Tidak Memperbesar Masalah dari Ukuran Sebenarnya
Betapa banyak masalah kecil antara suami istri yang berubah menjadi kerumitan dan musibah. Bahkan sebagian besar masalah dan perselisihan awalnya sepele dan kecil, namun membesar dan menjadi rumit karena kurangnya kebijaksanaan dalam penyelesaiannya.
Bahkan sebagian suami atau istri ada yang membuat-buat masalah dari hal yang tidak ada sama sekali; baik karena prasangka buruk, hanya mendengarkan satu pihak tanpa pihak lainnya, atau menghakimi seseorang tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya.
Maka orang yang berakal, jika terjadi masalah, ia mampu membatasinya agar tidak membesar dan melebar, serta bergegas menyelesaikannya bukan malah memperkeruhnya.
Di antara sebab terpenting untuk membatasi dan mengecilkan masalah:
- 1. Berlindung kepada Allah Ta'ala dan memohon pertolongan-Nya untuk menyelesaikan dan mengakhiri masalah tersebut.
- 2. Bersetuju/Bermusyawarah (Istisyarah), yaitu dengan meminta nasihat kepada orang berakal, berpengalaman, bijaksana, dan paham masalah ketika menghadapi kesulitan. (Bait syair): Pendapat itu bagaikan malam yang gelap gulita sisi-sisinya, Dan malam tidak akan terang kecuali dengan hadirnya pagi. Maka gabungkanlah lampu-lampu pendapat para sahabat ke dalam Lampu pendapatmu, niscaya engkau mendapat tambahan cahaya.
- 3. Mencari orang terpercaya yang tulus memberi nasihat untuk curhat dan mengungkapkan keluh kesah serta masalah yang dialami. Sebab, mengungkapkan isi hati termasuk cara teragung untuk meringankan musibah dan menghilangkan bebannya dari hati. Salah seorang wanita berkata: "Sering kali aku tertimpa kecemasan serta masalah rumah tangga dan keluarga, maka aku segera menghubungi salah seorang saudari yang tidak pernah..."
Halaman 39
...aku pikirkan selain dirinya karena kelebihannya dalam mendengarkan dan menyimak secara baik. Ia tidak menambah nasihatnya kepadaku selain dengan bersabar dan mengharap pahala. Begitu aku menutup telepon, seluruh beban yang kurasakan telah sirna. Bahkan aku merasa nuraniku menyiksaku karena takut telah menggunjing orang yang aku keluhkan darinya. Maka jika aku bertemu dengannya, aku memohon agar ia memaafkan dan memaklumi aku!"
- 4. Sikap tenang, lemah lembut, meninggalkan tergesa-gesa, menjauhi kecerobohan, serta memikirkan dengan matang langkah-langkah yang akan diambil.
- 5. Tidak menyebarkan berita masalah tersebut dan tidak membicarakannya di majelis-majelis/forum umum.
- 6. Meremehkan/mengecilkan masalah dalam dirinya sendiri dan tidak memikirkannya secara terus-menerus. Ini adalah salah satu hal terpenting dalam mengobati masalah, kecemasan, dan tekanan hidup.
Kenyataannya, sebagian besar kesalahan—seberapa pun besarnya dalam pandangan kita—ketika disikapi dengan keobjektifan dan akal sehat, ukurannya tidaklah sebesar yang kita rasakan saat masalah itu terjadi. Namun, setan pada saat itu sibuk membesar-besarkan dan memprovokasinya, serta mengingatkan pada kesalahan-kesalahan lama dari pelaku kesalahan tersebut, sehingga ia hampir melihat kesalahan itu lebih besar dari gunung dan lebih pahit dari empedu.
- 7. Memberi kemungkinan bahwa kesalahan berasal dari dirinya sendiri, meskipun hanya sebesar 1%, sehingga ia mau mencari uzur (pemakluman) dan berprasangka baik.