Syubhat Feminisme terhadap Poligami
Pendahuluan: Akar Masalah Syubhat Feminisme
Feminisme modern lahir dari:
pengalaman sejarah Barat (gereja, feodalisme, patriarki ekstrem)
filsafat sekuler
pengingkaran wahyu
Ketika paradigma ini dipaksakan ke dalam Islam, terjadilah konflik nilai, karena Islam:
bersumber dari wahyu
bukan dari pengalaman sosial Barat
Allah Ta‘ala berfirman:
أَفَحُكْمَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?”
(QS. Al-Mā’idah: 50)
SYUBHAT 1: “Poligami adalah bentuk kezaliman terhadap wanita”
Bantahan:
1️⃣ Zalim adalah melanggar hukum Allah, bukan menjalankan hukum-Nya
Allah berfirman:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ
“Barang siapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Al-Mā’idah: 45)
Jika poligami zalim, Allah tidak akan mensyariatkannya.
2️⃣ Kezaliman berasal dari pelaku, bukan dari syariat
> فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
“Jika kalian khawatir tidak mampu berlaku adil, maka satu saja.”
(QS. An-Nisā’: 3)
Ayat ini justru melindungi wanita, bukan menzalimi.
📌 Ibnu Katsir رحمه الله:
“Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan adalah syarat mutlak poligami.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 2/243)
SYUBHAT 2: “Poligami hanya menguntungkan laki-laki”
Bantahan:
1️⃣ Wanita mendapat perlindungan, nafkah, dan kehormatan
Bandingkan:
Poligami → akad, mahar, nafkah, warisan
Hubungan bebas → tanpa tanggung jawab
Allah berfirman:
وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ
“Ayah wajib memberi nafkah dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang patut.”
(QS. Al-Baqarah: 233)
2️⃣ Wanita memilih dengan sadar
Tidak ada paksaan dalam pernikahan.
لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
“Tidak sah nikah kecuali dengan wali.”
(HR. Abu Dawud no. 2085, sahih)
SYUBHAT 3: “Poligami merendahkan martabat wanita”
Bantahan:
1️⃣ Islam memuliakan wanita dengan wahyu, bukan perasaan
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurāt: 13)
Martabat diukur dengan takwa, bukan status istri pertama atau kedua.
2️⃣ Istri-istri Nabi ﷺ hidup dalam poligami
Jika poligami merendahkan wanita, Allah tidak akan memilihkannya untuk Ummahatul Mukminin.
📌 Ibnu Qayyim رحمه الله:
“Allah memilih untuk Nabi-Nya istri-istri terbaik di bawah sistem poligami.”
(Zādul Ma‘ād, 1/105)
SYUBHAT 4: “Poligami bertentangan dengan keadilan”
Bantahan:
1️⃣ Islam membedakan keadilan lahir dan batin
Allah berfirman:
وَلَن تَسْتَطِيعُوا أَن تَعْدِلُوا بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ
“Kalian tidak akan mampu berlaku adil dalam cinta, walaupun kalian sangat ingin.”
(QS. An-Nisā’: 129)
Ayat ini bukan larangan poligami, tapi:
keadilan perasaan tidak dituntut
keadilan nafkah dan giliran wajib
📌 Imam An-Nawawi رحمه الله:
“Keadilan yang diwajibkan adalah dalam perkara lahir, bukan cinta.”
(Syarh Shahih Muslim, 10/50)
SYUBHAT 5: “Poligami adalah budaya Arab, bukan Islam”
Bantahan:
1️⃣ Poligami ada sebelum Islam, tetapi Islam membatasinya
Arab jahiliyah:
menikah tanpa batas Islam:
maksimal empat
dengan syarat adil
2️⃣ Syariat berlaku universal
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ
“Kami tidak mengutusmu melainkan kepada seluruh manusia.”
(QS. Saba’: 28)
SYUBHAT 6: “Monogami pasti lebih bahagia”
Bantahan:
1️⃣ Bahagia bukan standar syariat
Jika “bahagia” jadi standar:
shalat subuh bisa ditinggalkan
jihad bisa ditolak
puasa bisa dibatalkan
2️⃣ Kebahagiaan hakiki ada dalam ketaatan
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِن فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً
“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, niscaya Kami beri kehidupan yang baik.”
(QS. An-Nahl: 97)
Kesimpulan Akhir
1. Feminisme menilai dengan perasaan, Islam menilai dengan wahyu
2. Poligami bukan kewajiban, tapi syariat yang sah
3. Menolak poligami berarti:
menuduh syariat tidak adil
atau menganggap Allah keliru (na‘ūdzu billāh)
4. Yang tercela adalah kezaliman suami, bukan poligami
📌 Syaikh Bin Bāz رحمه الله:
“Poligami adalah syariat Allah yang penuh hikmah dan keadilan bagi umat manusia.”
(Majmū‘ Fatāwā, 21/28)
Penutup
Islam tidak butuh pembenaran dari feminisme,
tetapi feminisme lahir karena manusia menolak wahyu.
Semoga menambah wawasan kita semua
Mekkah al Mukarramah 23 Januari 2026
Ustadz muhammad elvi syam