Perasaanku, membeli produk KW, ..... ini oponi dan perasaan bukan part 5.
Sejak awal belajar di pesantren saya dan juga seluruh santri sudah diajari bahwa kita mengikuti manhaj salaf alias salafy, namun ternyata menurut orang lain, berdasarkan data yang ada, kala itu "produk" yang diberikan kepada kami ternyata mereka "sururi", yang merupakan modernisasi dari merek "Ikhwanul Muslimin" .....so clear ya....pada fase ini, dari figur figur yang mengajari kami belum ada yang memiliki produk orizinil "salafy".
Sehingga bila figur figur itu dianggap sebagai pembabat alas dakwah salaf moderen di indonesia, maka itu bukti gagal move on, dari salafy kw 2, alias sururi...
Apakah saya kecewa dengan fakta ini?
Oooh tidak, kecewa, karena semua itu proses hidup, mereka telah berjasa mengenalkan kepada kami bahwa produk no 1 yang harus kami miliki ialah produk mereka salafy, bukan lainnya.
Proses demi proses saya jalani, sampai akhirnya saya menyadari bahwa produk yang telah saya miliki mereknya lebih tepat disebut sururi, bukan salafy, maka sayapun mulai mengenali diferdeferensiasi alias ciri ciri pembeda, alias menyadari bahwa dua merek ini sekilas sama namun berbeda.....kesadaran ini adalah poin penting dan investasi masa depan yang harus disyukuri.
Salah satu indikator pembeda ialah adanya praktek "satu resep untuk semua penyakit" alias gebyah uyah podo asine dalam penerapan kaedah yang ada di fase ini. Kaedah yang saya maksud ialah kaedah Muwazanah, atau yang sering dinarasikan:
نتعاون فيما اتفقنا ويعذر بعضنا بعضا فيما اختلفنا
Kita bersinergi dalam hal hal yang disepakati, dan saling toleransi dalam hal yang diperselisihkan.
Kaedah ini nyata nyata menyelisihi prinsip amar ma'ruf dan nahi mungkar yang diperintahkan dalam banyak ayat dan hadits. Bila toleransi, maka apa perlunya nahi mungkar, dan diskusi ilmiyah yang diajarkan oleh para ulama' salaf terdahulu.
Namun demikian, diskusi dan ingkar mungkar bukan berarti harus berujung dengan ponis mubtadi' atau hajer/boikot bara' alias berlepas diri secara total dari orang yang berselisih pendapat atau sikap atau pilihan.
Sebagai contoh nyata, Imam Syafii rahimahullah masih saja meriwayatkan hadits dari Ibrahim bin Abi Yahya, padahal ia seorang penganut paham qadariyah alias mengingkari taqdir. Dan guru Imam Syafii yaitu Sufyan bin Uyainah melarang murid muridnya dari meriwayatkan hadits dari orang tersebut. Dan menurut Yahya bin Sa'id Al Qatthan figur ini layak dicurigai sengaja berdusta dalam meriwayatkan hadits alias merekayasa hadits palsu sendiri.
Bukannya Imam Syafii ragu akan kesesatan Ibrahim bin Abi Yahya, namun menurutnya orang ini tidak mungkin sengaja berdusta dalam meriwayatkan hadits, satu penilaian yang berbeda dengan penilaian guru beliau sendiri Sufyan bin Uyainah dan ulama' lainnya.
Walau demikian tidak seorangpun yang memusuhi atau meponis sesat Imam Syafii.
Bersahabat bukan berarti harus seiya sekata, namun persahabatan yang baik justru menuntut kita jujur, kalau benar yang katakan benar dan kalah salah yang harus tegas mengatakan salah, sehingga persahabatan dengan cara ini produktif bukan malah menjerumuskan semacam persahabatan para mafia.
Kaedah muwazanah itu berlaku dalam menilai secara global, sehingga bila kebaikan seseorang dominan maka ia kita katakan orang baik, dan sebaliknya bila keburukannya dominan maka kita katakan ia orang buruk, walaupun kadang kala ia baik, atau memiliki sedikit kebaikan.
Penjelasan ini sejalan dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
أقيلوا ذوي الهيئةِ زلَّاتِهِم
lupakan/toleransilah dengan kesalahan orang orang yang memiliki kedudukan/mulia. (At Thabrani dan lainnya)
Katakan bahwa kali ini ia tergelincir alias salah, walaupun dia adalah orang baik sehingga tetap disikapi sebagai orang baik..yang demikian itu karena semua manusia pastilah memiliki kekurangan, tidak ada yang sempurna selain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Satu atau dua kekurangan atau sedikit dan kesalahan orang baik tidak cukup menjadi alasan untuk memusuhinya atau memutus hubungan dengannya.....sepatutnya dinasehati dan dikuatkan mentalnya agar esok hari ia mampu melawan hawa nafsu dan setan sehingga bisa meninggalkan kesalahan atau dosanya tersebut.
Bila karena satu datau dua kesalahan anda memutus hubungan atau mengobarkan api permusuhan dengannya, maka ini tindakan emosional yang cenderung mengarah kepada sikap pobia, bukan sikap yang terukur dan berdasarkan kematangan mental, keilmuan dan pengalaman.
Di sisi lain, pendusta atau penjahat yang memiliki rekam jejak kejahatan panjang, kadang kala berbuat baik, maka kebaikannya itu tidak kemudian menjadikan kita bersahabat dengannya, cukup katakakan bahwa kali ini di jujur atau baik, walaupun seringnya dia jahat dan dusta.
Demikian praktek Nabi shallallahu'alaihi wa sallam pada kisah yang dialami oleh sahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bersama setan. Pada akhir kisah beliau bersabda:
أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ”. قَالَ لاَ. قَالَ ” ذَاكَ شَيْطَانٌ ”
‘Kali ini dia benar kepadamu, tapi asalnya dia adalah pendusta. Tahukah engkau wahai Abu Hurairah, siapa yang engkau ajak bicara sejak tiga hari ini?’ Dia berkata, ‘Tidak’ Beliau bersabda, ‘Itu adalah syaithan.” (Al Bukhari)
So, satu atau dua kebaikan orang sesat atau jahat tidak cukup menjadi alasan untuk bersahabat dengannya.
Kawan, semua manusia itu berproses, ada yang berproses menjadi baik, maka dukunglah, dan sempurnakan kekurangannya dengan nasehat dan doa terbaik anda, sebaliknya orang yang berproses menjadi jahat, maka cegahlah dengan kelembutan anda bukan dengan emosi dan kekakuan anda .
Ndak percaya? Lihat saja diri anda, apa anda sempurna? Anda pasti memiliki banyak kesalahan dan dosa, andai sikap yang sama diterapkan pada diri anda, apa anda suka? sekali berbuat dosa, langsung out dari rumah besar ahlussunnah atau bahkan Islam?
Kawan! Yuk, renungkan bersama pesan pesan berikut ini:
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka berkat Rahmat Allah, engkau (Muhammad) bersikap lemah lembut kepada mereka, sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka akan menjauh darimu” (Ali ‘Imran: 159)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
من يحرم الرفق يحرم الخير كله
“Barangsiapa yang kehilangan sikap lemah lembut, maka ia kehilangan seluruh kebaikan”( Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda
إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه
“Sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembuh ada pada suatu urusan, kecuali menjadikannya bertambah indah. Dan tidaklah sikap lemah lembut sirna dari suatu urusan, kecuali urusan itu menjadi buruk ” (Muslim)
Kawan! nitip link berikut ya, semoga bekenan mampir atau minimal ikut menshare: https://pmb.stdiis.ac.id/
* gambarnya pendosa karena cukur jenggot.
Ustadz Dr muhammad arifin badri Ma