Kamis, 03 September 2026

fiqh rumah tangga


Halaman 16
[5] Pegang Teguh Kerahasiaan Demi Kebahagiaan Rumah Tangga
Ketika terjadi perselisihan di antara kalian berdua, jagalah kekompakan dan jangan sampai ada seorang pun yang mengetahui perselisihan kalian, terutama kerabat dekat. Keluarnya masalah dari rumah kalian kepada orang lain—meskipun kerabat dekat—termasuk penyebab terbesar rusaknya suasana rumah tangga, bahkan sering kali justru memperkeruh dan memperbesar masalah.
Jika masalah mendatangi kalian, selesaikanlah berdua dan saling memahamilah tanpa ada orang lain yang merasakannya. Menjaga rahasia adalah bagian dari amanah terbesar, sedangkan membocorkannya adalah bagian dari pengkhianatan terbesar. Tidaklah masing-masing pasangan mempercayakan rahasianya kepada yang lain melainkan ketika masing-masing menganggap pasangan sebagai tempat yang layak untuk dipercaya. Maka, akankah pantas baginya untuk mengkhianati dan membocorkan rahasianya?
Tidak selayaknya salah satu dari pasangan membocorkan rahasia pasangannya kepada orang lain, atau mengungkapkan kehidupan pribadinya, sebagaimana dikatakan oleh penyair:
> Seseorang yang memiliki kehormatan tidak boleh mengeluh kecuali kepada orang yang memiliki harga diri,
> yang dapat menghiburmu atau merasakan kesedihanmu.
Maka tidak layak bagi orang yang memiliki harga diri untuk menyebarkan rahasia kehidupan rumah tangganya, membagikan rahasia pasangannya, dan meremehkan ucapannya kepada orang lain.
Namun, tidak mengapa jika masalahnya sangat besar untuk menceritakannya kepada orang yang kalian percayai dari kalangan kerabat, agar mereka dapat memberikan solusi yang tepat bagi kalian berdua.
(1) Diwan Bashshar bin Burd (hal. 914).
Halaman 17
[6] Jika Salah Satu dari Kalian Marah, Hendaknya yang Lain Diam
Jika salah satu dari kalian marah dan emosinya mulai memuncak, hendaknya pasangan tidak membalasnya dengan hal serupa. Jika tidak, dua api akan bertemu dan membakar segala hal di dalam rumah dalam hitungan detik! Betapa banyak rumah hancur karena hal ini! Dan betapa banyak pasangan merasakan kepahitan akibat hal tersebut!
Kewajiban kalian berdua wahai pasangan suami istri ketika salah satu marah adalah: hendaknya yang lain diam dan tidak memotong pembicaraannya sampai ia selesai meluapkan ucapannya, kemudian baru ditindaklanjuti dengan permintaan maaf yang singkat.
Sebab, membalas ucapan orang yang sedang marah akan ia anggap sebagai bentuk pembungkaman, penghinaan, atau pelecehan terhadap dirinya, akibat meluapnya kemarahan dan buruknya suasana hati.
Maka hendaknya pihak yang lain tetap diam. Jika sudah selesai, sampaikanlah kata maaf. Setelah suasana tenang, barulah cari solusi atas penyebab masalah tersebut dengan penuh kedamaian.
Betapa indahnya wasiat Abu al-Aswad ad-Du'ali kepada putrinya ketika hendak diantar ke rumah suaminya: "Jauhilah rasa cemburu (yang berlebihan), karena cemburu berlebihan adalah kunci perceraian (cemburu berlebihan menyebabkan suami benci kepada istrinya). Berhiaslah, dan perhiasan terbaik adalah celak (ini bukan hanya untuk dilihat orang lain, melainkan yang utama adalah untuk suami). Pakailah wewangian (yang dapat menyegarkan jiwa dan menyenangkan hati). Dan jadilah engkau bagi suamimu seperti yang kukatakan kepada ibumu:"
> Maafkanlah aku jika terjadi kekhilafan dariku saat engkau marah,
> dan janganlah engkau berkata kasar saat aku sedang diselimuti emosi.
> Karena aku melihat cinta di dalam hati bagaikan rasa sakit,
> jika keduanya berkumpul, cinta tidak akan bertahan lama dan akan sirna.