blog ini berisikan kumpulan faedah faedah ilmu yang sangat bermanfaat kepada diri saya pribadi
Kamis, 17 September 2026
تزوّج رجلٌ على عهد عمر - رضي الله عنه
Sulitnya menggabungkan antara ilmu dunia dan akhirat
jika engkau memohon suatu hajat kepada Allah, katakanlah: 'dalam keadaan 'afiyah'."https://shamela.ws/book/13250/38
Telah memberitakan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin 'Abd al-Wahhab bin Mandah, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami 'Abdul Karim al-Mulaihi al-Harawi dalam kitabnya, bahwasanya Ishaq bin Ibrahim al-Hafizh menceritakan kepada mereka, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Abdillah bin Muhammad bin al-Husain, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ahmad asy-Syami, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin al-Khallal, ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata:
"Dahulu aku hafal Al-Qur'an. Namun ketika aku mulai menuntut ilmu hadis, aku menjadi sibuk (hingga lupa). Aku pun berkata: 'Kapan (aku bisa memulihkannya)?' Lalu aku memohon kepada Allah Azza\ wa\ Jalla agar menganugerahkan kembali hafalan Al-Qur'an kepadaku, tetapi aku tidak mengucapkan: 'dalam keadaan 'afiyah (keselamatan/sehat walafiat)'. Maka aku tidak bisa menghafalnya kembali melainkan saat berada di dalam penjara dan belenggu rantai. Oleh karena itu, jika engkau memohon suatu hajat kepada Allah, katakanlah: 'dalam keadaan 'afiyah'."
https://shamela.ws/book/13250/38
Namun, aku tidak mengatakan: ‘dalam keadaan sejahtera dan selamat (عافية).’Maka aku tidak berjaya menghafalnya melainkan ketika aku berada dalam penjara dan dibelenggu
KETIKA AR-RAZI MENYEBUT PLATO DENGAN GELAR "AL-IMAM" DAN MEMBELA TESISNYA
Keluarlah bersama saudarimu. Sebab, seorang wanita tanpa pria yang melindunginya dan melapangkan jalan baginya bagaikan seekor domba di tengah kawanan serigala; yang paling lemah di antara serigala pun akan berani memangsanya."
Seorang wanita datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Ia termasuk salah satu wanita yang paling jelita. Ketika pergi melempar jumrah, Umar bin Abi Rabi'ah—seorang penyair terkenal—melihatnya.
Umar adalah seorang yang sangat menyukai wanita dan gemar merayu mereka. Ia pun mengajak wanita itu berbicara, tetapi wanita tersebut tidak menghiraukannya. Pada malam kedua, Umar kembali mengganggunya. Wanita itu menyoaknya dan berkata: "Jauhilah aku! Sungguh aku berada di tanah haram Allah dan di hari-hari yang sangat suci (agung kehormatannya)." Namun Umar terus mendesaknya. Wanita itu khawatir masalah ini akan mencoreng nama baiknya, sehingga ia meninggalkannya dan kembali ke kemahnya.
Pada malam ketiga, ia berkata kepada saudaranya: "Keluarlah bersamaku dan tunjukkanlah tata cara manasik kepadaku."
Ketika Umar bin Abi Rabi'ah melihat saudara laki-lakinya berjalan bersamanya, ia diam di tempatnya dan tidak berani mengganggunya lagi.
Wanita itu pun melantunkan syair:
Anjing-anjing hanya akan menyerang orang yang tidak memiliki singa (pelindung) Dan mereka takut terhadap serangan singa yang garang.
Ketika Abu Ja'far Al-Manshur mendengar kisah ini, ia berkata: "Aku berharap tidak ada seorang pun gadis dari kaum Quraisy melainkan ia telah mendengar kabar (pelajaran) ini!"
Di suatu negeri, ada seorang wanita salehah dan bijaksana yang memiliki seorang putri. Setiap kali putrinya hendak keluar rumah, wanita itu berkata kepada putra laki-lakinya: "Keluarlah bersama saudarimu. Sebab, seorang wanita tanpa pria yang melindunginya dan melapangkan jalan baginya bagaikan seekor domba di tengah kawanan serigala; yang paling lemah di antara serigala pun akan berani memangsanya."
Sumber: Tarikh Al-Islam karya Imam Adz-Dzahabi (12/54).
Ketika Kamu Sampai pada Bab Haid, kamu Akan tahu Seberapa Banyak Ilmu yang kamu Kuasai!
Wahai Ayah,Tidak Tahu Jalan Menuju Surga, Bukankah Engkau Nahkodanya?
Wahai saudariku janganlah engkau tergesa gesa menikah hingga engkau mendapatkan laki laki yang bertaqwa
Rabu, 16 September 2026
Imam Aḥmad bin Ḥanbal dikenal sangat menjaga amal ibadahnya, tetapi pada saat yang sama beliau tidak membanggakan kesalehan dan amalnya kepada orang lain.
Tidak setiap kenikmatan adalah kemuliaan, dan tidak setiap ujian adalah hukuman
“Tidak setiap kenikmatan adalah kemuliaan, dan tidak setiap ujian adalah hukuman.”
Syekh Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“Rezeki dan pertolongan terkadang memiliki sebab-sebab lain. Sebab, orang-orang fasik dan orang-orang kafir juga diberi rezeki dan pertolongan.
Terkadang Allah memberikan kesulitan kepada orang-orang beriman dan membuat mereka takut kepada musuh mereka, agar mereka kembali kepada-Nya dan bertobat dari dosa-dosa mereka. Dengan demikian, Allah menghimpunkan bagi mereka antara pengampunan dosa dan penghilangan kesusahan.
Dan terkadang Allah memberikan tenggang waktu kepada orang-orang kafir, menurunkan hujan kepada mereka dengan deras, serta memberi mereka harta dan anak-anak, lalu Allah menarik mereka secara berangsur-angsur menuju kebinasaan tanpa mereka sadari.
Hal itu bisa jadi agar Allah menimpakan kepada mereka hukuman di dunia dengan kekuasaan-Nya yang dahsyat, atau agar Dia melipatgandakan azab bagi mereka di akhirat.
Maka, tidak setiap pemberian nikmat merupakan kemuliaan, dan tidak setiap ujian merupakan hukuman.
Allah Ta'ala berfirman:
‘Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia memuliakannya dan memberinya kenikmatan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Tuhanku telah menghinakanku.” Sekali-kali tidak!’
(QS. Al-Fajr: 15–17)Majmu' al-Fatawa, 11/442–443.
Dalam Ilmu Nahwu, saya memiliki metode ringkas yg saya pakai, mungkin bermanfaat bagi orang lain.
ANAK JADI WALI NIKAH IBUNYA
SHOLAT JAMA'AH BERDUA DENGAN PEREMPUAN YANG BUKAN MAHROM
Hukum Wanita Sholat Berjamaah diluar Rumah
HUKUM MENGULANGSHOLAT BERJAMA'AH DIRUMAH
BERJAMA'AH DI MASJID ATAU DI RUMAH BERSAMA ISTRI ?
Akan ada Pemimpin-pemimpin atas kalian, kalian mengenali (kebaikan) mereka dan mengingkari (kemungkaran) mereka."
Batasan Pengingkaran Secara Terbuka Terhadap Penguasa/Pemerintah dan Penjelasan Hadits 'Kalimat Hak di Hadapan Pemimpin yang Zalim'
Syaikh Salih al-Luhaidan (Syaikh Saleh Al-Luhaidan) berjudul:
"Batasan Pengingkaran Secara Terbuka Terhadap Penguasa/Pemerintah dan Penjelasan Hadits 'Kalimat Hak di Hadapan Pemimpin yang Zalim'":
Rangkuman dan Terjemahan Isi Video
Pertanyaan [00:00]:
Penanya mengajukan pertanyaan ringkas mengenai batasan (dhawabith) dalam mengingkari/mengkritik pejabat, direktur, atau penguasa secara terbuka (al-'alani). Serta penjelasan terkait hadits Nabi ﷺ tentang menyampaikan kalimat yang benar (kalimat haqq) di hadapan penguasa yang zalim, serta hadits tentang mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan, atau hati.
Kaidah Pengingkaran Kemungkaran [00:36]:
Syaikh menjelaskan bahwa jika seseorang memungkinkan untuk mengubah suatu kemungkaran tanpa harus memancing kemarahan penguasa/pemimpin, maka ia wajib menempuh jalan yang dapat mencapai tujuan tersebut tanpa menimbulkan kemarahan/kemudaratan dari penguasa.
Contoh dari Para Sahabat Nabi ﷺ [01:06]:
Syaikh memberikan contoh pengingkaran di hadapan penguasa berdasarkan atsar sahabat:
Kisah Abu Sa'id al-Khudri [01:06]: Ketika penguasa Bani Umayyah di Madinah mengubah urutan pelaksanaan shalat 'Ied (mendahulukan khotbah sebelum shalat agar jamaah tidak pergi), seseorang mengingkarinya dan Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه menyatakan bahwa orang tersebut telah menunaikan kewajibannya untuk menegakkan Sunnah [01:58].
Kisah Ibnu Umar dan Al-Hajjaj [02:41]: Ketika Al-Hajjaj menyampaikan khotbah, Ibnu Umar رضي الله عنه (melalui anaknya, Salim) mengingatkan Al-Hajjaj bahwa jika ingin mengikuti Sunnah Nabi, hendaknya memperpendek khotbah dan memperpanjang shalat [03:05]. Al-Hajjaj pun mengakui kebenaran nasihat tersebut [03:22].
Nasihat untuk Khotbah [03:22]:
Pengkhotbah hendaknya berhati-hati agar durasi khotbah tidak mendominasi atau melebihi waktu shalat, melainkan menyampaikan syariat Islam secara ringkas dan padat [03:55].
URL Video: https://youtu.be/e0uuoHO3NFU