Senin, 26 Januari 2026

Jangan seperti orang main karambol saat membaca buku, atau dengar kajian.

Jangan seperti orang main karambol saat membaca buku, atau dengar kajian. 

Maksud dari ini adalah  
Sering kita menengar dari kawan yang ikut pengajian, "hai kawan kajian ini sudah didenger oleh si fulan ga? Atau tulisan ini sudah dibaca oleh si fulan?"
Apakah ketika kita hadir kajian atau membaca sesuatu untuk orang lain ?  

1️⃣ Hukum asal menghadiri kajian & membaca tulisan

Hukum asalnya: untuk diri sendiri.
Ilmu itu pertama kali untuk memperbaiki hati, iman, dan amal orang yang mendengar dan membaca, bukan untuk “senjata” menilai orang lain.

Para salaf sangat keras dalam hal ini.

🔹 Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:

 “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”

🔹 Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata:

 “Aku mempelajari ilmu, namun tidak ada yang lebih berat bagiku daripada memperbaiki niat.”

Maka ketika seseorang hadir kajian, membaca buku, atau menyimak tulisan, pertanyaan utamanya bukan:

 “Sudahkah si fulan dengar ini?”

Tetapi:

 “Sudahkah aku mengamalkan ini?”

2️⃣ Bahaya menjadikan ilmu untuk orang lain

Ucapan seperti:

“Ini sudah didengar si fulan belum?”

“Coba si fulan baca tulisan ini”

Kalau niatnya lurus, bisa jadi ta’awun ‘ala al-birr.
Tapi seringnya—tanpa sadar—berubah menjadi:

Sindiran

Merasa lebih paham

Merasa di posisi “mengajari”

Bahkan merendahkan

📌 Ibn Mas‘ud رضي الله عنه berkata:

 “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia bangga dengan ilmunya.”

Ilmu yang benar membuat tawadhu’, bukan sibuk menunjuk orang lain.

3️⃣ Prinsip emas dari Al-Qur’an

Allah ﷻ menegur dengan keras orang yang ilmunya tidak kembali kepada dirinya:

 "Apakah kalian menyuruh manusia berbuat baik, sementara kalian melupakan diri kalian sendiri?"
(QS. Al-Baqarah: 44)

Ayat ini bukan hanya tentang menyuruh kebaikan,
tapi tentang mendahulukan perbaikan diri sebelum bicara orang lain.

4️⃣ Bagaimana ilmu itu benar-benar mendidik?

Para salaf punya manhaj yang sangat indah:

✅ a. Ilmu → amal → akhlak

Ilmu tidak langsung ke lisan, tapi:

1. Masuk ke hati

2. Diamalkan

3. Terlihat dalam akhlak

📌 Imam Malik رحمه الله berkata:

 “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”

Jika seseorang:

semakin lembut

semakin rendah hati

semakin takut kepada dosa

➡️ Itu tanda ilmunya hidup.

✅ b. Dakwah dengan keadaan, bukan sindiran

Orang lebih mudah berubah karena:

akhlak

kesabaran

keteladanan

bukan karena:

“Eh, kajian ini cocok buat kamu”

“Ini sindirannya pas banget”

📌 Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata:

 “Seorang alim adalah yang ilmunya memperbaiki dirinya sebelum orang lain.”

✅ c. Jika ingin menyampaikan, jaga niat & cara

Kalau memang ingin menyampaikan kepada orang lain:

niatkan kasih sayang

pilih waktu yang tepat

gunakan bahasa lembut

dan tanpa merasa lebih tinggi

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.”
(HR. Muslim)

5️⃣ Nasehat penutup 🌾

Ilmu itu seperti cermin, bukan teropong.

Cermin → melihat kekurangan diri

Teropong → mencari-cari kesalahan orang

📌 Siapa yang ilmunya benar, akan sibuk berkata:

 “Ini tamparan buat saya”

Bukan:

 “Ini cocok buat si fulan”

Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita dengar dan baca:

hujjah untuk kita

bukan hujjah atas kita

Padang, 27 Januari 2026

#nasehat
#pesan
#poligami
Ustadz muhammad elvi syam