Minggu, 06 September 2026

Kitab Syarh Mukaffirat adz-Dzunub (halaman 60–62)

 Kitab Syarh Mukaffirat adz-Dzunub (halaman 60–62) pada gambar:
[HALAMAN 60]
 * Ujian merupakan tanda kehendak kebaikan dari Allah kepada hamba-Nya. Nabi ﷺ bersabda:
   > "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia akan menyegerakan hukuman/siksaan baginya di dunia. Namun, apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia akan menahan balasan dosanya hingga Dia menuntutnya secara penuh pada hari kiamat." (HR. Tirmidzi no. 2396)
   > 
   * Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata dalam penjelasan hadis ini:
     > "Manusia tidak lepas dari kesalahan, maksiat, dan kelalaian dalam menunaikan kewajiban. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia—baik pada hartanya, dirinya, maupun keluarganya, atau pada siapa saja yang terhubung dengannya—karena siksaan di dunia itu menghapuskan dosa-dosa. Jika hukuman disegerakan dan dikafirkan (dihapus) dosa-dosanya, maka hamba tersebut akan menemui Allah dalam keadaan tidak lagi memiliki dosa. Musibah dan ujian itu telah menyucikannya, hingga ketika ajalnya tiba, ia diperberat saat sakaratul maut hanya untuk menghabiskan sisa satu atau dua dosanya yang tersisa, sehingga ia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa. Ini adalah sebuah nikmat, karena azab dunia jauh lebih ringan daripada azab akhirat.
     > Sebaliknya, jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Dia akan menangguhkan hukumannya, mengulurnya (istidraj), melimpahkan nikmat kepadanya, serta menjauhkan bencana darinya hingga ia merasa sombong dan bangga—wal'iyadzubillah. Ia merasa senang dengan apa yang diberikan kepadanya, hingga akhirnya ia menemui Tuhannya dalam keadaan terbenam dalam dosa-dosanya, lalu ia diadzab di akhirat.
     > Ketahuilah bahwa membayangkan besarnya pahala akan meringankan beratnya ujian. Salafus Shalih kita sungguh telah meresapi hal ini; diriwayatkan bahwa ketika bagal milik Ibrahim al-Mu'afari terperosok hingga patah kakinya..."
     > 
[HALAMAN 61]
> "…kakinya patah, maka sahabatnya berkata: 'Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita datang kepada Allah dalam keadaan bangkrut!'
> Qais bin 'Iyad berkata: 'Saat-saat merasakan sakit akan menghilangkan saat-saat berbuat kesalahan.'
> Maka setiap musibah yang dahsyat dan berat
> Akan terasa ringan jika engkau mengharapkan pahala darinya.
> Di antara kesempurnaan rahmat, ilmu, dan hikmah Allah adalah: Dia mendatangkan ujian kepada hamba-Nya untuk membersihkan, memurnikan, dan menghapuskan dosa-dosanya, memอgkat derajatnya, serta menambah kebaikannya. Maha Suci Allah, Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
> Sungguh, berbagai peristiwa yang menimpamu telah mendidikmu,
> Sebagaimana emas murni disepuh sebelum dibentuk.
 * Musibah menghapuskan dosa-dosa, sedangkan Ihtisab (mengharap pahala) menambah ganjaran.
   * Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah berkata:
     > "Jika engkau tertimpa suatu musibah, janganlah mengira bahwa kesedihan atau rasa sakit yang menimpamu—bahkan meski hanya tertusuk duri—berlalu sia-sia. Justru engkau akan diberi ganjaran atasnya, dosa-dosamu digugurkan sebagaimana pohon menggugurkan daunnya. Ini adalah nikmat Allah.
     > Apabila seseorang menambah kesabaran itu dengan ihtisab (mengharap pahala dari Allah), maka pahalanya akan makin bertambah. Maka, kondisi manusia saat tertimpa musibah terbagi menjadi dua:"
     > 
[HALAMAN 62]
> * Terkadang seseorang teringat akan pahala ketika tertimpa musibah dan mengharapkannya dari Allah, maka ia mendapatkan dua faedah sekaligus: penghapusan dosa dan penambahan kebaikan.
> * Terkadang ia lalai dari hal ini karena dadanya merasa sesak, serta lupa akan niat ihtisab dan pahala di sisi Allah, maka yang ia dapatkan hanyalah penghapusan dosa-dosanya saja."
 * Apabila seorang hamba tertimpa musibah, hendaklah ia mengingat bahwa Allah itu:
   * Maha Penyayang (lebih sayang kepadanya daripada seorang ibu kepada anaknya).
   * Maha Mengetahui (terhadap kondisi hamba-hamba-Nya).
   * Maha Bijaksana (dalam menetapkan dan takdir-Nya).
   Serta hendaknya ia menghadirkan firman Allah Ta'ālā:
   > "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
   > 
[Masalah Pilihan/Masalah Ketujuh]
Sikap Manusia Ketika Tertimpa Musibah
Sikap manusia saat tertimpa musibah terbagi menjadi 4 tingkatan:
 * Murka/Jengkel (Assakhath): Ini terdiri dari beberapa bentuk:
   * Murka dengan hati: Menggerutu dan benci terhadap takdir yang Allah tetapkan padanya.
   * Murka dengan lisan: Seperti meratap, berteriak, dan mencaci-maki zaman/keadaan.
   * Murka dengan anggota tubuh: Seperti menampar pipi, merobek pakaian, menepuk dada, atau merusak barang (dan ini hukumnya haram).
 * Sabar (Ash-Shabr): Yaitu ia merasakan bahwa hal itu berat dan pahit untuk ditanggung, namun ia tetap menahannya dan tidak membenci takdir tersebut...