perbedaan antara berbicara tentang sebuah pemikiran (ide) bahwa hal itu menyelisihi syariat dengan dalil ini dan itu—ini jika memang ada dalilnya. Namun jika itu hanya sekadar sudut pandang, maka jelaskanlah pendapatmu tanpa memaksakannya kepada orang lain. Wallahul Musta'an.