Sampai kapan jualan?
Sampai mati, kak.
Karena lebih baik mati sebagai pejuang, daripada hidup sebagai pecundang.
Di negeri yang you know lah, guru dituntut idealis tapi hidup harus tetap realistis.
Bertahan hidup jadi ujian mental yang tidak ringan. Maka mau tidak mau, guru harus mandiri, harus kreatif, harus cari “penambal” kebutuhan pokok sendiri.
Alhamdulillah, saya termasuk yang masih kuat insya Allah karena Allah kasih keahlian bisa jualan.
Tapi yang sering saya pikirkan adalah nasib rekan-rekan sesama pendidik:
Mereka banyak yang tidak sekuat ini, tidak terbiasa berdagang, tidak paham bisnis.
Dikasih modal bingung, dikasih barang dagangan juga bingung mau jual ke mana.
Perjuangan saya untuk bayar kuliah S3 saja, saya harus menyisihkan sekitar 3,5 juta per bulan selama sekitar 3 tahun ( semoga selesai tepat waktu )
Belum biaya talaqqi Al-Qur’an kepada syekh, dauroh, dan berbagai upgrade keilmuan lainnya. Itu baru sisi biaya.
Belum sisi stres, tekanan mental, dan pengorbanan waktu.
Pernah 1–2 tahun tidur rata-rata kurang dari 4 jam per hari demi mengejar target belajar dan peningkatan kompetensi.
Hasilnya?
Alhamdulillah… sekarang berteman akrab dengan GERD, diabetes tipe 2, dan penyakit metabolik lainnya, minum obat dokter dan herbal tiap hari.
(Tinggal nunggu matinya aja 😁)
Wahai para guru dan pendidik,
kalau dunia memang tak sepenuhnya kita dapat,
semoga akhirat jangan sampai ikut-ikutan tidak dapat.
Madu Siak Ayah Muallim 🍯
Tersedia juga Madu Sialang Hutan Liar.
Wa.me/6281219356371