Bagi saya, muara dan bobot utama dari sanad muta'akhirin sejatinya bersimpul pada peninggalan pesan Imam Ahmad rahimahullah:
طَلَبُ الإِسْنَادِ العَالِي سُنَّةٌ عَمَّنْ سَلَفَ
"Mencari sanad yang tinggi ('ali) adalah sunah yang telah ditempuh oleh para ulama salaf."
Proses pencarian sanad 'ali itulah yang sesungguhnya menjadi "madrasah ilmiah" penempa seorang penuntut ilmu.
Ketika melangkah mencari sanad yang tinggi, mau tidak mau seseorang akan berinteraksi dengan beragam karakter guru dan kawan, melintasi berbagai penjuru daerah, menyelami aneka mazhab, serta mendapati dinamika keadaan. Dari sana, ia tidak sekadar menimba teks, tetapi ditempa untuk bersikap inshaf (adil), menjaga adab, menghargai sesama, menyadari keluasan ilmu, terbiasa dengan perbedaan ilmiah, melatih kesabaran, merawat keistiqamahan, memupuk kerendahan hati, belajar menanti, hingga tahan menanggung kesusahan. Bukankah sebagian besar perselisihan di dunia Islam berakar dari mengikisnya kepribadian luhur ini?
Rihlah, kelana safar, waktu penantian di hadapan seorang syekh, duduk berjam-jam demi merampungkan beberapa lembar kitab, hingga perjalanan jauh hanya demi memetik segelintir riwayat, semuanya bukan sekadar "proses berburu jalur sanad". Itu adalah riyadhah dan pendidikan jiwanya. Sebab, kealiman seorang ulama tidak sebatas diukur dari tumpukan kitab yang dilahap atau panjangnya silsilah sanad yang dikantongi. Diri mereka dibentuk oleh panjangnya perjalanan, tempaan pergaulan, kedalaman sabar, kaya pengalaman, dan kematangan adab sepanjang jalan.
Imam Ath-Thabarani ditanya tentang banyaknya hadis yang beliau miliki. Beliau menjawab:
كُنْتُ أَنَامُ عَلَى الْبَوَارِي ثَلَاثِينَ سَنَةً.
‘Aku tidur di atas tikar selama 30 tahun.’”
Sungguh cerdas jawaban beliau, yang menegaskan bahwa keluasan ilmu beliau bukan hasil akhir berupa ribuan hadis, tetapi tiga puluh tahun proses yang berat di belakangnya.
Sebab itu, wajar jika ada yang memandang remeh sebuah sanad sembari berucap:
"Cuma begini saja?"
"Faidahnya sedikit."
"Tidak banyak yang didapat."
Memang demikian adanya jika yang dicari sebatas "asal punya sanad". Cobalah melangkah keluar dari zona nyaman untuk melacak sanad yang 'ali. Rasakan kesabaran bertalaqqi langsung di kediaman para ulama, bukan sekadar hadir saat ada majelis umum atau majelis qira'ah terbuka yang serba nyaman dan berpendingin udara.
Makin minim usaha yang dikerahkan, makin singkat rihlah yang ditempuh, makin tipis kesabaran yang ditempa, dan makin asing seseorang dari beratnya cobaan safar, makin sulit pula baginya mengecap hakikat pendidikan yang tersembunyi di balik perjalanan sanad.
Apalagi dengan adanya alat-alat modern, duh...
https://www.facebook.com/share/1BGpdJgNBD/