Kalau Namanya Disembunyikan…
Bayangkan saya menulis begini:
“Ada seorang ulama yang menilai Imam al-Tirmidzi sebagai majhul.”
Kira-kira bagaimana komentar orang yang belum mengetahui siapa ulama tersebut?
Mungkin ada yang langsung berkata:
“Tidak paham ilmu hadis.”
“Berani sekali menilai Imam al-Tirmidzi majhul!”
“Belajar hadis dari siapa?”
“Jangan sembarangan menilai ulama besar!”
😄
Sekarang nama orangnya kita buka.
Ulama tersebut adalah Imam Ibn Hazm al-Andalusi.
Ibn Hazm memang dinukil pernah menilai Imam al-Tirmidzi sebagai majhul. Penilaian tersebut kemudian tidak diterima oleh para ahli hadis setelahnya. Al-Dzahabi bahkan menanggapinya dengan tegas:
«ثقة مجمع عليه، ولا التفات لقول أبي محمد بن حزم إنه مجهول»
“Al-Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah dan disepakati; tidak perlu diperhatikan perkataan Abu Muhammad Ibn Hazm bahwa ia majhul.”
Apa pelajarannya?
Bukan untuk merendahkan Ibn Hazm. Justru sebaliknya. Ibn Hazm tetap seorang imam besar dengan karya dan kontribusi keilmuan yang luar biasa. Tetapi kebesaran seorang ulama tidak membuat setiap penilaiannya harus benar.
Dan di sinilah menariknya.
Kalau nama “Ibn Hazm” disembunyikan, mungkin sebagian orang dengan mudah mencela orang yang mengucapkan penilaian tersebut. Tetapi setelah mengetahui bahwa yang mengatakannya adalah Ibn Hazm, tiba-tiba kita terdorong mencari konteks: mengapa beliau mengatakan demikian? Apakah informasi tentang al-Tirmidzi belum sampai kepadanya? Apa yang dimaksud dengan majhul? Bagaimana ulama sesudahnya menanggapi?
Nah, sikap ilmiah seperti itulah yang seharusnya diberikan kepada siapa pun, bukan hanya ketika kita mengetahui bahwa orang tersebut mempunyai nama besar.
Jangan sampai nama tokoh menentukan terlebih dahulu apakah suatu pendapat layak dipahami atau layak dihina.
Dalam tradisi ilmu, seorang imam dapat keliru dan kemudian dikoreksi oleh imam lainnya, tanpa harus kehilangan kehormatannya sebagai seorang ulama.
Karena itu, sebelum bertanya “siapa yang mengatakan?”, biasakan pula bertanya:
“Apa argumentasinya, apa konteksnya, dan bagaimana para ahli bidang tersebut menilainya?”
Nama besar layak dihormati. Tetapi ilmu tetap diperiksa dengan ilmu.
Ustadz noor akhmad setiawan