Tidak hanya dituntut beramal; kita juga dituntut cerdas dalam menunaikannya. Karena umur, tenaga, dan rezeki seorang insan terbatas, maka skala prioritas menjadi keniscayaan.
Di antara berbagai pilihan kebaikan, yang paling layak didahulukan adalah kebaikan yang dampaknya panjang dan berkelanjutan, terlebih ketika semuanya tidak mungkin dilakukan sekaligus.
Memperbaiki dan memperindah masjid tentu sebuah kebaikan.
Namun perlu disadari, masjid bukan sekadar bangunan. Ia membutuhkan manusia yang menghidupkannya: imam, pengajar, dan penuntut ilmu yang mampu menjelaskan Al-Qur’an dan Hadits, mensyarah kitab-kitab yang selama ini berdebu di rak, dan membimbing umat dengan ilmu, bukan sekadar suara. Bukan pula dengan kemegahannya yang tengah menawan tertengok.
Di saat yang sama, kita hidup di zaman kesesatan pemikiran semakin berani tampil, dan maksiat semakin dinormalisasi. Syubhat beredar cepat, agama ditafsirkan serampangan, dan dosa dipoles agar tampak wajar.
Semua ini tidak bisa diselesaikan dengan kubah yang lebih tinggi atau bangunan yang lebih megah, tetapi dengan majelis ilmu yang hidup, dengan lisan-lisan yang lurus dan akal-akal yang tercerahkan oleh wahyu.
Mustahil berharap masjid hidup dengan majelis ilmu, jika yang disiapkan hanya kubah dan temboknya, sementara tidak ada generasi ulama dan penuntut ilmu yang didukung untuk tumbuh.
Sungguh, mustahil kita berharap dan mengundang artis, pelawak, caleg, YouTuber, atau profesi lain menggantikan peran ahli ilmu di mimbar-mimbar masjid.
Karena itu, jika seseorang hendak bersedekah, berinfak, berzakat mal, atau berwakaf, maka penuntut ilmu adalah sasaran paling strategis dan bernilai jangka panjang. Betapa banyak masjid semakin megah dan menawan namun sunyi dan hampa dari majelis ilmu selama bertahun-tahun lamanya, bukan karena kurangnya bangunan, tetapi karena ketiadaan sosok yang mampu mengurai Kalamullah dan Hadits Nabi ﷺ.
Akibatnya, kesesatan semakin liar bertumbuh nan lebat, maksiat tak lagi terasa asing, dan kebodohan dalam beragama menyebar tanpa perlawanan ilmu karena punggawa dan pahlawannya berguguran karena ekonomi.
Berilah perhatian terhadap penuntut ilmu. Semoga tidak salah dalam mengambil prioritas.
Uyf