Berikut adalah terjemahan dari teks tersebut:
Betapa butuhnya para penuntut ilmu saat ini untuk mempelajari rincian akidah Salaf, agar konsep-konsep tidak terbaur bagi mereka, sehingga pada akhirnya mereka justru berada di atas mazhab mutakalimun (ahli kalam) tanpa mereka sadari.
Sebagian ikhwah bertanya: Apakah orang yang menafsirkan firman Allah Ta'ala: [اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ] dengan qasada ila as-sama' (menuju/bermaksud ke langit)—seperti Al-Baghawi, Ibn 'Utsaimin, dan selain keduanya—sama dengan orang yang menafsirkannya bahwa kehendak-Nya subhanahu wa ta'ala berkaitan (terhubung) dengan penciptaan langit, seperti Az-Zuhaili dan selainnya?
Jawaban saya:
Hal ini mungkin membingungkan bagi orang yang belum memahami hakikat mazhab Ahlus Sunnah dalam bab sifat-sifat Allah, serta belum menguasai fondasi mazhab Asy'ariyyah. Ia mungkin mengira bahwa kedua ungkapan tersebut setara dari segi makna dan konsekuensi akidah, padahal kenyataannya tidak demikian. Penganggapan ini lahir dari ketidaktahuan terhadap hakikat kedua mazhab tersebut.
Penggunaan ungkapan al-qasd (menuju/bermaksud) jika keluar dari seorang Sunni, maka yang dimaksudkan adalah menetapkan fi'il ikhtiyari (perbuatan yang berdasarkan kehendak dan pilihan) yang berkaitan dengan masyi'ah (kehendak) dan kekuasaan Allah. Hal ini berbeda dengan ungkapan ta'alluq al-iradah (keterkaitan kehendak), yang merupakan istilah kalam untuk menjelaskan terjadinya bekas/akibat penciptaan dan terwujudnya pengkhususan hal-hal yang memungkinkan (al-mumkinat) bersamaan dengan pendapat tentang keazalian iradah, serta penafian berdirinya perbuatan-perbuatan ikhtiyari yang baru pada Zat Allah Ta'ala sesuai dengan cara yang ditetapkan oleh Ahlus Sunnah.
Setiap penuntut ilmu akidah Salaf yang memiliki latar belakang yang cukup tentang mazhab Asy'ariyyah—meski sedikit—pasti akan tertahan lama pada istilah #Ta'alluq (#Keterkaitan). Sebab, ungkapan ini berdiri di atas landasan kalam yang besar, yaitu penafian hulul al-hawadits (bertempatnya hal-hal yang baru) pada Zat Allah.
Yang dimaksud di sini bukanlah sekadar lafaz ta'alluq itu sendiri, melainkan bangunan pemikiran kalam yang menjadikan keterkaitan iradah sebagai tafsiran bagi pemunculan makhluk, disertai penafian adanya perbuatan ikhtiyari yang baru yang berdiri pada Zat Allah Ta'ala.
Istilah #Ta'alluq adalah alat kaum #Asy'ariyyah untuk mengosongkan #Perbuatan_Ilahi dari hakikatnya. Perbuatan menurut mayoritas mereka adalah at-ta'alluq at-tanjizi (keterkaitan riil/pelaksanaan) dari iradah dan kuasanya Allah terhadap hal-hal yang memungkinkan. Maka, mereka tidak menetapkan adanya perbuatan yang berdiri pada Zat Allah 'Azza wa Jalla, melainkan menjadikan perbuatan itu sebagai al-maf'ul al-ba'in (makhluk/ciptaan yang terpisah dari Allah) itu sendiri atau sekadar keterkaitan yang baru terjadi; dengan adanya perbedaan di antara mereka dalam masalah at-takwin (penciptaan).
Oleh karena itu, Ahlus Sunnah seperti Ibn 'Utsaimin rahimahullah dan selainnya yang menafsirkan "istawa ila as-sama'" dengan "qasada ila khalqi as-sama'" (bermaksud/menuju kepada penciptaan langit), mereka menetapkan perbuatan yang hakiki bagi Allah yang berdiri pada Zat-Nya. Sementara itu, pihak yang menafsirkan (istawa ila as-sama') dengan keterkaitan iradah tidak menetapkan perbuatan yang berdiri pada Zat Allah, melainkan mengembalikan seluruh perkara hanya pada sekadar keterkaitan sifat iradah dengan langit, di mana perbuatan itu dianggap sebagai makhluk itu sendiri.
Perbedaan ini sangat mendasar (bedehi) bagi para ahli spesialisasi di bidang ini dan tidak membuat mereka bingung.
Kesalahan dalam menafsirkan istiwa di sini terhubung dengan malapetaka akidah yang telah saya peringatkan dalam artikel saya sebelumnya—yang terdapat dalam tafsir-tafsir kalam dan ringkasan-ringkasan tafsir kontemporer.
Malapetaka ini tidak akan pernah mereka temukan jawabannya secara lurus sesuai dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah. Yaitu penafsiran mereka terhadap firman Allah Ta'ala: [إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ] bahwa penciptaan itu tidak terjadi dengan firman Allah yang baru dan hakiki, melainkan hanya dengan sekadar keterkaitan iradah dan kuasa-Nya. Hal ini mengkonsekuensi penafian bahwa Allah mengucapkan firman yang baru yang berkaitan dengan kehendak dan pilihan-Nya pada setiap penciptaan—sebagaimana yang ditetapkan oleh Ahlus Sunnah dari sifat-sifat ikhtiyariyyah. Hal ini juga mengkonsekuensi penafian perbuatan mencipta yang berdiri pada Zat Allah secara baru.
Bayangkan Anda menemukan tafsir-tafsir klasik seperti tafsir Al-Baidhawi yang bercorak kalam dan tafsir Ar-Razi, serta tafsir-tafsir kontemporer seperti tafsir Thantawi dan lainnya, beredar di tengah masyarakat dengan mengatakan bahwa pemunculan makhluk hanya terjadi dengan keterkaitan kuasa dan kehendak, bukan dengan firman-Nya "Kun" (Jadilah) pada setiap penciptaan.
Inilah hakikat mazhab mayoritas Asy'ariyyah dalam hal perbuatan-perbuatan Allah subhanahu, mereka tidak menolak lafaz "Kun", melainkan mengelatkannya (menakwilkannya) baik sebagai perumpamaan bagi cepatnya pelaksanaan kuasa dan kehendak tanpa ada penghalang, atau sebagai keterkaitan al-kalam an-nafsi yang azali, seraya menafikan sifat firman yang baru dan hakiki dengan suara dan huruf sesuai kehendak dan pilihan-Nya subhanahu pada setiap penciptaan.
Ditulis oleh Dr. Ahmad Muhammad Ash-Shadiq An-Najjar