Kitab Syarh Mukaffirat adz-Dzunub (Penjelas Penghapus Dosa-dosa) pada gambar tersebut:
[BAGIAN 1 - HALAMAN DUA PULUH BEBERAPA]
٦ – المصائب والأمراض
6. Musibah dan Penyakit
Di antara karunia Allah Subhānahu wa Ta'ālā adalah menjadikan berbagai ujian, musibah, dan penyakit sebagai penghapus dosa-dosa hamba. Sabar menghadapinya memiliki buah yang banyak serta pemberian yang melimpah, di antaranya:
* Masuk Surga. Allah Ta'ālā berfirman:
> "Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan." (QS. Al-Mu'minun: 111)
>
Ibnul Qayyim berkata: "Barang siapa yang diciptakan Allah untuk Surga, maka hadiah-hadiah-Nya senantiasa datang kepadanya berupa hal-hal yang tidak disukai." (Al-Fawa'id hlm. 57)
* Pahala yang Sangat Besar bagi yang Tertimpa Musibah. Allah Subhānahu berfirman:
> "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)
>
Al-Auza'i berkata: "Pahala bagi orang-orang yang sabar tidak ditimbang dan tidak ditakar, melainkan ditumpahkan untuk mereka sekaligus." (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim 4/48)
[BAGIAN 2 - HALAMAN 58]
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit (atau penderitaan), melainkan Allah gugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya." (HR. Bukhari 5647, Muslim 2571)
>
* Musibah yang menghapus dosa dan mendatangkan pahala tidak disyaratkan harus berupa perkara-perkara yang sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa lelah, penyakit, kesedihan, penderitaan, maupun kesusahan—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu." (HR. Bukhari 5641)
>
(Catatan Bahasa): An-Nashab artinya rasa lelah, Al-Washab artinya penyakit.
Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini merupakan kabar gembira yang sangat besar bagi setiap mukmin. Sebab seorang manusia tidak lepas dari rasa sakit akibat penyakit, kecemasan, atau sejenisnya. Sakit jasmani maupun duka hati itu menjadi penghapus bagi dosa-dosa yang pernah ia perbuat." (Fathul Bari 10/108)
Ibnu 'Abdul Barr berkata: "Dosa-dosa dihapuskan oleh berbagai musibah, rasa sakit, dan penyakit, dan hal ini telah disepakati oleh para ulama." (At-Tamhid 23/26)
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya seorang muslim berjalan di tengah-tengah manusia tanpa memiliki satu dosa pun." Ada yang bertanya: "Bagaimana bisa?" Beliau menjawab: "Sebab musibah, batu yang membuatnya tersandung, duri yang menusuknya, serta tali sandalnya yang putus." (Syu'abul Iman 7/196)
[BAGIAN 3 - HALAMAN 59]
Beliau ﷺ juga bersabda:
> "Sesungguhnya seorang muslim diberi pahala atas segala sesuatu, hingga pada kemalangan yang menimpanya, putusnya tali sandalnya, serta barang yang hilang dari kantongnya lalu ia mencarinya namun merasakannya hilang." (Az-Zuhd karya Imam Ahmad hlm. 109)
>
* Ujian dan musibah yang menghapuskan dosa tidak hanya terbatas pada diri si penderita saja. Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Ujian akan senantiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anak-anaknya, serta hartanya, hingga ia bertemu dengan Allah tanpa membawa satu dosa pun." (HR. Tirmidzi 2399)
>
* Kesyukuran dan kesabaran atas musibah menjadi sebab ditingkatkannya derajat di Surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Sesungguhnya seorang hamba apabila telah ditetapkan baginya suatu kedudukan dari Allah yang tidak dapat ia capai dengan amal perbuatannya, maka Allah akan mengujinya pada jasadnya, hartanya, atau anak-anaknya, kemudian Allah membuatnya bersabar atas ujian tersebut hingga ia mencapai kedudukan yang telah ditetapkan baginya." (HR. Abu Daud 3090)
>
Al-Thibi berkata: "Dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwa ujian memiliki keistimewaan tersendiri dalam meraih pahala yang tidak dimiliki oleh amalan ketaatan biasa."
* Ujian merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Maka Dia akan menguji mereka." (HR. Tirmidzi 2396)
>
Hadis ini merupakan kabar gembira bagi seorang mukmin. Apabila ia tertimpa musibah, janganlah ia berprasangka bahwa Allah membencinya, melainkan bisa jadi itu adalah tanda kecintaan Allah kepadanya. (Syarh Riyadhis Shalihin karya Syaikh Ibn 'Utsaimin 1/259)