Senin, 26 Januari 2026

Ketika semua orang merasa sebagai polisi lalu bebas mentersangkakan orang lain

Ketika semua orang merasa sebagai polisi lalu bebas mentersangkakan orang lain.

Semua merasa sebagai pemegang otoritas memponis orang lain, lalu siapa yang jadi penjahat dan tersangkanya?

Status status saya bertujuan untuk mengajak kita semua lebih totalitas introspeksi diri, bukan totalitas menjadi polisi yang lupa untuk instropeksi diri, karena merasa sebagai pemegang otoritas mentersangkakan orang lain dan bebas dari kemungkinan sebagai tersangka, walaupun melakukan hal yang sama.

Ini salah satu alasan saya menuliskan status status pengakuan jejak masa lalu.

Sebagaimana sejarah itu, bila anda tidak sudi menulisnya niscaya orang lainlah yang akan menulisnya, tentu sesuai versi dan pemahamannya sendiri, yang bisa jadi tidak sesuai dengan fakta yang anda alami, atau bahkan memutar balikkan fakta, demi kepentingannya sendiri.

Memanipulasi sejarah itu adalah kejahatan yang harus dihentikan, semisal klaim paling pertama dan bahkan yang babat alas dakwah salaf, padahal faktanya tidak demikian.

Sebagaimana status saya adalah bentuk ajakan untuk melihat figur figur yang sering dilupakan, figur yang lebih layak diteladani, semisal Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Al ALbani dan lainnya  yang memilih fokus pada tema keilmuan, dan mengesampingkan vonis personal......sehingga kalaupun mereka sering menyelisihi dan meluruskan berbagai penyimpangan sikap dan pemikiran orang lain, namun tetap  menjaga kolam sejuk, dan kalaupun keruh, maka sangat minimal.

Status saya juga bentuk upaya mengingatkan bahwa pendapat dan pilihan sikap itu adalah ranah perbedaan, sehingga bila ada yang berbeda sikap atau pilihan selama dibangun diatas dalil dan alasan yang wajar, logis dan ilmiyah maka sudah sepatutnya kita berlapang dada.

Apalagi, sebagai minoritas, tidak sepatutnya petentang petenteng, seakan paling kuat, minoritas lebih butuh kepada konsolidasi internal untuk membangun sinergi yang solid sehingga kalah dalam kuantitas, namun menang dalam hal kualitas.

Betapa buruknya kondisi minoritas, bila kuantitas kecil, dan kualitas buruk. 

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ 
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Anfal 46)

Semoga dapat dipahami sebagaimana mestinya, dan saya mohon maaf bila ada kata kata saya yang menyinggung atau menyakiti saudara. Sebagaimana saya juga mohon maaf bila status status saya tidak nyaman bagi saudaraku sekalian....karena dianggap membuka luka atau aib masa lalu.
https://www.facebook.com/share/p/1FMqsQMfWs/