Jangan seperti orang main karambol saat membaca buku, atau dengar kajian.
Maksud dari ini adalah
Sering kita menengar dari kawan yang ikut pengajian, "hai kawan kajian ini sudah didenger oleh si fulan ga? Atau tulisan ini sudah dibaca oleh si fulan?"
Apakah ketika kita hadir kajian atau membaca sesuatu untuk orang lain ?
1️⃣ Hukum asal menghadiri kajian & membaca tulisan
Hukum asalnya: untuk diri sendiri.
Ilmu itu pertama kali untuk memperbaiki hati, iman, dan amal orang yang mendengar dan membaca, bukan untuk “senjata” menilai orang lain.
Para salaf sangat keras dalam hal ini.
🔹 Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”
🔹 Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata:
“Aku mempelajari ilmu, namun tidak ada yang lebih berat bagiku daripada memperbaiki niat.”
Maka ketika seseorang hadir kajian, membaca buku, atau menyimak tulisan, pertanyaan utamanya bukan:
“Sudahkah si fulan dengar ini?”
Tetapi:
“Sudahkah aku mengamalkan ini?”
2️⃣ Bahaya menjadikan ilmu untuk orang lain
Ucapan seperti:
“Ini sudah didengar si fulan belum?”
“Coba si fulan baca tulisan ini”
Kalau niatnya lurus, bisa jadi ta’awun ‘ala al-birr.
Tapi seringnya—tanpa sadar—berubah menjadi:
Sindiran
Merasa lebih paham
Merasa di posisi “mengajari”
Bahkan merendahkan
📌 Ibn Mas‘ud رضي الله عنه berkata:
“Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia bangga dengan ilmunya.”
Ilmu yang benar membuat tawadhu’, bukan sibuk menunjuk orang lain.
3️⃣ Prinsip emas dari Al-Qur’an
Allah ﷻ menegur dengan keras orang yang ilmunya tidak kembali kepada dirinya:
"Apakah kalian menyuruh manusia berbuat baik, sementara kalian melupakan diri kalian sendiri?"
(QS. Al-Baqarah: 44)
Ayat ini bukan hanya tentang menyuruh kebaikan,
tapi tentang mendahulukan perbaikan diri sebelum bicara orang lain.
4️⃣ Bagaimana ilmu itu benar-benar mendidik?
Para salaf punya manhaj yang sangat indah:
✅ a. Ilmu → amal → akhlak
Ilmu tidak langsung ke lisan, tapi:
1. Masuk ke hati
2. Diamalkan
3. Terlihat dalam akhlak
📌 Imam Malik رحمه الله berkata:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Jika seseorang:
semakin lembut
semakin rendah hati
semakin takut kepada dosa
➡️ Itu tanda ilmunya hidup.
✅ b. Dakwah dengan keadaan, bukan sindiran
Orang lebih mudah berubah karena:
akhlak
kesabaran
keteladanan
bukan karena:
“Eh, kajian ini cocok buat kamu”
“Ini sindirannya pas banget”
📌 Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata:
“Seorang alim adalah yang ilmunya memperbaiki dirinya sebelum orang lain.”
✅ c. Jika ingin menyampaikan, jaga niat & cara
Kalau memang ingin menyampaikan kepada orang lain:
niatkan kasih sayang
pilih waktu yang tepat
gunakan bahasa lembut
dan tanpa merasa lebih tinggi
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.”
(HR. Muslim)
5️⃣ Nasehat penutup 🌾
Ilmu itu seperti cermin, bukan teropong.
Cermin → melihat kekurangan diri
Teropong → mencari-cari kesalahan orang
📌 Siapa yang ilmunya benar, akan sibuk berkata:
“Ini tamparan buat saya”
Bukan:
“Ini cocok buat si fulan”
Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita dengar dan baca:
hujjah untuk kita
bukan hujjah atas kita
Padang, 27 Januari 2026
#nasehat
#pesan
#poligami
Ustadz muhammad elvi syam