Minggu, 01 November 2026

Nabi pernah Bekerjasama dan Minta diBack Up oleh TOKOH KAFIR di awal dakwah. ___

Nabi pernah Bekerjasama dan Minta diBack Up oleh TOKOH KAFIR di awal dakwah. 
___

Sejarah Islam kerap mencatat strategi-strategi brilian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menyebarkan risalah Islam. Jauh sebelum era perjanjian damai seperti Piagam Madinah, ternyata di fase-fase paling kritis periode Mekkah, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa sallam. pernah menempuh langkah taktis yang sangat pragmatis namun tetap beretika yaitu Nabi pernah meminta jaminan keamanan (jiwar atau suaka) dari seorang tokoh kafir.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Di balik keputusan tersebut tersimpan kisah perjuangan yang menguji mental, keteguhan, sekaligus keluhuran akhlak Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam dalam mengenang jasa kebaikan seseorang, bahkan kepada orang yang belum beriman.

A. Titik Balik Tersulit saat Amul Huzni dan Tragedi Thaif.

Peristiwa ini bermula pada tahun kesedihan (Amul Huzni), saat Nabi kehilangan dua pelindung terbesarnya yaitu sang paman Abu Thalib dan istri tercinta Siti Khadijah radhiyallahu anha. 

Tanpa perlindungan sosial yang kuat dari klannya, kaum musyrikin Quraisy semakin leluasa menindas dan menghalangi dakwah Islam di Mekkah.

Berharap menemukan angin segar, Nabi berhijrah sementara ke Thaif untuk menemui Bani Tsaqif. Namun, kenyataan pahit harus diterima. Alih-alih mendengarkan dakwah, penduduk Thaif mengusir beliau dengan lemparan batu hingga kaki beliau berdarah.
Saat hendak kembali ke Mekkah, Nabi dihadapkan pada dilema besar yaitu beliau tidak memiliki pelindung (protektor), sementara adat bangsa Arab saat itu melarang siapapun masuk ke sebuah wilayah tanpa berada di bawah suaka (jiwar) tokoh yang berpengaruh.

B. Mengetuk Pintu Tokoh-Tokoh Kafir tapi Ditolak hingga Diterima.

Sebelum memasuki tanah haram Mekkah, Nabi mencoba mendekati beberapa pemuka Quraisy untuk meminta perlindungan keamanan. Upaya ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai realitas sosial dan hukum adat yang berlaku saat itu demi keselamatan misi dakwah:

å Akhnas bin Syuraiq, Didekati Nabi, namun menolak karena merasa dirinya hanyalah sekutu (halif) dan bukan anggota asli klan utama.

å Suhail bin Amru, Menolak dengan alasan kabilahnya tidak berada dalam jalur aliansi yang tepat untuk memberikan suaka tersebut.

å Al-Muth'im bin 'Adi, Melalui perantara, Nabi akhirnya meminta suaka kepada Al-Muth'im bin 'Adi, seorang pemuka dari Bani Naufal (salah satu klan suku Quraisy yang kafir). Di luar dugaan, Al-Muth'im menyambut permohonan tersebut dengan tangan terbuka.

C. Pembelaan Sang Tokoh Kafir di Mata Para Sejarawan.

Peristiwa heroik ini diabadikan secara rinci oleh para sejarawan agung Islam, salah satunya oleh Ibnu Hisyam dalam kitab monumental As-Sirah An-Nabawiyah:

قَالَ ابْنُ هِشَامٍ: ثُمَّ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَجَارَ بِالْمُطْعِمِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ نَوْفَلِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ أَنْ يَدْخُلَ مَكَّةَ فِي جِوَارِهِ، فَقَالَ الْمُطْعِمُ: نَعَمْ. وَدَعَا بَنِي حَومِهِ وَقَوْمَهُ، فَقَالَ: إلْبِسُوا السِّلَاحَ، فَكُونُوا عِنْدَ أَرْكَانِ الْبَيْتِ، فَإِنِّي قَدْ أَجَرْتُ مُحَمَّدً

"Ibnu Hisyam berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Al-Muth'im bin 'Adi bin Naufal bin Abdu Manaf agar bisa masuk ke Mekkah di bawah suakanya. Al-Muth'im berkata, 'Baiklah.' Ia lalu memanggil anak-anak dan kaumnya, seraya berkata, 'Kenakanlah senjata kalian dan berdirilah di sudut-sudut Baitullah, sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Muhammad.'"

Bahkan, ketika para pemuka Quraisy lain seperti Abu Jahal mendatangi Al-Muth'im untuk memastikan status perlindungan tersebut—apakah Al-Muth'im sudah masuk Islam atau sekadar melindungi—dengan tegas ia menjawab bahwa dirinya hanya memberikan suaka. Abu Jahal pun akhirnya menghormati keputusan itu dengan berkata, "Kami melindungi siapa saja yang telah engkau lindungi."

D. Kesetiaan Abadi, Balas Budi Nabi kepada Al-Muth'im.

Meskipun Al-Muth'im bin 'Adi wafat dalam keadaan kafir sebelum Perang Badar, Rasulullah saw. tidak pernah melupakan budi baiknya. Prinsip wafa' (kesetiaan dan balas budi) yang dijunjung tinggi oleh Nabi terlihat jelas usai Perang Badar.

Melihat banyaknya tawanan perang Quraisy dari pihak musuh, Nabi bersabda mengenang jasa Al-Muth'im:

لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا، ثُمّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ

"Seandainya Al-Muth'im bin 'Adi masih hidup, kemudian ia berbicara kepadaku mengenai para tawanan yang busuk ini, niscaya akan aku bebaskan mereka untuknya." 

(HR. Bukhari no. 4023)

Kisah kerja sama Nabi Muhammad saw. dengan Al-Muth'im bin 'Adi memberikan pelajaran berharga (faedah) bagi umat Islam. Bahwa dalam berdakwah dan bernegara, Islam sangat rasional, terbuka terhadap hukum perlindungan yang berlaku, serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan balas budi—bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan.

Referensi.
å As-Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam.
å Tarikh al-Umur wal Muluk karya Imam Al-Thabari.

å Sahih Al-Bukhari (Kitab Al-Maghazi).

å Al-Rahiq Al-Makhtum karya Syeikh Safiurrahman Al-Mubarakpuri.
Mahad griya sunnah cileungsi

Sabtu, 31 Oktober 2026

konsep tauhid menurut ibnu qoyim

REFLEKSI: KETIKA PENCARI ILMU LEMAH DALAM MEMVERIFIKASI INFORMASI

REFLEKSI: KETIKA PENCARI ILMU LEMAH DALAM MEMVERIFIKASI INFORMASI

Salah satu kelemahan mendasar yang saya amati pada sebagian pencari ilmu adalah lemahnya kemampuan menelusuri keabsahan informasi, membedakan fakta dari interpretasi, serta mengenali fenomena framing.

Ironisnya, hal ini juga terjadi pada sebagian mereka yang mempelajari ilmu hadis, sebuah disiplin ilmu yang justru memiliki tradisi verifikasi informasi sangat ketat.

Mengapa saya mengatakan demikian?

Karena saya menyaksikan dan mengalami sendiri dinamika tahdzir internal di kalangan Salafi sejak tahun 1990-an. Fenomena tersebut ternyata terus berlangsung hingga sekarang.

Belakangan, saya juga melihat pola serupa di kalangan yang sering disebut Aswaja, baik dalam dinamika internal mereka maupun dalam hubungan antarkelompok.

Polanya relatif sama. Informasi tentang seseorang atau kelompok mudah diterima, kemudian diyakini dan disebarluaskan. Padahal, ketika ditelusuri lebih jauh, tidak sedikit yang ternyata merupakan framing, penggalan informasi, interpretasi sepihak, atau kesimpulan yang kehilangan konteks.

Yang lebih memprihatinkan, informasi semacam itu terkadang menjadi dasar untuk menilai, melabeli, bahkan memperingatkan orang lain agar menjauhi seseorang.

Padahal, kebenaran sebuah kutipan belum tentu menjamin kebenaran kesimpulan yang dibangun darinya.

Dalam ilmu hadis, kita mengenal penelitian sanad, kritik matan, perbandingan riwayat, syadz, dan illat. Namun, mengapa ketelitian yang sama tidak selalu diterapkan ketika menerima informasi tentang sesama muslim?

Apakah karena informasi itu datang dari guru sendiri? Apakah karena pihak yang dibicarakan berbeda kelompok? Ataukah karena informasi tersebut sesuai dengan prasangka yang sudah terbentuk sebelumnya?

Kalau mereka yang mengaku santri atau thalibul ilmi saja masih mudah terjebak dalam persoalan ini, bagaimana dengan masyarakat awam?

Menariknya, berdasarkan pengamatan pribadi saya, fenomena semacam ini tampak relatif lebih sedikit di sebagian lingkungan modernis. Tentu ini masih sebatas pengamatan, bukan kesimpulan penelitian. Akan menarik jika diteliti lebih jauh apakah perbedaan budaya kritik, pendidikan, dan struktur otoritas keilmuan turut memengaruhinya.

Saya semakin berkesimpulan bahwa banyak fitnah dan kekacauan bukan bermula dari perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan dari kegagalan mengelola informasi tentang perbedaan tersebut.

Kita boleh berbeda pandangan, bahkan mengkritik dengan tegas. Namun, kritik harus dibangun di atas informasi yang sahih, konteks yang utuh, dan kesimpulan yang adil.

Jangan sampai kita begitu teliti memeriksa riwayat dari seribu tahun yang lalu, tetapi begitu mudah mempercayai kabar tentang saudara kita yang masih hidup.

Ilmu bukan sekadar mengetahui kaidah, melainkan juga konsisten menerapkannya, termasuk ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.

Barangkali, salah satu kebutuhan mendesak dalam pendidikan para pencari ilmu hari ini bukan hanya memperbanyak hafalan dan penguasaan kitab, tetapi juga memperkuat literasi informasi, kemampuan berpikir kritis, serta keadilan dalam menilai manusia.

Sebab tabayyun bukan sekadar materi pelajaran. Ia seharusnya menjadi budaya ilmiah dan akhlak sehari-hari.

Sekadar refleksi dari pengalaman dan pengamatan selama lebih dari tiga dekade. 😊
Ustadz noor akhmad setiawan

Sebelum Membawa Keluarga Tinggal di Negeri Non-Muslim, Pikirkan Sampai Generasi Ketiga*

*Sebelum Membawa Keluarga Tinggal di Negeri Non-Muslim, Pikirkan Sampai Generasi Ketiga*

Tinggal dan bekerja di luar negeri, khususnya di negara maju yang mayoritas penduduknya non-Muslim, memang menawarkan banyak hal yang menarik. Penghasilan yang lebih baik, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang bagus, pelayanan publik yang tertata, lingkungan yang nyaman, serta jaminan sosial yang kuat bisa membuat seseorang berpikir, “Mengapa tidak sekalian menetap dan membesarkan keluarga di sini?”

Pertanyaan itu wajar. Namun bagi seorang Muslim, menurut saya ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Bagaimana agama kita, anak-anak kita, cucu kita, bahkan generasi ketiga setelah kita?
Berdasarkan pengalaman saya sekitar 19 tahun tinggal di beberapa negara non-Muslim, serta berinteraksi dan menangani berbagai persoalan keluarga Muslim Indonesia di luar negeri, saya melihat bahwa keputusan untuk menetap bersama keluarga di luar negeri perlu dipikirkan dengan sangat hati-hati dan dipersiapkan dengan matang.

Saya melihat sendiri berbagai kondisi yang memprihatinkan. Ada keluarga yang pada awalnya masih menjaga agama, tetapi perlahan mulai meninggalkan shalat. Ada keluarga yang suaminya mualaf dan akhirnya mengalami kesulitan mempertahankan kehidupan Islam di tengah keluarga. Ada pula anak-anak Muslim yang tumbuh dewasa tanpa lagi mengerjakan shalat, kemudian menikah dengan pasangan non-Muslim.

Tentu tidak semua keluarga Muslim di luar negeri seperti itu. Alhamdulillah, banyak juga keluarga yang mampu menjaga agama dan bahkan membangun komunitas Islam yang baik. Namun pengalaman-pengalaman tersebut cukup menjadi peringatan bahwa risiko itu nyata dan tidak boleh dianggap ringan.

Yang sering kita pikirkan hanya generasi pertama.
Kita masih shalat. Kita masih mengenal halal dan haram. Kita masih mencari masjid. Kita masih mengajarkan Al-Qur'an kepada anak.
Tetapi bagaimana dengan anak kita ketika sudah berusia 25 atau 30 tahun dan tidak lagi tinggal bersama kita?

Lalu bagaimana dengan cucu kita?
Dan bagaimana generasi ketiga, yang mungkin sudah tidak mengenal Indonesia, tidak berbicara bahasa orang tuanya, dan tidak lagi mempunyai hubungan kuat dengan lingkungan masyarakat Muslim tempat kakek-neneknya berasal?

Inilah yang menurut saya harus direnungkan sebelum mengambil keputusan besar untuk menetap permanen bersama keluarga.

Kenyamanan dunia memang nyata
Kita juga harus jujur dan adil. Di beberapa negara maju, termasuk negara-negara Eropa seperti Denmark, kualitas pelayanan publik, pendidikan umum, kesehatan, kesejahteraan sosial, kebersihan, keamanan, dan keseimbangan kehidupan kerja memang bisa sangat baik.

Seorang pekerja informal pun dalam kondisi tertentu dapat menikmati standar hidup yang layak. Perpindahan profesi lebih terbuka. Anak mendapat dukungan negara. Ketika kehilangan pekerjaan pun tersedia sistem perlindungan sosial.
Semua itu adalah nikmat yang tidak perlu kita ingkari.

Namun seorang Muslim tidak cukup bertanya:
“Di mana hidup saya lebih nyaman?”
Kita juga perlu bertanya:
“Di mana peluang saya dan keluarga untuk istiqamah dalam agama lebih besar?”
Sebab ada sesuatu yang sulit diukur dengan angka: lingkungan yang mengingatkan kita kepada Allah.

Di Indonesia, suara adzan, masjid, shalat Jumat, pengajian, keluarga besar Muslim, makanan halal, Ramadhan, Idul Fitri, dan berbagai aktivitas keislaman terasa biasa karena kita menjumpainya sejak kecil.
Justru karena terlalu biasa, kadang kita tidak menyadari betapa berharganya semua itu sampai kita tinggal di tempat di mana untuk pergi ke masjid saja membutuhkan perjalanan yang jauh dan perencanaan khusus.
Yang perlu kita pikirkan bukan hanya diri kita
Orang tua mungkin mengatakan:
“InsyaAllah saya bisa menjaga diri.”
Mungkin benar.

Tetapi keputusan membawa keluarga menetap di suatu negeri bukan hanya tentang kemampuan iman seorang ayah atau ibu hari ini.
Pertanyaannya adalah apakah kita sudah mempersiapkan anak agar tetap menjaga shalat ketika tidak ada lagi ayah dan ibu yang mengingatkan?
Apakah mereka memiliki sahabat Muslim yang baik?
Apakah mereka mempunyai akses yang realistis kepada masjid dan komunitas Muslim?
Bagaimana pendidikan agamanya?
Bagaimana lingkungan sekolah dan pergaulannya?
Bagaimana ketika nilai-nilai yang diajarkan di rumah berbeda jauh dengan nilai dominan yang ditemuinya setiap hari?
Dan kelak ketika mereka memilih pasangan hidup, nilai agama seperti apa yang akan menjadi pertimbangan utama mereka?

Karena itu, menurut saya, keputusan menetap harus melihat setidaknya tiga lapis generasi:
kita → anak kita → cucu kita.
Jangan sampai kita memenangkan kenyamanan ekonomi untuk satu generasi, tetapi meninggalkan persoalan agama yang jauh lebih berat kepada generasi setelah kita.

Islam tidak menjanjikan dunia sebagai tempat tanpa kesulitan
Allah mengingatkan Nabi Adam عليه السلام:
فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ
"Kemudian Kami berfirman, 'Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka jangan sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti engkau akan bersusah payah.'"
(QS. Thaha: 117)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia memang bukan surga.

Karena itu, ketika menghadapi berbagai kekurangan hidup di negeri sendiri, jangan sampai kegelisahan kita terhadap masalah ekonomi, birokrasi, pekerjaan, pendidikan, atau kenyamanan hidup membuat kita melihat negeri lain hanya dari kelebihannya.
Setiap tempat mempunyai harga yang harus dibayar.
Ada tempat yang mungkin menuntut harga lebih tinggi secara ekonomi, ada pula lingkungan yang tantangannya lebih besar dalam menjaga agama dan pendidikan anak.

Bagi seorang Muslim, pertimbangannya bukan semata-mata:
Di mana gajinya paling besar?
Di mana sekolahnya paling bagus?
Di mana hidupnya paling nyaman?
Tetapi juga:
Di mana shalat keluarga lebih terjaga?
Di mana anak lebih mudah mengenal Allah?
Di mana mereka mempunyai lingkungan dan sahabat yang membantu menjaga agamanya?
Bagaimana kemungkinan anak dan cucu kita mempertahankan Islam ketika kita sudah tidak ada?

Bukan berarti tidak boleh tinggal di negeri non-Muslim
Pesan ini bukan untuk menghukumi setiap Muslim yang tinggal di luar negeri. Kondisi setiap orang berbeda. Ada yang tinggal sementara karena pekerjaan, pendidikan, dakwah, kesehatan, atau kebutuhan lainnya. Bahkan ada keluarga yang justru memiliki lingkungan Muslim dan pendidikan agama yang sangat baik di sana.

Yang ingin ditekankan adalah:
jangan menjadikan kenyamanan dunia sebagai satu-satunya ukuran ketika menentukan tempat tinggal keluarga.
Sebelum memutuskan menetap, buatlah semacam risk assessment keluarga, bukan hanya financial assessment.
Periksa masjid dan komunitas Muslim di sekitar tempat tinggal. Pikirkan akses shalat Jumat. Tentukan bagaimana pendidikan Al-Qur'an dan aqidah anak. Perhatikan dengan siapa mereka bergaul. Rencanakan pendidikan agama ketika mereka memasuki usia remaja. Dan yang paling penting, bangun rumah yang benar-benar hidup dengan shalat dan ketaatan, bukan menyerahkan pendidikan iman sepenuhnya kepada sekolah atau komunitas.

Kita terbiasa mempersiapkan karier, visa, rumah, sekolah, asuransi kesehatan, dan tabungan sebelum pindah negara.
Mengapa persiapan untuk menjaga iman keluarga justru tidak dibuat seteliti itu?
Pada akhirnya, keputusan terbaik setiap keluarga bisa berbeda. Tetapi jangan hanya memikirkan kehidupan 5 atau 10 tahun ke depan.
Pikirkan pula keadaan anak setelah kita tua.
Pikirkan cucu ketika kita sudah tidak mampu menasihati mereka.

Bahkan, kalau perlu, tanyakan:
“Jika saya mengambil keputusan ini hari ini, seperti apa kemungkinan keadaan agama generasi ketiga keluarga saya nanti?”
Sebab keberhasilan sebuah keluarga Muslim bukan hanya ketika anak-anaknya mendapatkan pendidikan tinggi, pekerjaan bagus, rumah nyaman, dan kehidupan yang mapan.

Ada keberhasilan yang jauh lebih besar:
ketika setelah kita meninggal, anak-anak dan keturunan kita masih mengenal Allah, menjaga shalat, mencintai agamanya, dan mendoakan kedua orang tuanya.

Itulah warisan yang nilainya jauh melampaui kenyamanan hidup di mana pun kita berada.
Wallahu a'lam.

Aslam Salimudin 
Paris, 29 Oktober 2026

Adapun mengingkari mereka (secara lisan/hati) maka tidak mengapa, wahai kaum Muslimin, bahwa kamu bukanlah seorang pengajak revolusi, dan tidak ada pendorong kudeta. Akan tetapi, kamu menyeru untuk mengubah kemungkaran ini.


"Adapun masalah memberontak terhadap mereka (penguasa), selagi mereka masih beragama Islam, maka tidak boleh memberontak terhadap mereka: kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata di sisi kalian yang ada buktinya dari Allah".

"Adapun mengingkari mereka (secara lisan/hati) maka tidak mengapa, wahai kaum Muslimin, bahwa kamu bukanlah seorang pengajak revolusi, dan tidak ada pendorong kudeta. Akan tetapi, kamu menyeru untuk mengubah kemungkaran ini. Alih-alih memberontak kepada para penguasa, bangkitlah melawan orang-orang fasik dan pembawa kerusakan yang telah merusak masyarakat. Inilah yang wajib. Jika mereka melihat seorang pemabuk, mereka tahu bahwa pemerintah tidak berlaku adil dan amanah terhadap fitnah, serta bahwa pengingkaran terhadap kemungkaran dapat mengarah kepada sesuatu yang lebih berat darinya, tidak mengapa untuk mengubahnya. Demikian pula jika mereka melihat seorang wanita pezina, atau seorang laki-laki pezina, atau mereka melihat sebuah rumah dipersiapkan untuk kerusakan, maka hukumnya demikian pula, dan sesungguhnya urusannya adalah bersikap teliti."

"Adapun pencemaran nama baik terhadap mereka seperti yang telah lalu, jika yang dimaksud adalah memprovokasi orang-orang untuk memberontak terhadap mereka, maka tidak boleh. Dan jika yang dimaksud adalah memotivasi orang-orang untuk mengingkari para pelaku kemungkaran, maka itu adalah urusan yang baik: 'Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka dahulu tidak saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka perbuat'. Dan Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: 'Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman'."

"Sebagian orang jika mendengar orang yang mengingkari kemungkaran berkata: 'Kamu dengan ini memprovokasi orang-orang untuk memberontak terhadap pemerintah, atau kamu adalah seorang Khawarij'. Janganlah kalian berlebihan dan jangan pula mengaburkan masalah. Orang yang menyeru manusia kepada revolusi dan kudeta adalah orang yang menyeru kepada fitnah. Adapun orang yang menyeru dan memperingatkan dari kemungkaran—maka jika orang yang melakukan kemungkaran tersebut tidak meninggalkan kemungkarannya, dan tiga atau empat orang dari kelompok yang mungkin saja memukul pelaku kemungkaran tersebut jika pengingkaran itu tidak membawa kepada sesuatu yang lebih besar dari itu—maka kepada Allah-lah memohon pertolongan."

Dari kaset: (Pertanyaan-pertanyaan Bani Qais Bahasy).

Jumat, 30 Oktober 2026

Barang siapa diberi taufik oleh Allah untuk meminta pada Allah, sesungguhnya ia sedang dikehendaki untuk diberi. Begitulah makna yang pernah saya dengar dari para ulama.

Barang siapa diberi taufik oleh Allah untuk meminta pada Allah, sesungguhnya ia sedang dikehendaki untuk diberi. Begitulah makna yang pernah saya dengar dari para ulama.

Suatu hari, begitu saya tiba di masjid, syahdan hujan turun. Padahal sepanjang perjalanan, hujan itu belum hadir. Saya menengok jam digital di dinding masjid. Waktu menuju ikamah Zuhur ternyata masih cukup lama.

Saya langsung membatin: masyaallah, Allah sedang memberikan taufik kepada saya untuk berdoa di tengah bertumpuknya sebab-sebab terkabulnya doa. Hujan sedang turun. Pintu langit tengah terbuka (waktu zawal). Jeda antara azan dan ikamah masih terbentang. Tiga sebab ijabah ini ada dalam satu waktu.

Saya pun salat, bersujud, lalu membuka doa di dalam sujud tersebut dengan pembuka doa yang datang dari Nabi ﷺ, yang beliau menjanjikan pengabulan bagi yang membaca kalimat-kalimat tersebut. Sekali lagi saya membatin, Allah kembali memberi saya taufik untuk mengerjakan dua tumpukan sebab terkabulnya doa yang lainnya: ketika sujud dan membuka doa dengan apa yang diajarkan oleh kekasih-Nya ﷺ.

Rasanya, puas sekali berdoa dalam sujud ketika itu. Tidak tergesa-gesa karena waktu yang terasa panjang. Semua atas taufik dari Allah.

Dan, tak lama, besok paginya Allah kirimkan pengabulan doa tersebut secara kontan. Saya seperti tersergah di pagi buta itu. Pengabulan yang bagi kami sekeluarga adalah sesuatu yang sangat besar dalam kehidupan kami.

Sesuatu yang kemarin saya pintakan dalam sujud atas taufik-Nya, pagi itu telah Allah hadirkan di hadapan kami dengan kuasa-Nya. Sekali lagi, barang siapa yang digerakkan untuk meminta, artinya ia memang ingin diberi.

Rabbana, semoga Engkau berkenan memaafkan kami jika pernah terbesit sekejap saja keraguan atas pengabulan doa dari-Mu. Kami beriman bahwa Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui apa yang kami butuhkan, dan Engkau Maha Mampu mengabulkan doa-doa hamba-Mu.
Ust muhammad rezki hr

سئل الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله :لقد ظهر بين طلاب العلم اختلاف في تعريف المبتدع ،

سئل الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله :

لقد ظهر بين طلاب العلم اختلاف في تعريف المبتدع ،

فقال بعضهم : هو من قال أو فعل البدعة ، ولو لم تقع عليه الحجة ، ومنهم من قال لابد من إقامة الحجة عليه ، ومنهم من فرق بين العالم المجتهد وغيره من الذين أصلوا أصولهم المخالفة لمنهج أهل السنة والجماعة ، وظهر من بعض هذه الأقوال تبديع ابن حجر والنووي ، وعدم الترحم عليهم ؟

فأجاب :

" أولاً: لا ينبغي للطلبة المبتدئين وغيرهم من العامة أن يشتغلوا

بالتبديع والتفسيق ؛

لأن ذلك أمر خطير وهم ليس عندهم علم ودراية في هذا الموضوع ، وأيضاً هذا يُحدث العداوة والبغضاء بينهم ، فالواجب عليهم الاشتغال بطلب العلم ، وكف ألسنتهم عما لا فائدة فيه ، بل فيه مضرة عليهم ، وعلى غيرهم

ثانياً: البدعة : ما أحدث في الدين مما ليس منه ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : ( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ) - رواه

البخاري - ،

وإذا فعل الشيء المخالف جاهلاً :

فإنه يعذر بجهله ، ولا يحكم عليه بأنه مبتدع ، لكن ما عمله يعتبر

بدعة

ثالثاً: من كان عنده أخطاء اجتهادية تأوّل فيها غيره ، كابن حجر ، والنووي ، وما قد يقع منهما من تأويل بعض الصفات : لا يحكم عليه

بأنه مبتدع ، ولكن يقال :

هذا الذي حصل منهما خطأ ، ويرجى لهما المغفرة بما قدماه من خدمة عظيمة لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فهما إمامان جليلان ، موثوقان عند أهل العلم " انتهى .

"المنتقى من فتاوى الفوزان" (2/211) ، (212)

سبيل الرشاد في تقرير مسائل الاعتقاد على ضوء الأدلة الشرعية والمأثور عن سلف الأمة)

Kamis, 29 Oktober 2026

Hukum Membatalkan Shalat Karena Di Sebelah Kita Ada Orang Yang Bau Badan

Hukum Membatalkan Shalat Karena Di Sebelah Kita Ada Orang Yang Bau Badan 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan:

لا حرج في ذلك، أقول: لا حرج في قطعها للضرورة من وجود الرائحة الكريهة .. تجعل الإنسان غير خاشع في صلاته، وغير مطمئن، فإذا قطعها ليذهب إلى جانب آخر فلا حرج في ذلك -إن شاء الله- 

Tidak mengapa melakukan hal tersebut. Saya katakan, tidak mengapa ia membatalkan shalatnya karena adanya kebutuhan mendesak, yaitu adanya bau tidak sedap yang membuat seseorang tidak dapat khusyuk dalam shalatnya dan tidak merasa tenang. Jika ia membatalkan shalatnya agar dapat berpindah ke sisi yang lain, maka hal itu tidak mengapa, insyaallah.

مع العلم بأن الذي له رائحة كريهة لا يصلي مع الناس، الواجب عليه أن يصلي في بيته، إذا كان عنده الرائحة الكريهة البخر الكثير المؤذي، أو الصنان الذي في إبطه الكثير، فالواجب عليه أن يعالج هذا الشيء حتى يزول، وليس له أن يؤذي الناس، أو كان أكل ثومًا، أو بصلًا، ليس له حضور المسجد، يجب عليه أن يبتعد عن المسجد، حتى تزول تلك الرائحة الكريهة

Namun perlu diketahui bahwa orang yang memiliki bau badan atau bau mulut yang tidak sedap, tidak boleh ia shalat bersama orang lain apabila baunya sangat menyengat dan mengganggu. Ia wajib shalat di rumahnya jika memiliki bau mulut yang sangat busuk dan mengganggu, atau bau ketiak yang menyengat dan mengganggu orang lain. Ia wajib mengobati masalah tersebut hingga baunya hilang (baru kemudian shalat di masjid). Ia tidak boleh mengganggu orang lain dengan bau tersebut. Demikian pula, jika seseorang memakan bawang putih atau bawang merah, ia tidak boleh menghadiri masjid. Ia wajib menjauh dari masjid sampai ia menghilangkan bau tidak sedap tersebut.

لأن الرسول ﷺ: نهى من أكل ثومًا، أو بصلًا أن يقرب المسجد وكان يأمر بإخراج من فعل ذلك من المسجد، فإذا وجد فيه رائحة كريهة غير الثوم والبصل كالبخر في الفم .... الشديد الذي يؤذي من حوله له أن يفارقه يبتعد إلى جهة أخرى

Sebab, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam melarang orang yang memakan bawang putih atau bawang merah untuk mendekati masjid. Beliau juga memerintahkan agar orang yang melakukan hal tersebut dikeluarkan dari masjid. Oleh karena itu, apabila seseorang mendapati ada orang lain yang memiliki bau tidak sedap selain bau bawang putih dan bawang merah, seperti bau mulut yang sangat busuk hingga mengganggu orang-orang di sekitarnya, maka ia boleh meninggalkan tempat tersebut dan berpindah ke sisi lain.

(Fatawa Nurun 'alad Darbi, no.289 pertanyaan ke-6).

Fawaid Kangaswad | lynk.id/kangaswad

Selasa, 27 Oktober 2026

Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang lebih utama daripada menuntut ilmu".

#TERUSLAH_BELAJAR.. 

Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

❞ما تُقُرِّبَ إلى اللّه -عزّ وجلّ- بَـعـدَ أداءِ الفَرائِضِ بأفضلَ مِن طَلبِ العِلم❝. 

"Tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri kepada Allah setelah menunaikan kewajiban-kewajiban, yang lebih utama daripada menuntut ilmu".

[Thabaqat As Syafi'iyyah Al Kubra, 2/129].

MAGHRUR (TERTIPU OLEH DIRINYA)

MAGHRUR (TERTIPU OLEH DIRINYA)

Kebiasaan pendekar turun gunung; melihat dirinya berada di atas puncak gunung, padahal dia hanyalah seekor katak dalam tempurung.

Merasa paling tinggi, krn tak pernah melihat yg lebih tinggi. Merasa paling berilmu, karen tak pernah menyadari betapa luasnya samudra ilmu. Menganggap orang lain kecil, padahal cakrawala pandangnya sendiri yang sempit dan kerdil.

Sungguh, di antara musibah terbesar seorang penuntut ilmu adalah ketika sedikitnya ilmu membuatnya merasa telah mengetahui segalanya. Semakin dangkal ilmunya, semakin tinggi pengakuannya. Semakin luas ilmunya, semakin besar kesadarannya akan kebodohan dirinya.

Kata orang Jawa: “koyo cacing nguntal kelopo”
Ungkapan sindiran terhadap seseorang yang kemampuannya kecil, tetapi keinginan atau ambisinya terlampau besar, jauh melampaui kapasitas dirinya.

Yang lama2 udah pada bertaubat, sekarang datang lagi, seorang pemula yg tak tau malu, mengumbar kekurangan ilmunya  dan menyingkap sendiri akan kerdilnya wawasannya. Dg penuh bangga menempatkan seolah dirinya paling paham manhaj.

Biarkan waktu menjawab, seorang penyair berkata:

سَتُبْدِي لَكَ الْأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا
وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ

“Kelak hari-hari akan menyingkapkan kepadamu apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui. 

Dan berita-berita akan datang kepadamu melalui orang yang tidak pernah engkau bekali untuk mencari berita.
Uff

Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah: Dan termasuk kesalahan adalah memberitahu istri mengenai jumlah atau ukuran harta [yang dimiliki], karena jika harta itu sedikit, sang suami akan tampak hina di matanya; dan jika harta itu banyak, ia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan!"

"Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah: Dan termasuk kesalahan adalah memberitahu istri mengenai jumlah atau ukuran harta [yang dimiliki], karena jika harta itu sedikit, sang suami akan tampak hina di matanya; dan jika harta itu banyak, ia akan meminta tambahan pakaian dan perhiasan!"

Sebab Utama Kenakalan dan Kedurhakaan Anak

*Sebab Utama Kenakalan dan Kedurhakaan Anak*

Malik bin Dinar berkata:

"Sesungguhnya Allah apabila murka kepada suatu kaum maka Allah menjadikan anak-anak mereka durhaka kepada mereka".

(Al Uqubat, Ibnu Abi Dunya, 74) 

قال مالك بن دينار رحمه الله : إنَّ الله عز وجل إذا غَضِب على قومٍ سلّط عليهم صبيانهم !

العقوبات /ابن أبي الدنيا (٧٤)

Tinjauan dan Konsepsi Singkat tentang Masalah Men-tahdzir/Men-tabdi' Orang Tertentu


Bid'ahnya Al-Imam Ahmad terhadap Al-Karabisi...

Tinjauan dan Konsepsi Singkat tentang Masalah Men-tahdzir/Men-tabdi' Orang Tertentu (Tabdi' Al-Mu'ain)

Oleh: Dr. Ahmad Muhammad Ash-Shadiq An-Najjar

Beberapa saudara yang mulia meminta saya untuk menuliskan gambaran singkat dan mudah dipahami yang merangkum berbagai aspek dari permasalahan tabdi' al-mu'ain (menvonis pelaku bid'ah secara personal).

Agar seorang peneliti dapat memahami permasalahan ini dengan benar, pertama-tama ia harus menyadari bahwa tidak ada satu pun nash dari Salaf yang shohih, langsung, dan bersifat umum untuk seluruh keadaan—yang menyatakan bahwa men-tabdi' orang tertentu (mu'ain) tidak mensyaratkan ilmu dan tidak adanya takwil, ataupun sebaliknya, bahwa hal itu dipersyaratkan. Paling pol, apa yang diriwayatkan dari mereka dalam bab ini kembali kepada tiga sumber istidlal (penarikan dalil):

1. Nash yang diriwayatkan dari dua Imam Ar-Razi Yaitu riwayat keduanya tentang ijma' Salaf mengenai orang yang berkata waqf (tathوقف) dalam Al-Qur'an: "Barangsiapa yang tawaqquf dalam Al-Qur'an dalam keadaan bodoh, maka ia telah berbuat bid'ah, berilmu, dan tidak dikafirkan." Tidak tersembunyi bagi setiap orang yang benar-benar memahami kandungan makna lafaz bahwa pernyataan ini tidak memiliki petunjuk yang jelas mengenai disyaratkannya ilmu dalam tabdi', atau tidak disyaratkannya. Hal itu karena kata sambung (huruf waw) berfaedah untuk sekadar penggabungan (mutlaq al-jam') dan bukan berfaedah tertib (urutan). Selain itu, ungkapan tersebut kemungkinan besar keluar dalam rangka taghlizh (pemberatan/penegasan) dalam masalah waqf, karena masalah tersebut merupakan salah satu perkara yang disembunyikan oleh kalangan Jahmiyyah pada masa mereka, serta demi menjaga kemurnian Al-Qur'an dari merembesnya pemikiran Jahmiyyah di masa mihnah (ujian/fitnah). Hal ini telah saya jelaskan dalam bantahan saya terhadap Syaikh Ar-Raiyis, dan sebelumnya dalam bantahan saya terhadap kelompok Al-Haddadiyah. Oleh karena itu, atsar ini saja tidak cukup untuk dijadikan sandaran dalam menetapkan kaidah umum mengenai tabdi' al-mu'ain.

Oleh karenanya, keyakinan tidak boleh dibangun di atas kemungkinan-kemungkinan yang lemah, terlebih lagi jika dijadikan sebagai manhaj (metodologi) umum...

2. Ungkapan mutlak dan nash-nash umum dari Salaf, seperti perkataan mereka: "Barangsiapa yang berkata begini, maka ia adalah pelaku bid'ah." Tidak tersembunyi bagi siapa pun yang memahami arti kemutlakan (ithlaq), bahwa ungkapan-ungkapan mutlak ini adalah perkara umum dan global (kulli), yang tidak secara otomatis mendatangkan hukum vonis secara personal (einiy) kepada seseorang tertentu sekadar karena ia mengeluarkan pendapat tersebut. Akan tetapi, dalam penerapannya, tetap harus terpenuhi syarat-syaratnya dan terhindar dari penghalang-penghalangnya (mawani').

3. Aplikasi praktis dalam tindakan Salaf men-tabdi' orang-orang tertentu Akal ushul tidak mungkin membenarkan penyimpulan kaidah umum yang konsisten dalam menurunkan vonis bid'ah secara personal tanpa syarat atau penghalang, hanya berdasarkan individu-individu tertentu yang dijatuhi vonis dalam kondisi dan situasi yang dilingkupi oleh berbagai qarinah (indikasi), tanpa melakukan istiqra' (peninjauan/penelitian) yang sempurna.

Banyak sekali sikap Salaf dalam men-tabdi' orang-orang tertentu atau memboikot mereka yang berkaitan dengan indikasi keadaan (qarinah haliwayh), seperti tampaknya sifat 'anad (pemberontakan/keras kepala), atau niat merusak prinsip-prinsip agama, atau demi menjaga kemaslahatan dan menolak kemafsadatan dalam bentuk pencegahan dan pemboikotan, yang mana kondisi tersebut mungkin tidak ada pada orang lain.

Oleh karena itu, karena Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memiliki akal ushul Salafi, beliau menyatakan tentang vonis tabdi' yang dilakukan oleh Salaf terhadap sebagian orang tertentu:

"Dan banyak dari jawaban Imam Ahmad dan para imam lainnya yang keluar merespons pertanyaan dari penanya yang mana orang yang dimintai jawaban telah mengetahui keadaannya, atau jawaban itu keluar ditujukan kepada orang tertentu yang telah nyata keadaannya. Maka itu diposisikan seperti perkara-perkara personal yang bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang hukumnya hanya tetap berlaku pada kasus yang serupa dengannya." (Majmu' Al-Fatawa, 28/213)

Sebagaimana Salaf men-tabdi' Al-Hasan bin Shalih bin Hayy karena menyalahi prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah keluar (pemberontakan) dengan pedang, namun mereka tidak men-tabdi' orang-orang pilihan dari kalangan tabi'in yang keluar bersama Ibnu Al-Asy'as memerangi Al-Hajjaj.

Dan sebagaimana Salaf bersikap keras terhadap orang yang mentakwilkan hadis shurah (tentang bentuk/sifat Allah) hingga menjadikan dhamir (kata ganti) kembali kepada selain Allah, dan mereka menganggap hal itu termasuk jenis takwil-takwil Jahmiyyah, namun para imam tidak men-tabdi' Al-Imam Ibnu Khuzaimah ketika beliau condong kepada takwil tersebut. Dan contoh-contoh lainnya.

Perbedaan (kontras) ini memutus jalan bagi siapa saja yang mengubah aplikasi praktis yang bersifat parsial (juz'i) menjadi kaidah-kaidah umum tanpa peninjauan total (istiqra' tamm) dan tahqiqul manath (verifikasi fakta masalah). Kewajiban kita adalah meneliti dan merinci keadaan orang-orang tertentu sebelum menjatuhkan vonis hukum kepada mereka.

Tampak jelas bahwa Syaikh Ar-Raiyis dan kelompok Al-Haddadiyah membayangkan seolah-olah Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang menyelisihi dalam masalah yang populer, lalu beliau langsung berkata—tanpa mengetahui keadaannya dan sumber pengambilan ilmunya—bahwa ia adalah pelaku bid'ah lagi fasik!!!!

Bayangan ini, jika benar berasal dari mereka, adalah sesuatu yang aneh.

Dalam aplikasi praktis yang bersifat parsial, kita mendapati bahwa para imam bersikap sangat keras dalam mencela orang yang memunculkan perkataan yang menyelisihi apa yang dipegang oleh Al-Jama'ah, terlebih lagi jika hal itu dibarengi dengan penampakan pendapat tersebut dan pelakunya adalah seorang mutakallim (ahlul kalam). Maka mereka langsung menghukuminya dengan tabdi', dan hukum ini tidak berlaku kecuali pada kasus yang serupa. Di antara contoh paling jelas adalah apa yang dilakukan oleh Imam Ahmad terhadap Al-Karabisi dan Ya'qub bin Syaibah.

Al-Karabisi adalah:

  • Seorang mutakallim (ahli kalam), sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syirazi, Adz-Dzahabi, An-Nawawi, dan Ibnu Khallikan.
  • Seseorang yang mastur (tertutup/dikenal baik) dan membela As-Sunnah sebelum munculnya pendapatnya.
  • Menyusun kitab "Al-Mudallisin", yang di dalamnya terdapat celaan terhadap Al-A'masy, Sulaiman At-Taimi, pembelaan terhadap Al-Hasan bin Shalih bin Hayy, serta hadis-hadis yang memperkuat mazhab Rafidhah...
  • Menampakkan masalah Al-Lafzh (lafaz Al-Qur'an), dan hal itu terjadi di masa fitnah Al-Qur'an itu makhluk, lalu ia melafazkan ucapan tersebut untuk membukakan pintu bagi Jahmiyyah agar mereka bisa berkata: "Al-Qur'an adalah makhluk" dengan kedok lafaz.
  • Tatkala sampai kepadanya pengingkaran Imam Ahmad terhadapnya, ia justru bersikeras, hingga ia berkata: "Apa yang harus kita perbuat dengan pemuda ini? Jika kita katakan: 'Makhluk', ia bilang: 'Bid'ah'. Jika kita katakan: 'Bukan makhluk', ia bilang: 'Bid'ah'."

Maka tidak ada tindakan lain bagi Imam Ahmad—setelah beliau mengetahui keadaan dan indikasi urusannya—kecuali men-tabdi'-nya dan memperingatkan manusia darinya.

Abul Qasim At-Taimi Al-Ashbahani berkata: "Dan orang yang pertama kali mengatakan tentang lafaz, dan berkata: 'Lafaz-lafaz kita dengan Al-Qur'an adalah makhluk' adalah Husain Al-Karabisi. Maka Imam Ahmad bin Hanbal men-tabdi'-nya, dan para ulama di berbagai negeri menyetujui vonis tabdi' terhadapnya..."

Maka, kisah Al-Karabisi layak dijadikan contoh tentang tindakan Salaf men-tabdi' orang tertentu secara langsung, tetapi kisah itu tidak layak dijadikan dalil bahwa syarat-syarat tidak diperhitungkan dalam setiap vonis tabdi', atau dalam setiap penyelisihan terhadap suatu prinsip. Paling pol, yang ditunjukkan oleh kisah tersebut adalah bahwa Imam Ahmad men-tabdi' orang yang terkumpul padanya indikasi-indikasi (qarinah) yang melingkupinya secara personal. Dan inilah makna dari masalah al-ain (personal) yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, yang hukumnya hanya berlaku pada kasus yang serupa dengannya.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Imam Ahmad sangat memperhatikan kondisi/keadaan, adalah perkataan Abdullah bin Ahmad:

"Ayahku pernah ditanya—dan aku mendengarnya—tentang Al-Lafzhiyyah dan Al-Waqqifah, lalu beliau menjawab: 'Barangsiapa di antara mereka yang mahir ilmu kalam, maka ia adalah seorang Jahmi'."

Riwayat ini menunjukkan bahwa Imam Ahmad tidak menjadikan semata-mata penisbatan kepada Al-Lafzhiyyah atau Al-Waqqifah sebagai sifat yang cukup untuk menjatuhkan hukum, melainkan beliau mengaitkan hukum tersebut dengan sifat tambahan, yaitu kemahiran dalam ilmu kalam (yuhsinu al-kalam).

Demikian pula halnya dengan Ya'qub (bin Syaibah). Al-Khallal meriwayatkan dari Al-Marwadzi, ia berkata: "Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang Ya'qub bin Syaibah, lalu aku katakan: 'Sesungguhnya ia menampakkan keyakinan waqf.' Maka beliau menjawab: 'Ini adalah pelaku bid'ah, pengikut hawa nafsu, ia ingin agar mazhabnya laku'." Perhatikanlah di sini, bagaimana Imam Ahmad mengaitkan alasan hukum tersebut dengan indikasi keadaan (qarinah haliyah) dan adanya iradah fasidah (keinginan yang rusak).

Jika kita meneliti seluruh kejadian secara seksama, akan tampak jelas bagi kita bahwa vonis tabdi' secara personal dijatuhkan berdasarkan indikasi-indikasi dan keadaan. Sebagiannya ada yang dijatuhkan secara langsung kepada orang tertentu, dan sebagiannya lagi tidak dijatuhkan kecuali setelah ditegakkan hujjah sesuai dengan keadaan orang tersebut.

Kesimpulan Masalah: Bahwa Salaf dan para imam membedakan secara global antara dua golongan manusia:

1. Seseorang yang bertolak dari prinsip pengagungan terhadap nash-nash syariat dalam seluruh bab agama, berpegang teguh pada atsar, dan tunduk menerima kebenaran. Akan tetapi, ia tergelincir pada suatu kesalahan yang menyetujui ahli bid'ah, atau melakukan takwil dalam masalah cabang (furu') atau suatu bab, atau datang kepadanya sebuah syubhat yang tidak mampu ia tepis. Maka orang seperti ini tidak langsung di-tabdi' sekadar karena terjerumus dalam kesalahan tersebut, melainkan harus dipastikan terpenuhinya syarat-syarat dan tidak adanya penghalang (mawani'). Oleh karena itu, para imam tidak men-tabdi' setiap orang yang keluar memberontak kepada Al-Hajjaj, tidak pula men-tabdi' Ibnu Khuzaimah, Qadhi Syuraih, dan seterusnya.

2. Seseorang yang bertolak dari prinsip-prinsip ahli bid'ah dan manhaj-manhaj mereka yang menyelisihi atsar, sementara ia mengetahui bahwa dirinya tidak berpegang teguh pada atsar. Maka orang inilah pelaku bid'ah yang sesungguhnya, karena ia mengingkari prinsip dasar dan merusak jalan (manhaj) tersebut.

Hal ini telah saya jelaskan secara terperinci dalam risalah saya: Tabsir Al-Khalaf bi Dhabith Al-Ushul Allati Man Khalafaha Kharaja 'An Manhaj As-Salaf (Mencerahkan Generasi Belakang tentang Batasan-Batasan Prinsip yang Barangsiapa Menyelisihinya Maka Ia Keluar dari Manhaj Salaf), serta dalam beberapa artikel...

Ditulis oleh Dr. Ahmad Muhammad Ash-Shadiq An-Najjar

Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, khamar, dan riba tanpa menyebutkan siapa yang melakukannya, maka hal tersebut adalah wajib berdasarkan keumuman dalil-dalil syariat.

Ketika seorang ustadz salafi menjelaskan kemungkaran kemaksiatan secara umum, seperti; zina, tidak amanah, minum khamr, menggunduli hutan, korupsi, suap menyuap dan contoh2 yg lain, tanpa menyebut nama pelaku dan siapa pelakunya, dan tanpa memprovokasi siapapun. Sebatas menjelaskan hukum sebagai bentuk peringatan kepada kaum muslimin.

Lalu ada orang ” mengomentari ustadz tersebut dengan memberi gelar: “merah jambu”

Itu orang ngajinya dmn sih?
Dia yg salah paham?
Atau ustadznya yg memang ngajari gitu?

Syaikh Ibn Baz rahimahullah menjelaskan:

أَمَّا إِنْكَارُ الْمُنْكَرِ بِدُونِ ذِكْرِ الْفَاعِلِ: فَيُنْكَرُ الزِّنَا، وَيُنْكَرُ الْخَمْرُ، وَيُنْكَرُ الرِّبَا مِنْ دُونِ ذِكْرِ مَنْ فَعَلَهُ، فَذَلِكَ وَاجِبٌ؛ لِعُمُومِ الْأَدِلَّةِ. وَيَكْفِي إِنْكَارُ الْمَعَاصِي وَالتَّحْذِيرُ مِنْهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يُذْكَرَ مَنْ فَعَلَهَا، لَا حَاكِمًا وَلَا غَيْرَ حَاكِمٍ.

“Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebutkan pelakunya, seperti mengingkari zina, khamar, dan riba tanpa menyebutkan siapa yang melakukannya, maka hal tersebut adalah wajib berdasarkan keumuman dalil-dalil syariat. Dan cukuplah mengingkari berbagai kemaksiatan serta memperingatkan manusia darinya tanpa harus menyebutkan siapa pelakunya, baik pelakunya seorang PENGUASA maupun BUKAN PENGUASA”

Sumber:
مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز (8/ 210).

Senin, 26 Oktober 2026

salah satu penyebab kebingungan sebagian penuntut ilmu Salafi pemula ketika menemukan perbedaan pendapat di antara para ulama adalah anggapan mereka bahwa termasuk konsekuensi dari manhaj Salafi adalah keseragaman perkataan para ulama dalam setiap permasalahan, padahal anggapan ini tidak benar.

معرف درر جزاه الله خيرا 

#خطر_في_بالي ...

أن سبب من اسباب ارتباك بعض السلفيين المبتدئين إذا ما وجد خلافا بين العلماء أنه يظن أن من لازم المنهج السلفي أن يتطابق القول بين العلماء في كل مسألة ، وهذا غير صحيح.

بل المنهج السلفي يلتزم فيه بسبيل المؤمنين ومتابعة الرسول صلى الله عليه وسلم، وقد يقع الاختلاف في الفهم والاجتهاد في مسائل من مسائل العلم بين العلماء، وهذا أمر طبيعي.
فإن قيل: أليس كل عالم سلفي يستدل بالقرآن والسنة وما جاء عن السلف؟

فالجواب :

نعم هو كذلك، ولايلزم من ذلك ألا يقع اختلاف في المسائل الاجتهادية التي ليس فيها الدليل الذي يلزم المصير إليه. ألا ترى إلى كتب السنة فيها مسائل اختلف فيها السلف ؟!

أليس في القرآن والسنة ما يدخله الاجتهاد والنظر؟!

فليس معنى الانتساب إلى السلفية أن لا يقع خلاف بين كلام العلماء في مسائل الاجتهاد.

وليس معنى السلفية أن لا يخطيء عالم ويصيب آخر.

وليس معنى السلفية أن تلزم باجتهاد عالم ما.، فإنه لا يجوز أن يقال يجب التزام قول عالم ما من علماء السلف في المسائل الاجتهادية، بل الواجب هو متابعة الرسول صلى الله عليه وسلم.

وبعض الناس إذا سأل العالم عن مسألة ثم وجد كلامه مخالفا لكلام عالم آخر بادر إلى إيراد كلام العالم الآخر، وسبب ذلك أنه لا يتصور أن يختلف العلماء السلفيين

وهذا خطأ بل يختلفون في مسائل الاجتهاد، التي ليس فيها دليل ملزم، وقد يتفقون.

المهم أنه ليس من اللازم أن يوافق كلام العالم في المسألة الاجتهادية كلام عالم آخر.
والله الموفق

كتبه محمد بازمول
https://www.facebook.com/share/p/1EFZhi9r8T/
Penerbit: Darar, semoga Allah membalas kebaikannya
#Terlintas_di_Pikiranku...
Bahwa salah satu penyebab kebingungan sebagian penuntut ilmu Salafi pemula ketika menemukan perbedaan pendapat di antara para ulama adalah anggapan mereka bahwa termasuk konsekuensi dari manhaj Salafi adalah keseragaman perkataan para ulama dalam setiap permasalahan, padahal anggapan ini tidak benar.
Justru manhaj Salafi itu berkomitmen untuk mengikuti jalan orang-orang beriman dan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Perbedaan dalam pemahaman dan ijtihad terkadang memang bisa terjadi pada sebagian masalah ilmiah di antara para ulama, dan ini adalah hal yang lumrah/alami.
Jika dikatakan: "Bukankah setiap ulama Salafi berdalil dengan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan atsar dari para salaf?"
Maka jawabannya:
Ya, benar demikian. Namun, hal itu tidak mengharuskan untuk tidak terjadinya perbedaan pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak memiliki dalil qath'i (pasti) yang mewajibkan untuk harus mengikutinya. Tidakkah engkau melihat bahwa di dalam kitab-kitab sunnah terdapat masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para salaf?!
Bukankah di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah terdapat hal-hal yang memerlukan ijtihad dan penelaahan?!
Oleh karena itu, makna bernisbat kepada Salafiyah bukanlah berarti tidak adanya perbedaan pendapat di antara perkataan para ulama dalam masalah-masalah ijtihad.
Makna Salafiyah juga bukan berarti seorang ulama tidak pernah salah dan ulama lainnya selalu benar.
Dan makna Salafiyah bukanlah berarti Anda harus terikat dengan ijtihad seorang ulama tertentu saja. Sesungguhnya, tidak boleh dikatakan bahwa wajib hukumnya untuk selalu terikat dengan perkataan seorang ulama tertentu dari kalangan ulama Salaf dalam masalah-masalah ijtihad, melainkan kewajiban yang utama adalah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sebagian orang, jika bertanya kepada seorang ulama tentang suatu permasalahan lalu mendapati perkataannya berbeda dengan perkataan ulama lain, ia langsung menyodorkan perkataan ulama yang lain tersebut. Penyebabnya adalah karena ia tidak dapat membayangkan jika para ulama Salaf bisa berbeda pendapat.
Ini adalah sebuah kesalahan. Justru mereka memang berbeda pendapat dalam masalah-masalah ijtihad yang tidak memiliki dalil yang mengikat, dan terkadang pula mereka sepakat.
Yang terpenting adalah, tidaklah menjadi keharusan bagi perkataan seorang ulama dalam masalah ijtihadiyah untuk selalu sejalan dengan perkataan ulama lainnya.
Wallaahu al-muwaffiq (Dan Allah lah yang memberi taufik).
Ditulis oleh: Muhammad Bazmul

akidah imam baghowi

BENARKAH “BILĀ KAYF” BERARTI ALLAH TIDAK MEMILIKI KAIFIYAH?

📚 BENARKAH “BILĀ KAYF” BERARTI ALLAH TIDAK MEMILIKI KAIFIYAH?

Sebuah penjelasan menarik dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) tentang ungkapan para ulama salaf:

أمروها كما جاءت بلا كيف

"Terimalah sebagaimana datangnya, tanpa mempertanyakan bagaimana kaifiyahnya."

Sebagian orang memahami ungkapan bilā kayf sebagai penafian keberadaan kaifiyah itu sendiri. Namun, bagaimana sebenarnya penjelasan Ibnu Taimiyah?

1. Imam Malik mengatakan kaifiyah tidak diketahui, bukan tidak ada.

Ibnu Taimiyah menegaskan:

ولم يقل مالك الكيف معدوم وإنما قال الكيف مجهول

"Imam Malik tidak mengatakan bahwa kaifiyah itu tidak ada, tetapi beliau mengatakan bahwa kaifiyah itu tidak diketahui."

📖 Al-Iklīl fī al-Mutasyābih wa al-Ta’wīl, hlm. 48.

https://shamela.ws/book/9220/44

2. Bilā kayf menafikan pengetahuan tentang kaifiyah, bukan hakikat sifat.

Dalam Al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, Ibnu Taimiyah menjelaskan:

فإنما نفوا علم الكيفية، ولم ينفوا حقيقة الصفة

"Sesungguhnya mereka hanya menafikan pengetahuan tentang kaifiyah, bukan menafikan hakikat sifat."

📖 Al-Fatwā al-Ḥamawiyyah al-Kubrā, hlm. 306.

https://shamela.ws/book/18381/131

3. Mengetahui makna tidak sama dengan mengetahui kaifiyah.

Ibnu Taimiyah mengatakan:

فلم ينف إلا العلم بكيفية الاستواء لا العلم بنفس الاستواء

"Maka beliau tidak menafikan kecuali pengetahuan tentang kaifiyah istiwa, bukan pengetahuan tentang istiwa itu sendiri."

📖 Majmū‘ al-Fatāwā, 13/310.

https://shamela.ws/book/7289/6949

4. Tidak mengetahui sesuatu berbeda dengan meniadakan keberadaannya.

Dalam Al-Ṣafadiyyah, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para imam menafikan pengetahuan makhluk tentang kaifiyah sifat Allah. Beliau kemudian membedakannya dari sebagian ulama belakangan yang menafikan keberadaan hal tersebut dalam kenyataan.

📖 Al-Ṣafadiyyah, 1/289.

https://shamela.ws/book/22874/307

🔎 Apa pelajaran pentingnya?

Dalam pembahasan ilmiah, kita harus membedakan:

- نفي العلم بالكيفية — menafikan pengetahuan tentang kaifiyah.
- نفي وجود الكيفية — menafikan keberadaan kaifiyah.
- نفي التكييف — tidak menetapkan atau menggambarkan bagaimana kaifiyah sifat Allah.

Ketiganya tidak otomatis memiliki pengertian yang sama.

Menurut penjelasan Ibnu Taimiyah, ungkapan salaf bilā kayf tidak berarti bahwa sifat Allah tidak memiliki hakikat, melainkan bahwa manusia tidak mengetahui bagaimana hakikat sifat tersebut.

Dengan demikian, menetapkan sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah tidak mengharuskan seseorang mengetahui atau menggambarkan kaifiyahnya.

Perlu dicatat pula bahwa Ibnu Taimiyah mengakui adanya perbedaan ungkapan di kalangan Ahlusunah mengenai persoalan kaifiyah. Karena itu, pembahasannya perlu dilakukan secara teliti dan tidak sekadar berdebat mengenai istilah.

Kesimpulannya:

الاستواء معلوم والكيف مجهول

"Istiwa itu diketahui maknanya, sedangkan kaifiyahnya tidak diketahui."

Bukan:

الكيف معدوم

"Kaifiyah itu tidak ada."

Setidaknya, demikianlah penjelasan yang secara eksplisit dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah dalam karya-karyanya.

Wallahu a‘lam.

#IbnuTaimiyah #Aqidah #AsmaWaSifat #BilaaKaif #IlmuIslam #KajianIlmiah
Ustadz noor akhmad setiawan

buah dari mendalami ilmu

atsari dan asy'ari