Rabu, 02 September 2026

Kehidupan Pernikahan yang Bahagia


[Halaman 16]
Kehidupan Pernikahan yang Bahagia
5. Jagalah Kerahasiaan Demi Kebahagiaan Pernikahan
Ketika terjadi perselisihan di antara kalian berdua, berusahalah untuk menyelesaikannya bersama-sama dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahui perselisihan tersebut, terutama kerabat dekat. Keluarnya masalah rumah tangga kepada orang lain—meskipun kerabat dekat—termasuk penyebab terbesar keruhnya suasana rumah tangga, bahkan sering kali memperparah masalah.
Jika kalian ditimpa suatu masalah, selesaikanlah berdua dan saling memahami tanpa ada orang lain yang menyadarinya. Menjaga rahasia adalah bagian dari amanah terbesar, sedangkan menyebarkannya adalah bentuk pengkhianatan terbesar. Rahasia yang dipercayakan pasangan satu sama lain hanya memiliki nilai tinggi ketika masing-masing saling meletakkan kepercayaan. Apakah pantas bagi seseorang untuk mengkhianatinya dan merusaknya?
Jika salah satu pasangan terpaksa menceritakan rahasia kepada yang lain, atau mengungkapkan sesuatu dari kehidupannya, sebagaimana dikatakan oleh penyair:
> Seseorang yang memiliki kehormatan tentu membutuhkan tempat mengadu,
> seseorang yang dapat menghibur atau merasakan kepedihannya.
Maka tidak pantas bagi orang yang memiliki kehormatan untuk menyebarkan rahasia kehidupan pernikahannya, membagikan hal-hal khusus pasangan hidupnya, atau meremehkan ucapannya di hadapan orang lain.
Tidak mengapa jika masalahnya sangat besar untuk berkonsultasi dengan orang yang kalian percayai dari pihak kerabat, agar mereka dapat memberikan solusi yang tepat bagi kalian berdua.
(Catatan kaki: 1. Diwan Bashshar bin Burd, hlm. 914)
[Halaman 17]
Jika Salah Satu Marah, Hendaknya yang Lain Diam
6. Jika Salah Satu dari Kalian Marah, Hendaknya Pihak Lain Diam
Jika salah satu dari kalian marah dan emosinya mulai memuncak, hendaknya pihak lain tidak membalasnya dengan hal serupa. Jika tidak, dua api akan bertemu dan membakar segala yang ada di dalam rumah dalam hitungan detik! Betapa banyak rumah yang hancur karena hal ini, dan betapa banyak pasangan yang merasakan penderitaan pahit akibat hal ini!
Kewajiban kalian wahai pasangan suami istri ketika salah satu marah adalah: pihak yang lain diam dan menyimak hingga yang marah selesai berbicara, lalu tidak menyela kecuali dengan permohonan maaf yang singkat.
Sebab, membalas ucapan orang yang sedang marah akan dianggap sebagai upaya membungkam, menghina, atau meremehkannya akibat tingginya tingkat kemarahan dan suasana hatinya yang buruk.
Hendaknya pihak yang lain tetap diam. Setelah emosinya reda, sampaikanlah kata maaf. Lalu setelah beberapa waktu dari meredanya masalah, carilah penyebab masalah tersebut dan tawarkan solusi dengan penuh ketenangan.
Betapa indahnya wasiat Abu al-Aswad al-Du'ali kepada putrinya ketika hendak menikahkannya: "Jauhilah rasa cemburu (berlebihan), karena ia adalah kunci perceraian (cemburu berlebihan menyebabkan kebencian suami pada istrinya). Hendaknya engkau berhias (hiasan tidak hanya untuk orang lain, tetapi suami adalah orang yang paling berhak atasnya), bersolek dengan celak (yang dapat membuat hati senang dan tenteram), serta gunakanlah wewangian..." Sebagaimana kataku kepada ibumu pada suatu waktu:
> Maafkanlah aku jika engkau menuntut ganti rugi dariku,
> dan janganlah engkau berbicara saat aku sedang marah.
> Sesungguhnya aku melihat rasa cinta di dalam hati itu menyakitkan,
> jika keduanya berkumpul, maka cinta itu tidak akan bertahan lama dan akan sirna.