Soal Pengagungan Kuburan (Makam): Ajaran KH Ahmad Dahlan
☆ ☆ ☆
Siapa yang tak kenal dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah? Namun hanya sedikit yang tahu makam beliau, bahkan tampaknya kebanyakan anggota Muhammadiyah pun tak tahu. Ini tentu berbeda dengan makam-makam para kiyai lainnya yang banjir peziarah. Oleh karenanya, bahkan sempat ada rumor bahwa Muhammadiyah kurang menghargai pendirinya.
Hal tersebut sebenarnya sudah pernah dijawab sejak puluhan tahun lalu oleh KH AR Fachruddin (ketua Muhammadiyah pada masa lalu yang tercatat menjabat paling lama).
Dalam kitab kecil bertajuk "Menudju Muhammadijah", yang ditulis pada tahun 1970, pada halaman ke-28 (cet. 1970), beliau menulis jawaban atas pertanyaan: "Mengapa Makam KH Ahmad Dahlan tidak terpelihara?"
Beliau menulis jawabannya sebagai berikut:
"Memang Beliau (K. H. A. Dahlan) tidak menghendaki, kalau makam Beliau diagung-agungkan. Makin chawatir kalau-kalau makam itu lalu mendjadi persembahan, sesuatu jang disembah orang. Makam beliau sampai sekarang tidak dibina, baik oleh keluarganja maupun oleh para pendukung tjita-tjitanya."
"Oleh keluarganja dan oleh Pemimpin-pemimpin Muhammadijah di Jogjakarta, tak pernah menondjol-nondjolkan makam mendiang. Bahkan oleh Pemerintah RI sendiri pernah dikandung maksud 'memuliakan' makam almarhum, tetapi oleh Muhammadijah sendiri tidak mendapat kesepakatan. Kalau pemerintah mau menghargai djasa K. H. A. Dahlan, bantu sadja Muhammadijah, tak usah dirintang-rintangi."
"Banjak Pemimpin-Pemimpin Muhammadijah dari daerah-daerah jang ingin tahu, ingin menjaksikan makam almarhum K. H. A. Dahlan sampai sekarang tiada berhasil, sebab djarang jang mau menundjukkannja. Bahkan Pemimpin-Pemimpin Muhammadijah di Jogjakarta pun hanja sedikit sekali jang tahu letak makam Almarhum."
"Apakah orang-orang Muhammadijah tak tahu menghargai djasa bapa Muhammadijah? Menurut adjaran Almarhum K. H. A. Dahlan sendiri, tjara menghargai djasa pemimpin 'bukan dengan djalan memuliakan kuburnja', tetapi dengan mendukung, memelihara, dan memperkembangkan peladjaran-peladjaran tersebut, apabila tidak bertentangan dengan hukum Allah."
(Nukilan selesai.)
Intinya, KH Ahmad Dahlan memang berpesan kepada murid-muridnya untuk tidak mengagung-agungkan kuburannya. Wasiat tersebut kemudian dipegang teguh oleh para penerus beliau di Muhammadiyah. Jadi bukan karena kalangan Muhammadiyah kurang menghormati beliau.
Sekiranya warga Muhammadiyah menjadikan kuburan KH Ahmad Dahlan sebagai tempat perayaan dan pengagungan, maka mereka justru melanggar dan durhaka terhadap pesan sang pendiri Muhammadiyah tersebut.
Sumber utama: tulisan Pak Dimas Komaruddin Uno pada tanggal 27 Juli 2022 (dengan pengeditan dan perubahan, namun tanpa mengubah esensi).
Sumber slide 2 dan 3: Ust. Wahyu Indra Wijaya.
☆ ☆ ☆
Semoga Allah Ta'ala merahmati KH Ahmad Dahlan dan KH AR Fachruddin dengan rahmat-Nya yang luas.
adniku 260125 (re-publikasi)
#muhammadiyah #khahmaddahlan