Selasa, 27 Januari 2026

Demikianlah persatuan diwujudkan

Demikianlah persatuan diwujudkan.

Bila anda hanya mau bersatau setelah semua orang seiya dan sekata dengan anda, maka anda tidak akan pernah bersatu dengan siapapun....sebaliknya anda akan bermusuhan dengan siapapun.

Persatuan itu hanya bisa terwujud bila anda pandai berpura pura bodoh walaupun sejatinya anda pandai, berpura pura lupa walaupun anda ingat, berpura pura tidak melihat walaupun anda menyaksikannya langsung, pandai memaafkan walaupun anda berhak menuntut, pandai bersabar walaupun anda geram dan kesal, dan pandai merawat persatuan walaupun anda harus mundur selangkah. Karena memang orang orang yang berada di atas kebenaran diuji dengan pelaku kesalahan, agar pintu ibadah dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar menjadi tambahan pahala mereka:
وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ
لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا 
Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain.  Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat. (Al Furqan 20)

Dahulu cucu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu mengalah dengan menyerahkan khilafah kepada sahabat Mu'awiyah radhiallahu 'anhu, walaupun secara hak, beliau telah sah menjadi khalifah, sedangkan Mu'awiyah tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah. Namun demikian, demi mewujudkan persatuan, sahabat Al Hasan memilih mengalah dan menyerahkan khilafah kepada sahabat Mu'awiyah radhiallahu 'anhum.....perpecahan dan bahkan peperangan yang telah sekian lama berkobar seketika padam, barisan ummat Islam yang telah berpecah belah kembali bersatu.

Sahabat Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu berpendapat bahwa selama berada di Mina, maka jamaah haji menunaikan shalat secara diqashar, sedangkan khalifah Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu berpendapat untuk shalat 4 rakaat, dan kala itu sahabat Ibnu Mas'ud mengutarakan pendapatnya kepada orang lain sebagai bentuk menyuarakan kebenaran, namun demikian ketika shalat tiba, beliau tetap shalat bersama Khalifah Utsman radhiallahu 'anhum, dengan alasan:
الخلاف شر
Perselisihan itu buruk.

Suatu hari Imam Syafii berdiskusi dengan Yunus As Shadafi, dan keduanya tidak mencapai kata sepakat. Di lain hari ketika keduanya berjumpa, segera Imam Syafii menggandeng tangan Yunus As Shadafi dan berkata kepadanya: Wahai Abu Musa, tidakkah pantas bagi kita berdua untuk tetap menjadi dua orang yang bersaudara walaupun kita tidak bersepakat dalam suatu perkara?

Imam Syafii juga pernah menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan Muhammad bin Al Hasan As Syaibani:
 ناظرت محمد بن الحسن وعليه ثياب رقاق فجعل تنتفخ اوداجه ويصيح حتى لم يبق له زر الا انقطع
Suatu hari aku berdiskusi dengan Muhammad bin Hasan, dan kala itu beliau mengenakan baju yang tipis. Diskusi memanas, sehingga urah leher beliau menegang, intonasi suaranya meninggi, sampai seluruh kancing bajunya copot. 

Beliau tidak memodifikasi diskusinya dengan kedua figur tersebut, -Muhammad bin Hasan lebih senior, sedangkan Yunus As Shadafi lebih junior- dengan sebutan menasehati.....diskusi tetaplah diskusi, tidak harus berujung kata sepakat....

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah memiliki pendapat bahwa keluar darah banyak, seperti ketika mimisan, atau berbekam membatalkan wudlu. Ada yang bertanya kepada beliau: Bagaimana sikap kita bila imam shalat jamaah keluar darah banyak, namun tidak mengulang wudlunya, apakah boleh menjadi makmum di belakangnya ? Beliau menjawab : 
كَيْفَ لَا أُصَلِّي خَلْفَ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَمَالِكٍ    
Mana mungkin aku enggan untuk shalat berjamaah di belakang Sa'id bin Musayib dan Malik? 

Raja Abdul Aziz, menyatukan seluruh jamaah Masjid Haram menjadi satu jamaah, yang sebelumnya masing masing penganut Mazhab setiap kali shalat, shalat sendiri sendiri, dengan mengulang azan dan iqamatnya masing masing. Walau demikian, seluruh penganut mazhab dengan lapang dada mengikuti keputusan ini, sehingga persatuan ummat Islam terwujud kembali,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada para imam agar mengakomodir kondisi jamaahnya yang paling lemah, bukan yang paling kokoh imannya dan gagah fisiknya:
وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ
Hendaknya engkau mengakomodir kondisi orangyang paling lemah dari jamaahmu (Ahmad, Abu Dawud dan lainnya)

Dan tatkala sahabat Mu'az bin Jabal radhiallahu 'anhu menjadi imam dan menyelisihi prinsip ini, sehingga beliau memanjang shalatnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam murka dan bersabda kepadanya:
berkata :
فقال أفتان أنت يا معاذ اقرأ سورة سبح والسماء والطارق والشمس وضحاها 

Apakah engkau hobi membuat kekacauan, wahai Mu'az? Bila menjadi imam bacalah surat "Sabbih", "Wassamaa-i wath-thaariqi", dan 'Wasy-syamsi wa dlu-haahaa!".(Muttafaqun 'alaih)

Semoga mencerahkan, dan 
https://stdiis.ac.id/headline/brosur-pmb-stdiis-t-a-2026-2027/