Selasa, 01 September 2026

Ketika Ulama Asy‘ari Meriwayatkan Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Ketika Ulama Asy‘ari Meriwayatkan Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Ada satu fakta menarik dalam tradisi sanad keilmuan Islam yang sangat layak untuk direnungkan. Syaikh Ibrahim Shalih Al-Husaini, Mufti Nigeria yang berhaluan Asy‘ari dan bertarekat Tijani, ternyata meriwayatkan Kitab At-Tauhīd dan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lainnya. Bahkan, beliau mencantumkan gelar Syaikhul Islam untuk pembangun dakwah Salafiyyah tersebut.

Hal ini terdokumentasikan secara resmi dalam kitab beliau, Tsimār Al-Jannah fi Al-Ijāzah bi Masyhūr Kutub As-Sunnah (halaman 198), sebuah karya tsabat (catatan sanad keilmuan) yang menghimpun rantai sanad dan ijazah keilmuannya.

Hal yang tak kalah menarik, jalur sanad tersebut bersambung melalui jajaran ulama besar Nusantara yang bermanhaj Asy‘ari dan bermadzhab Syafi‘i, yaitu:

- Syaikh Nawawi Al-Bantani
- Syaikh Abdussamad Al-Falimbāni 
- Syaikh Arsyad Al-Banjari

Fenomena ini memberi kita pelajaran berharga yang jauh lebih luas dari sekadar persoalan fanatisme kelompok.

Sejarah keilmuan Islam membuktikan bahwa tradisi ilmiah para pendahulu kita jauh melampaui sekat-sekat identitas masa kini. Para ulama terdahulu terbiasa membaca, mengkaji, meriwayatkan, dan mengambil manfaat dari karya ulama lain, meski terdapat perbedaan pandangan dalam masalah teologi, fikih, maupun manhaj.

Sanad mengajarkan bahwa transmisi ilmu dapat bertaut melampaui batas kelompok. Adab menuntun kita untuk tetap menaruh hormat kepada para alim ulama meski berbeda pandangan. Sejarah pun mengingatkan bahwa hubungan keilmuan antarulama sesungguhnya jauh lebih indah dan terbuka daripada narasi-narasi sektarian yang sering membuat berisik hari ini.

Sangat disayangkan, fenomena keilmuan yang indah ini sering kali tertutupi oleh kacamata kepicikan dan sentimen kelompok. Ketika fikiran tersumbat oleh fanatisme dan hati terbiasa dengan kebencian, kita menjadi gagap dalam membaca sejarah serta sulit menghargai khazanah para ulama lintas madzhab.

Pada akhirnya, sanad bukan hanya tentang siapa meriwayatkan dari siapa, tetapi juga tentang bagaimana ilmu mampu mempertemukan orang-orang yang berbeda tanpa harus menghapus perbedaan mereka. Di sinilah kita perlu belajar kembali dari keluasan dada para ulama terdahulu: berbeda dalam pandangan tidak harus berarti saling meniadakan, dan berbeda dalam manhaj tidak menghalangi seseorang untuk mengakui keilmuan orang lain.

NB. Foto dan sreenshot kitab saya ambil dari Syaikh Abul Barrā` Asy-Syinqīthi أبو البراء الشنقيطي
ustadz hafidin achmad 
https://www.facebook.com/share/17y9QFWwzC/