Hukum Membuat Patung Karnaval
Para ulama sepakat (ijma') bahwa membuat patung hukumnya haram apabila memenuhi 5 syarat berikut ini:
1. Berbentuk manusia atau hewan. Jadi kalau pohon²nan atau pemandangan tidak masalah.
2. Berbentuk utuh. Jika patung tersebut dibuat dalam kondisi yang mustahil untuk hidup seperti tanpa kepala, terbelah setengah badan, tanpa perut atau dada, maka tidak termasuk yang diharamkan.
3. Diletakkan di tempat terhormat. Bukan diletakkan di tempat yang biasa diinjak, direndahkan, atau disepelekan (seperti keset atau alas kaki).
4. Memiliki bayangan. Artinya berbentuk tiga dimensi (patung fisik).
5. Bukan mainan (boneka) untuk anak² perempuan.
Jika tidak memenuhi lima syarat di atas, maka hukumnya masih ada perbedaan pendapat (khilafiyah) di antara para ulama. Meski demikian, menghindari hal² tersebut tetap lebih utama.
Sumber: Majmu’ fatawa wa ar-Rasa’il, Karya Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani, hal. 213 - 214.
فَعُلِمَ أَنَّ الْمُجْمَعَ عَلَى تَحْرِيمِهِ مِنْ تَصْوِيرِ الْأَكْوَانِ مَا اجْتَمَعَ فِيهِ خَمْسَةُ قُيُودٍ عِنْدَ أُولِي الْعِرْفَانِ؛
أَوَّلُهَا؛ كَوْنُ الصُّورَةِ لِلْإِنْسَانِ أَوْ لِلْحَيَوَانِ.
ثَانِيهَا؛ كَوْنُهَا كَامِلَةً لَمْ يُعْمَلْ فِيهَا مَا يَمْنَعُ الْحَيَاةَ مِنَ النُّقْصَانِ كَقَطْعِ رَأْسٍ أَوْ نِصْفٍ أَوْ بَطْنٍ أَوْ صَدْرٍ أَوْ خَرْقِ بَطْنٍ أَوْ تَفْرِيقِ أَجْزَاءٍ لِجُثْمَانٍ.
ثَالِثُهَا؛ كَوْنُهَا فِي مَحَلٍّ يُعَظَّمُ لَا فِي مَحَلٍّ يُسَامُ بِالْوَطْءِ وَالِامْتِهَانِ.
رَابِعُهَا؛ وُجُودُ ظِلٍّ لَهَا فِي الْعِيَانِ.
خَامِسُهَا؛ أَنْ لَا تَكُونَ لِصِغَارِ الْبَنَانِ مِنَ النِّسْوَانِ.
فَإِنِ انْتَفَى قَيْدٌ مِنْ هَذِهِ الْخَمْسَةِ؛ كَانَتْ مِمَّا فِيهِ اخْتِلَافُ الْعُلَمَاءِ الْأَعْيَانِ. فَتَرْكُهَا حِينَئِذٍ أَوْرَعُ وَأَحْوَطُ لِلْأَدْيَانِ