Senin, 26 Januari 2026

Salah satu hal yang membuat takjub mengenai kepribadian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah sikap adil beliau ketika berhadapan dengan kesalahan para ahli ilmu

📚Salah satu hal yang membuat takjub mengenai kepribadian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah sikap adil beliau ketika berhadapan dengan kesalahan para ahli ilmu. Beliau sering menyebutkan sisi positif seorang ahli ilmu berbarengan dengan meluruskan kesalahan yang ia lakukan. 

📝Seperti contoh di dalam Muqaddimah fi Ushul Tafsir ketika menyebutkan beberapa kitab-kitab tafsir dari berbagai firqah. Beliau menyebutkan kitab-kitab tafsir dari kalangan Ahlus Sunnah dan selain mereka kemudian menilai beberapa nama. Beliau berkata:

والثعلبي هو في نفسه كان فيه خير ودين، ولكنه كان حاطب ليل، ينقل ما وجد في كتب التفسير من صحيح وضعيف وموضوع، والواحدي صاحبه كان أبصر منه بالعربية، لكن هو أبعد عن السلامة واتباع السلف، والبغوي تفسيره مختصر من الثعلبي، لكنه صان تفسيره عن الأحاديث الموضوعة والآراء المبتدعة.

📙Di sini beliau memuji Imam ats-Tsa'labi penulis tafsir "al-Kasyfu wal Bayan 'an Tafsir al-Qur'an" dari sisi kesalehan. Namun sangat disayangkan ia seperti seorang pencari kayu bakar di malam hari, menukilkan semua yang ia dapat sampai riwayat dhaif dan palsu pun ia juga nukilkan. 

📔Kemudian beliau menyebutkan nama Imam al-Wahidi penulis tafsir "al-Basith", "al-Wasith", dan "al-Wajiz". Beliau memujinya dari sisi keahlian dalam Bahasa Arab, kemudian mengkritiknya karena jauh dari mengikuti para salaf. 

📕Lalu beliau memuji Imam al-Baghawi penulis tafsir "Ma'alim at-Tanzil" bahwa ia menjaga kitabnya dari hadits-hadits palsu dan pendapat-pendapat bid'ah. 

📘Di sisi lain beliau membandingkan tafsir Imam Ibnu Athiyah "al-Muharrar al-Wajiz" dengan "al-Kasysyaf" karya Imam az-Zamakhsyari bahwa kitabnya lebih mengikuti sunnah dan selamat dari bid'ah dibandingkan "al-Kasysyaf". Hanya saja sangat disayangkan ia tidak menukilkan perkataan para salaf mengenai tafsir walaupun disebutkan ia banyak menukil dari tafsir Imam ath-Thabari yang notabenenya penuh dengan perkataan para salaf. Justru sebaliknya ia malah menukil perkataan orang-orang yang ia kira ahli tahqiq dari kalangan ahlul kalam.

📜Di akhir kata beliau jelaskan sebuah kaedah penting: Bahwa perkataan para ahli ilmu itu tidak ma'shum, mereka bisa saja terjerumus ke pendapat yang menyelisihi kebenaran. Dan harus diketahui bahwa di antara mereka ada yang berijtihad dan diberi uzur atas kesalahan mereka. Jadi kesimpulannya:
1) Para ulama itu diberi uzur ketika salah dalam berijtihad. 
2) Namun kita tetap tidak boleh mengikuti mereka di pendapat yang mereka menyelisihi kebenaran di dalamnya. 

Poin pertama membantah mereka-mereka yang mencederai kehormatan para ulama hanya karena kesalahan ijtihad yang mereka lakukan. Sedangkan poin kedua membantah mereka-mereka yang fanatik terhadap perkataan ulama tertentu padahal ia menyelisihi kebenaran. Maka jadilah seorang muslim yang bersikap inshaf (adil) di dalam perkara ini.
ustadz muhammad taufiq