Senin, 07 September 2026

Al-Mubarakar bin Wadih bekerja sebagai seorang pekerja harian (buruh) di sebuah kebun. Suatu hari, pemilik kebun datang dan berkata kepadanya, "Aku ingin buah delima yang manis."

Al-Mubarakar bin Wadih bekerja sebagai seorang pekerja harian (buruh) di sebuah kebun. Suatu hari, pemilik kebun datang dan berkata kepadanya, "Aku ingin buah delima yang manis."

Ia pun pergi ke salah satu pohon dan mengambil buah delima, lalu pemilik kebun membelahnya dan mendapati rasanya asam. Pemilik kebun marah kepadanya dan berkata, "Aku minta yang manis, mengapa engkau bawakankan yang asam? Bawa kemari yang manis!"

Mubarakar pergi dan memetik dari pohon yang lain. Ketika membelahnya, pemilik kebun mendapatinya tetap asam. Kemarahannya pun makin memuncak. Ia melakukan hal tersebut hingga tiga kali, dan setiap kali dicicipi, rasanya tetap asam.

Pemilik kebun lalu bertanya kepadanya, "Apakah engkau tidak bisa membedakan mana yang manis dan mana yang asam?"

Ia menjawab, "Tidak."

Pemilik kebun bertanya, "Mengapa bisa begitu?"

Ia menjawab, "Karena aku tidak pernah memakannya sedikit pun sehingga aku tidak mengetahuinya."

Pemilik kebun bertanya lagi, "Mengapa engkau tidak memakannya?"

Ia menjawab, "Karena engkau belum pernah memberiku izin untuk memakannya."

Pemilik kebun merasa kagum dengan hal itu. Ia lalu mencari tahu kebenarannya dan mendapati bahwa perkataan Mubarak memang benar, sehingga kedudukan Mubarak menjadi sangat agung di matanya.

Pemilik kebun tersebut memiliki seorang putri yang telah dilamar oleh banyak orang. Ia lalu bertanya kepada Mubarak, "Wahai Mubarak, menurutmu siapakah yang pantas menikahi putriku ini?"

Mubarak menjawab, "Orang-orang jahiliyah memelihara pernikahan berdasarkan keturunan (nasab), kaum Yahudi berdasarkan harta, kaum Nasrani berdasarkan kecantikan, sedangkan umat ini (umat Islam) berdasarkan agama."

Pemilik kebun sangat kagum dengan kecerdasan akalnya. Ia pulang dan memberitahukan hal itu kepada istri (ibu dari putrinya), lalu berkata, "Aku tidak melihat ada suami yang lebih pantas untuk putri kita selain Mubarak."

Maka Mubarak pun menikahi wanita tersebut, dan dari pernikahan itu lahirlah Abdullah bin al-Mubarak, seorang imam dan Syaikhul Islam.

Wafayat al-A'yan karya Ibn Khallikan (3/33) Shadharat adh-Dhahab karya Ibn al-'Imad (3/362)